Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 198 : Kepungan


__ADS_3

Di tempat lain Ayumi menendang pintu sebuah pondok dan lalu menemukan beberapa Oracle yang sedang melakukan pertemuan di sana, dia melompat ke atas meja selagi memegangi kedua pedang di tangannya sementara dua lagi tersarung baik di pinggangnya.


Dengan tebasan kilat dia mengayunkan pedangnya hingga kepala mereka berterbangan ke udara, dari leher yang terpotong suara aneh terdengar bersamaan darah yang meluncur bagaikan air mancur dan seketika seluruh tubuh itu roboh.


"Sial.."


Ayumi tampak kesal selagi membuang wajahnya, sudah lama dia mencari keberadaan dewa-dewi jahat akan tetapi selama itu pula tidak ada informasi yang dia dapatkan.


Apa yang yang sebenarnya terjadi? gumam Ayumi di dalam hati.


Dia dikirim ke dunia ini untuk mengatasi hal itu bahkan dia rela untuk tidak bersama Aksa yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri, ketika berbagai kekesalan menyelimuti dirinya anggota partynya yang terdiri dari Margaret, Cardina dan Meliana muncul dari belakang setelah mengalahkan seluruh penyihir di luar.


Meliana menyerahkan secarik kertas informasi pada Ayumi yang telah menyarungkan kembali pedangnya.


"Lihatlah ini."


Ayumi mengambil informasi itu lalu membaca kertas itu sesaat sebelum meremasnya menjadi bola kecil dan membuangnya.


"Jadi itu yang mereka coba lakukan, Cardina kita kembali ke wilayah Elysium... Aksa mungkin dalam bahaya."

__ADS_1


"Aku mengerti."


Di luar pondok Cardina merubah dirinya menjadi sosok naga putih yang dinaiki Ayumi dan Margaret sementara Meliana menggunakan sapu terbang seperti kebanyakan penyihir.


Dengan kecepatan penuh mereka menembus awan.


***


Aku yang terkena ledakan di dalam laut meluncur kembali ke atas untuk menantang dewi jahat yang mengatas namakan Ariesta.


"Sesuai yang kuduga, perlu lebih dari usaha untuk mengalahkan kalian bertiga."


"Master itu sangat kuat, sebaiknya kau berhati-hati," tambah Sirius akan tetapi Ariesta tersenyum lebar dan membalas dengan senang.


"Semua orang? Apa maksudmu?" jelas aku lebih tertarik dengan pernyataan itu."


Tepat saat tanda tanya muncul di kepalaku beberapa kristal berwarna merah melompat keluar dari kedalaman laut, ukurannya cukup besar dan terang tapi bukan hanya itu di dalamnya tampak beberapa orang yang tertidur.


Sirius dan Marine tak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


"Kau?" ucap Marine mendahului.


"Tepat sekali, mereka adalah dewa-dewi jahat yang sudah dibangkitkan kembali, aku mengalahkan mereka semua untuk melakukan ini... demi untuk mengalahkan kalian berdua."


Sekitar 8 dewa-dewi berada di dalamnya dengan masing-masing berjumlah seimbang antara wanita dan pria.


Sebelumnya aku sudah mengalahkan Dewa Jahat Hermias.


dengan menjumlahkannya termasuk Sirius, Marine dan juga Ariesta.


Maka 12 dewa-dewi sudah ada semuanya.


"Apa yang dia lakukan?" tanyaku, dan Marine menjawab.


"Pada dasarnya kekuatan kami diberikan oleh dewi secara langsung, kekuatan kami terbagi-bagi sesuai yang ditentukan namun sejujurnya kekuatan kami awalnya berasal dari satu, dan itu adalah.."


"Tepat sekali, kekuatan yang disebut Jam Tartarus yang melambangkan 12 waktu," saat Ariesta mengatakannya sebuah jam raksasa muncul di belakangnya, di belakang jam itu sebuah tengkorak memeluknya dengan tangan menunjuk layaknya sebuah jarum pada jam semestinya.


Kristal yang menyelimuti para dewa-dewi lain mulai berterbangan lalu meletakkan dirinya pada angka-angka semestinya.

__ADS_1


Kecuali angka 9, 12, 3 dan 6, semuanya tersedia.


"Pertarungan sebenarnya dimulai sekarang," ucap Ariesta tersenyum lebar.


__ADS_2