
Setelah kembali dari menara Altima, aku kembali membantu nona Heliet untuk mempersiapkan barang dagangannya, ketika aku sibuk melakukannya suara lembut memangilku dari meja kasir.
"Aksa, kita punya pengiriman," suara itu berasal dari wanita berambut merah bernama Margaret, sebelumnya dia di segel dalam sebuah tongkat sihir namun sekarang berkat guruku pengumpulan Odnya dipercepat hingga dia akhirnya memiliki tubuh menyerupai manusia.
"Padahal ini masih pagi, apa saat aku datang seseorang memesannya?"
"Entahlah kertasnya sudah ada di sini."
"Oh itu aku, saat hendak tutup kemarin seseorang datang kemari untuk memesannya," potong nona Heliet yang sedang merapikan kotak-kotak di ruangan sebelah.
"Begitukah, semuanya obat-obatan untuk penyembuhan luka."
Aku menerima secarik kertas itu lalu mulai menyusunnya ke dalam dua kotak kayu yang nantinya akan kukirim ke pelanggan, tak lama kemudian dua orang yang kukenal masuk ke dalam toko.
Keduanya adalah elf bernama Jun dan Hilda, mereka saudara kandung yang baru bergabung di guild.
"Selamat datang, apa yang bisa kubantu?"
"Yo Aksa, seperti biasa kau sangat sibuk."
"Ada orang yang memesan cukup banyak, apa kalian mau mengambil potion?"
"Aah, kami perlu 20 botol hari ini," kata Jun demikian.
"Guru?"
"Ada di balik rak, aku sudah menyiapkannya untuk kalian."
"Biar aku yang mengambilnya," kata Margaret bergegas pergi.
Jun dan Hilda memicingkan mata melihatku.
__ADS_1
"Kau menambah lagi wanita di sini? Aku iri," kata Jun yang segera mendapat sikutan perut dari adiknya.
"Ugh."
"Ceritanya panjang," balasku ragu-ragu.
"Memiliki banyak istri bukanlah masalah tapi alahkan baiknya kau segera menikahi mereka," balas Hilda.
"Ah tidak, hubungan kami tidak seperti itu... lagipula aku belum siap untuk mengurus mereka semua dengan penghasilan kecil," mendengar perkataanku nona Heliet sudah bersembunyi di balik meja selagi memandangku dengan mata mengkilap.
Kami bertiga hanya bisa tersenyum masam melihatnya.
Aku meninggalkan toko dengan tangan membawa kotak-kotak yang berisi potion penyembuh, di persimpangan jalan aku melihat sosok wanita sedang berjongkok melihat seekor kucing yang bersiaga padanya.
Wanita itu mengenakan pakaian kesatria yang sulit dilupakan oleh orang lain karena sedikit menggoda, rambut merahnya di kepang satu ke belakang yang menandakan ciri khas darinya. Jika kau melihat ke sampingnya ada sebuah pedang emas yang tergeletak di sana yang selalu ia bawa kemana-mana. Dialah Lesoria Floresta seorang kesatria suci dari kerajaan Elysium.
Kucing itu tiba-tiba lari saat aku mendekat ke arahnya.
"Kau harus menggunakan umpan untuk menangkapnya," atas pernyataanku Lesoria mendesah pelan.
"Aku tidak suka PHP-in kucing," katanya lemas.
"Jika begitu semoga beruntung."
Aku melanjutkan perjalananku kembali, tak kusangka Lesoria diam-diam mengikutiku dari belakang.
"Hari ini aku sangat nganggur."
"..."
"Aksa aku nganggur."
__ADS_1
"..."
"Nganggur loh, nganggur."
"Memangnya kau ingin aku mengatakan apa?" teriakku.
"Apa saja, misalnya ikutlah denganku aku perlu bantuanmu atau lainnya."
Wanita muda ini sangat merepotkan.
"Bagaimana jika kau membantuku mengangkat kotak ini?"
"Hoh, serahkan padaku," katanya tersenyum lebar.
Aku memberikan satu kotak sementara satu kotak lagi kubawa sendiri.
"Memangnya semua ini akan dibawa kemana?"
"Ke panti asuhan."
"Panti asuhan yang bangunan katedral di sana itu, aku takut untuk pergi ke sana."
"Kau Kesatria Suci kan?"
"Belakangan ini aku selalu berbuat dosa, aku mungkin tidak suci lagi."
"Kau tidur dengan seorang pria," aku menegaskan.
"Bukan itu maksudku, kemarin aku sangat lapar dan tanpa sengaja mencuri beberapa makanan di pasar."
"Oi, harusnya kau segera minta maaf dan membayarnya."
__ADS_1
Bukannya menyesal dia menjulurkan lidahnya selagi menutup satu matanya dengan jahil, kini aku khawatir dia akan kehilangan pekerjaannya dalam waktu dekat.