Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 163 : Tembakan Akhir


__ADS_3

Setelah mengalahkan 100 pasukan kerajaan sendirian, akhirnya raja dari kerajaan ini muncul, dia pria besar dengan zirah besi yang melambangkan kekuatan serta pedang besar di kedua tangannya.


Jika orang biasa hal itu sulit dilakukan, dengan kata lain kekuatannya sangat besar.


"Aku tidak akan memaafkanmu karena menghancurkan kerajaanku."


"Seharusnya aku yang mengatakan itu," kataku dengan tatapan dingin.


Dia menerjang ke arahku selagi mengirim tebasan dari kedua tangannya, aku menciptakan pedang untuk menahannya, hal itu, menciptakan percikan kembang api ke udara disusul kilatan cahaya yang melesat dari setiap pergerakanku.


Prang.


Pedangnya hancur setelah berbenturan dengan pedang milikku, aku menebaskan pedangku secara diagonal dan itu memuncratkan darah ke udara.


Bahkan setebal apa besi yang dia pakai, itu tidak bisa menahan emosiku. Aku menghilangkan kedua pedangku lalu melapisi tanganku dengan besi dan meninjunya tepat di dada, saat itu dilakukan terdengar bunyi tulang yang patah sebelum akhirnya Raja Aries terlempar dan sejajar dengan tanah.


Wajahnya yang penuh darah berteriak meminta tolong, termasuk pada Frena yang telah memanfaatkannya.


"Di mana kau Dewi naga Frena."


Dengan ringan aku mengeluarkan Frena dari dimensi yang kubuat hingga dia terduduk dengan wajah pucat. Berada di dalam dimensi milikku membuatnya kehilangan apa yang dibutuhkan seseorang untuk hidup, seolah kehampaan telah menelannya.


Aku bisa saja membunuhnya sekarang, namun aku akan merasa tidak enak pada Freya.


Ketika pandangan kami bertemu, Frena menangis.


"Tolong jangan kirim aku ke sana lagi, itu hanya neraka," mendengar itu Aries tampak gemetaran, dia mungkin sudah menyadari satu hal.


Orang di depannya bukanlah manusia, dia hanyalah malaikat pencabut nyawa yang menghukum setiap manusia yang berbuat dosa.


Aku mengelus rambut Frena.


"Itulah yang disebut keputusasaan, sekarang kau tidak perlu membenci manusia dan hidup seperti apa yang kau inginkan di menara Altima."

__ADS_1


"Aku mengerti."


Aku menggunakan sihir teleportasi untuk mengirimnya ke sana sebelum akhirnya kembali berjalan menuju Aries.


"Jangan mendekat, jangan mendekat."


Bersamaan itu, Labina yang merupakan anaknya muncul di depanku selagi membentangkan tangannya.


"Jangan bunuh ayahku, walaupun dia berbuat jahat dia pasti akan memperbaiki semuanya."


Aku menciptakan pistol di tanganku lalu menodongkannya.


Marine, bahkan ketiga anggota partyku muncul bersama para wanita yang ditahan olehnya, aku juga melihat para pelayan di belakang mereka.


"Jika kau tidak minggir, aku juga akan membunuhmu."


Tubuh Labina mulai gemetaran lalu memeluk ayahnya. Dengan sekali tarikan, bunyi letupan senjata api terdengar membunuh kesunyian.


Labina meneteskan air mata sementara aku tidak peduli dan berbalik berjalan pergi, saat mengkonfirmasi bahwa Aries telah mati, aku menciptakan lingkaran besar di atas istana.


"Hell of the Abyss."


Sebuah pilar api raksasa melenyapkannya tanpa bekas.


"Master?" Sirius berjalan ke arahku bersama yang lainnya termasuk Marine.


"Kita pergi, masih ada kerajaan yang harus kita hancurkan."


"Baik."


Naula tampak melirik ke arah Labina yang bersedih sebelum naik ke atas mobil yang kuciptakan.


"Master kenapa ada orang ini?" ucap Sirius mewakili kedua yang lainnya.

__ADS_1


"Sebenarnya Apolis-sama, maksudku Sirius-sama, aku juga telah mengikat kontrak dengan tuan."


"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi."


Aku memotong.


"Sirius apa kau ingat kenapa kau terkurung di gerbang kehampaan?"


"Ada seseorang yang meracuniku."


"Marine adalah orangnya."


"Jadi begitu, kalau begitu aku akan membunuhnya."


Dia terlalu polos.


"Uwaaah... jangan mencekikku, aku minta maaf, biarkan aku menjelaskannya."


Liz maupun Naula menunjukkan wajah bermasalah.


"Tuan Aksa, aku tahu bahwa tuan belum merasa puas denganku tapi membawa wanita lain ke kelompok kita.... itu?"


"Aku juga setuju."


"Aku tidak memperlakukannya sebagai wanita, dia hanya senjata."


Marine berteriak kesakitan.


"Haah... tuan sangat kejam, tolong injak dan hina aku lagi."


"...."


"...."

__ADS_1


Akhirnya mereka tahu apa yang kukatakan.


__ADS_2