Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 148 : Pertarungan Akhir


__ADS_3

Aku mengayunkan pedangku untuk menciptakan bilah angin menerjang ke arahnya, di saat itu Cygnus pun melakukan hal sama hingga ledakan tak bisa dihindari. Di saat yang sama aku maupun dia kembali membenturkan pedang di udara.


Tanah terangkat ke atas membentuk potongan persegi akibat dari pertarungan kami, aku memukul wajahnya hingga dia kehilangan keseimbangannya, kuayunkan pedang dari atas dan.


Trang.


Sebuah percikan menyebar ke sekeliling kami berdua.


Bisa kulihat tangan Cygnus telah menyerupai tangan iblis, jadi ini kenapa mereka menyebutnya pengguna pedang iblis, setiap mana yang dihisap pedang ini dialirkan ke seluruh tubuh penggunanya selanjutnya merubah mereka menyerupai iblis.


Aku mundur menjaga jarak selagi terus memperhatikan wujud Cygnus, dari tangannya daging itu terus menyebar ke seluruh tubuhnya, wajahnya mulai menyerupai iblis biasanya.


"Haha, dengan ini aku tidak tak terkalahkan."


Dia menghilang dan muncul beberapa kali di dekatku.


Prang.. prang.


Bilah bercahaya hanya menjadi pemandangan satu-satunya yang bisa kulihat.


"Master di belakangmu."


Aku memutar pedang dari depan ke belakang hingga menghasilkan ledakan menggema saat menghantam permukaan tanah.


Sayang sekali dia mampu menghindarinya.


Ayunan pedang terayun ke arahku tepatnya mengenai bagian sampingku tentu itu tidak menghasilkan damage yang berarti padaku dan sebagai serangan balasan aku menebasnya hingga Cygnus terlempar ke belakang.


"Guakh... kenapa kau bisa begitu kuat?"


"Aku sudah bekerja keras soalnya."


Kuarahkan pendangku padanya lalu pedang yang mirip senjata dari dunia Mecha ini mulai merubah dirinya menjadi meriam, besi-besi mulai berputar bersamaan gear yang terus bergerak layaknya sebuah jam.


Bola-bola cahaya dari sekitar tersedot ke dalam meriam, di saat yang sama suara Sirius terdengar.


"Pengisian daya mencapai 50 persen, 80 persen, 100 persen, objek terdeteksi menunggu perintah."

__ADS_1


"Tembak."


"Ultimate Buster diluncurkan."


Sebuah tembakan cahaya raksasa menerjang ke arah Cygnus, ia sempat menahannya beberapa saat dengan pedang miliknya akan tetapi pedang itu hancur kemudian tubuhnya pun hancur melebur.


"Aaaaarggh."


Akibat serangan barusan itu menciptakan sungai besar dengan aliran lava panas, baik zirahku maupun tubuh Sirius kembali sedia kala.


Sirius melompat-lompat kegirangan.


"Lega sekali, sudah sejak lama aku tidak mengeluarkan kemampuan barusan."


"Nah Sirius, kau ini sangat kuat tapi kenapa kau kalah dengan Dewa Dewi jahat lainnya."


"Itu karena aku memakan makanan beracun dan kepalaku tiba-tiba pusing."


Sudah kuduga orang ini bisa dikalahkan dengan cara seperti itu. Mari kesampingkan hal itu untuk melihat pertarungan rekanku yang lainnya, mereka saling menukar serangan melawan jenderal terakhir.


Naula dan Liz melompat dari samping secara bersamaan untuk menyerang si pria itu, di saat yang sama Anastasia juga sudah siap dengan tekniknya.


"Spiral Blade."


Dibarengi hembusan angin yang membawa kelopak bunga sakura, tubuh jenderal itu di bawa ke atas dengan beberapa luka sayatan, ketika dia jatuh satu tebasan memotongnya menjadi dua bagian.


Dengan ini pertarungan sudah selesai, orang-orang dari kota kembang mulai bermunculan, mereka mengerumuni kami selagi memuji banyak hal.


Sungguh menyenangkan mendapatkan pujian seperti ini tapi masih ada satu hal lagi yang harus kami lakukan.


Aku melepaskan pakaianku lalu melompat ke dalam kanal, menggunakan sedikit sihir di bahwa kakiku aku mempercepat sedikit gerakanku untuk menyelam agar segera sampai, di dasarnya kutemukan sebuah bola kecil seukuran kelereng berwarna biru transparan.


Bola itu tampak bercahaya redup, dan saat aku melihat ke samping aku melihat bola mata yang sangat besar dengan warna emas, mata itu berasal dari mata seekor naga putih.


Dia tidak menyerangku atau melukaiku dia hanya diam memperhatikan sebentar sebelum akhirnya berenang menjauh.


Untuk sesaat itu momen yang menakutkan.

__ADS_1


Tanpa bertanya aku sudah tahu dia pasti naga Frena, hanya kebetulan aku bisa melihatnya di sini.


Sebelum aku kehabisan nafas aku kembali berenang ke atas dan Liz maupun Naula membantuku keluar dari sana.


Aku menunjukan bola yang kuambil hingga mata mereka terbelalak kaget.


"Apa itu?" bahkan untuk Anastasia dia juga tidak mengetahuinya.


"Bola ini sepertinya bisa membuat seseorang memiliki sihir air yang luar biasa, aku akan menyimpannya dalam sihir penyimpananku agar kota ini tidak diincar lagi."


"Kurasa itu ide bagus."


Beberapa hari setelahnya di luar kota aku menciptakan sebuah mobil terbuka, Naula, Liz serta Sirius sudah naik lebih dulu sementara aku saling bertatapan dengan Anastasia.


"Kau yakin tidak ingin pergi bersama kami?"


"Aku sudah menyukai kota ini, kurasa aku akan tinggal bersama penduduk lainnya di sini."


"Begitu."


"Semoga beruntung."


"Aah, kau juga."


"Lihat, aku memakai dalaman sekarang."


"Harusnya kau tidak usah menunjukannya," kataku lemas sebelum mengeluarkan kantong uang dan melemparkannya padanya.


"Ini?"


"Gunakan saja uang itu untuk membuka toko atau semacamnya, tanpa uang akan sedikit sulit bukan."


"Terima kasih."


"Selamat tinggal."


Aku naik ke kursi pengemudi lalu pergi meninggalkan kota tersebut, dari kaca spion tampak Anastasia membungkuk selagi melambaikan tangan ke arahku.

__ADS_1


Naula, Sirius dan Liz pun melambai sebagai balasan.


Dalam perjalanan, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang baru dan mengenal seperti apa mereka hidup, bagiku petualangan memang selalu menyenangkan meskipun ada rasa sakit mengikutinya kendati demikian selalu ada kebahagiaan juga yang tersembunyi di sana.


__ADS_2