Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 48 : Gelombang Monster


__ADS_3

Dalam beberapa tahun belakangan ini benua barat telah mengalami perubahan yang cukup drastis dimana telah terjadi invasi besar-besaran para monster. Mereka menyebutnya dengan gelombang.


Setiap kota kini menjadi tidak aman terlebih sebagian penjaga yang ditugaskan di setiap kota harus ditarik kembali ke ibukota untuk melindungi pemimpin mereka.


Yang membuat semuanya benar-benar mengerikan adalah para monster itu memiliki tahapan dalam menyerang, itu juga alasan kenapa mereka menyebutnya gelombang.


Pertama monster berukuran kecil, sedang dan kemudian besar yang menjadi bos mereka.


Jika melihat ini tidak aneh satu kota bisa hancur dengan mudah, aku memikirkannya ketika aku menyantap beberapa tusuk sate ke dalam mulutku.


Sepertinya Nicol sudah selesai dengan makanannya karena itulah, aku mengajaknya ke pemandian air panas yang ada di tengah kota, karena Nicol sedikit tidak bisa berbaur dengan orang baru kami mandi bersama setelah aku menyewa pemandiannya.


Aku membantunya untuk mandi dengan mengeramasinya dengan sampo.


"Aromanya harum."


"Aku membuat banyak sampo, kau bisa menggunakannya nanti sebanyak yang kau suka."


"Benarkah?"


"Aah."


Setelah membersihkan badan, aku mengajaknya ke sebuah toko jahit yang mana berbagai pakaian dipajang dengan baik.


Untuk pilihannya sendiri aku menyerahkan semuanya pada Nicol dan ia memutuskan untuk membeli pakaian pelayan.


"Kau yakin? Aku tidak memintamu jadi pelayan."

__ADS_1


"Tidak, aku ingin berguna untuk tuanku, aku akan mengurusi semua keperluan Anda, tolong izinkan aku melakukannya."


Membuat seorang gadis kecil menjadi seorang pelayan apa aku akan dituntut untuk ini nantinya. Karena melihat ekpresi senang di wajahnya aku tidak bisa menolaknya.


Hari belum terlalu sore jadi kuputuskan untuk ke luar kota secara diam-diam bersama Nicol, tepatnya di bagian dinding luar kota.


Menggunakan sihir melayang itu bukanlah hal sulit.


"Untuk apa kita datang ke sini tuan?"


"Aku ingin mengajarkanmu cara menggunakan senjata api."


"Senjata api?"


Aku menarik pistolku lalu menodongkan ke arah depan, di sana tampak seekor monster sedang mendekat ke arah kami, dan aku menembaknya hingga tumbang.


Aku menggelar tikar kemudian membongkar seluruh senjata apiku, sebelum menggunakannya aku akan menjelaskan berbagai bagiannya serta kegunaannya, aku juga akan mengajarinya cara merakitnya.


Walau sulit inilah cara termudah untuk bertahan hidup di dunia kejam ini.


Dua hari berlalu semenjak Nicol menggunakan senjata apinya, keakuratannya belum sempurna meski begitu dia sudah bisa mengenai target lebih dari 200 meter menggunakan Hecate.


Dari senjata yang aku tawarkan dia lebih menyukai tipe seperti ini.


Door.


Door.

__ADS_1


Door.


Bersamaan suara itu selongsong peluru meluncur ke udara dengan hentakkan keras.


"Bagaimana tuan?" tanya Nicol dengan senyuman lebar.


"Bagus sekali, untuk berjaga-jaga kau juga harus menyimpan pisau serta pistol di pahamu.


"Baik."


Setelah pelatihan kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalananku, di kamar penginapan aku mulai mengemas seluruh barang bawaanku lalu memasukannya ke dalam sihir penyimpananku, Nicol tidak bisa menggunakan sihir karena itulah aku juga turut memasukan barang bawaannya juga.


"Apa sudah semuanya?"


"Iya tuan."


"Apa senapan di punggungmu tidak ingin kau simpan juga?"


"Tidak tuan, senapan ini telah menjadi bagian diriku, apalagi ini juga hadiah dari tuan yang sangat berharga."


"Begitukah, mari pergi."


"Baik."


Sebelum kami menaiki motor ledakan terjadi ditembok bagian barat kota, dari sana tampak seekor raksasa mirip manusia muncul, tubuhnya di selimuti bulu dan hanya memiliki satu mata dan mulut, dengan kedua tangannya dia menghancurkan tembok tinggi itu lalu membuka mulutnya lebar-lebar hingga dari mulut itu keluar laba-laba kecil dengan jumlah banyak.


Apa ini yang disebut gelombang monster? Pertanyaan itu tak dijawab oleh siapapun.

__ADS_1


__ADS_2