
Beberapa hari kemudian sudah waktunya kami meninggalkan tempat persembunyian kami yang sekarang.
Karena akan sulit berpergian menggunakan kereta kuda kami memutuskan berjalan kaki, atau lebih tepatnya menelusuri jalan sepanjang pinggir sungai indah dimana kiri dan kanannya merupakan hutan yang rimbun.
Pekerjaan Naula untuk membagikan uang telah selesai dan sudah tidak ada alasan lagi untuk tetap berada di tempat ini, rumor-rumor tentang Black Death telah menyebar ke segala penjuru benua, siapapun yang berani mendirikan kerajaan atau kekuasaan mereka akan mati.
Sebuah ancaman yang cukup membuat semua orang ketakutan.
Seiring perjalananku banyak kerajaan yang telah lebih dulu mengundurkan diri dan memutuskan untuk menjadi penduduk biasa ataupun kepala desa.
Dengan ini mereka akan lebih mementingkan tempat mereka tinggal mulai sekarang.
Selagi memakan apel yang berwarna merah, aku memperhatikan ketiga wanita yang saling mengejar satu sama lain dengan senang.
"Kena Sirius, kau yang jaga."
"Kenapa aku harus jaga terus, sekarang gantian kau Naula."
"Tidak, peraturannya yang kalah harus jaga."
__ADS_1
"Aku tidak suka permainan ini."
Tak lama kemudian sebuah kota akhirnya terlihat, kota tersebut dikelilingi tembok tinggi dan terkesan sangat besar, menurut informasi kota ini disebut sebagai kota kembang bahkan sebelum memasuki kotanya kita akan disambut dengan hamparan bunga indah serta penjaga yang cukup ramah dimana pakaiannya juga terdapat pernik-pernik bunga.
Bunga tulip, bunga mawar, bunga melati dan sebagainya.
Kurasa dia cocok disebut manusia bunga.
"Selamat datang di kota kami, karena kerajaan sudah hilang kami sudah tidak memasang tarif masuk, akan tetapi mohon untuk tetap menjaga ketertiban serta keamanan selama berada di sini, silahkan."
Terlepas dari penampilannya dia pria yang baik.
Setiap rumah memiliki warna berbeda satu sama lain dan di depan perkarangan mereka semuanya dihiasi dengan berbagai bunga, setiap orang yang kami lewati terkadang melambaikan tangan mereka atau hanya sekedar menyapa.
Semua pemandangan memang masih terlihat seperti di abad pertengahan namun ini pertama kalinya aku melihat kanal-kanal luas ditempatkan juga di sini bahkan kami juga bisa menyewa perahu kecil untuk mengelilingi setiap rute terkenal.
"Bukannya ini luar biasa, mari cari penginapan tuan Aksa, akan lebih bagus jika kita hanya berdua di dalamnya," suara itu berasal dari Liz.
Jika kulakukan itu sama saja dengan masuk ke dalam kandang singa betina yang sedang masuk musim kawin.
__ADS_1
Hal itu jelas harus kuhindari.
"Karena masih siang, kita bisa jalan-jalan dulu sebentar."
"Pilihan bagus," kata Sirius yang mendapatkan anggukan Naula hingga membuat Liz menjatuhkan bahunya kecewa.
Aku mengeluarkan sekitar lima koin emas untuk berkeliling dengan gondola. Hampir setiap tempat yang kami lihat memang dipenuhi bunga.
"Apa kalian baru datang kemari?" tanya pemiliknya.
"Benar paman, kurasa ini kota yang damai."
"Menurutmu begitu, syukurlah.. saat masih menyatu dengan kerajaan kami dituntut untuk membayar pajak yang tinggi namun sekarang berubah, kami bisa menggunakan uang yang kami dapatkan sepenuhnya untuk kami sendiri sementara perbaikan kota dan yang lainnya seperti para penjaga kami kumpulkan lewat sumbangan setiap orang, sekarang kami merasakan bahwa kota ini benar-benar rumah kami sendiri."
"Begitu."
Aku hanya membalasnya dengan senyuman, setiap orang terlihat menikmati hidup mereka dengan bebas dan itu sudah cukup bagiku.
Perang hanya akan menciptakan peperangan lainnya dan disetiap peperangan akan menciptakan kebencian yang tak berujung.
__ADS_1
Tidak ada hal baik tentang itu.