Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 95 : Setelahnya


__ADS_3

Setelah mendapatkan ramuan dari Dewi Naga aku memutuskan kembali ke lantai pertama Arcana untuk berpamitan, selain itu aku juga harus membawa barang-barang yang lainnya juga.


"Maaf Natalie harus membuatmu repot."


"Tidak masalah, aku senang kalian sudah berhasil mencapai lantai 1000 dalam waktu singkat, tapi tak kusangka ada jalan tersembunyi seperti itu."


"Begitulah, sayangnya mereka mungkin tidak akan bisa masuk ke dalam menara ini lagi."


"Sayang sekali, meski begitu hari yang kuhabiskan bersama kalian sangat menyenangkan."


Aku tersenyum lembut ke arah Natalie lalu memasukan koper-koper yang sudah diberikan label nama Sirius, Richard, Kazel serta Vivia ke dalam sihir penyimpananku. Kebanyakan isinya hanya baju ganti dan beberapa majalah dewasa milik Kazel.


Dia harus membayar untuk ini.


Aku memberikan sekantong uang padanya.


"Dengan uang ini kau bisa memperbesar penginapan serta memperkerjakan beberapa karyawan."


"Aksa."


"Jaga dirimu baik-baik Natalie."


"Kau juga, salam untuk yang lainnya."


"Aah."


Aku pergi ke cafe untuk berpamitan sebelum akhirnya keluar dari menara Altima, di sana tampak anggota rekanku sedang duduk selagi menikmati teh dengan santai. Sirius melompat ke arahku.


"Master baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa."


"Kau lama sekali Aksa. kami sudah bosan menunggumu," kata Vivia memalingkan wajahnya sedangkan Richard berbisik ke telingaku.

__ADS_1


"Dialah yang paling mengkhawatirkanmu."


"Begitu."


Sirius memotong dengan nada datar.


"Padahal master sudah pergi ke benua barat untuk mencari kekuatan tapi aku malah tak bisa membantu di detik-detik akhir, tolong hukum aku."


"Ini bukan salahmu, oh yah kalian juga dapat salam dari Natalie."


"Aku sudah tidak bisa bertemu dengannya lagi," semua orang juga berfikiran sama seperti apa yang diucapkan Vivia lalu Kazel menepuk punggungku.


"Aku tahu kau akan berhasil Aksa."


"Sepertinya Dewi cukup menahan diri."


Semua orang tersenyum senang, aku mengeluarkan koper-koper yang sebelumnya kubawa dari penginapan.


Kazel langsung memeluk seluruh majalah yang dia miliki.


"Menjijikan," kata Vivia selagi menginjak kepala Kazel hingga jatuh ke bawah lalu beralih ke arahku.


"Sekarang bagaimana kita kembali?"


"Itu mudah."


Aku mengarahkan tanganku lalu seketika sebuah mobil muncul dari lubang hitam.


"Ini?"


"Hanya kendaraan sihir, naiklah."


Ketika semuanya duduk mobil kami mulai berangkat menuju kota Antares, sesampainya di gerbang kota aku segera menghilangkan mobilku dan kami semua berpisah, aku sempat menawarkan untuk dia tinggal di masion tapi Richard memilih untuk kembali ke penginapannya.

__ADS_1


Aku hanya bisa melihat punggungnya dari kejauhan.


"Mari pergi Sirius."


"Baik master."


Di dalam masion itu orang yang pertama menyambutku adalah guruku nona Heliet di susul Nicol lalu semua orang.


"Selamat datang kembali Aksa."


"Aku pulang."


"Ngomong-ngomong siapa gadis di sampingmu?"


"Namanya adalah Sirius, mulai sekarang dia akan tinggal di sini juga."


Selanjutnya guruku menangis selagi mengelap matanya dengan tisu.


"Aksa membawa wanita lain ke masion, jangan-jangan dia tidak akan menikahiku."


Seperti biasa guruku cukup merepotkan, setelah dijelaskan akhirnya semua orang mengerti. Tapi lebih dari itu hal yang ingin kukatakan lebih mengejutkan.


Aku segera menyodorkan buku harian Meliana ke arah nona Heliet setelah memberikan ramuan dari Dewi Naga Freya padanya.


"Aksa?"


"Meliana masih hidup."


Air mata jatuh dari wajah cantik guruku, itu adalah air mata kebahagiaan, dia menyeka dengan ujung jubah penyihirnya kemudian meminum ramuan tersebut.


Seketika kutukan kematian berbentuk bayangan hitam keluar dari tubuhnya lalu hancur seutuhnya di udara.


Dia menatapku selagi memiringkan wajahnya yang mana membuat rambut hitamnya bergoyang pelan.

__ADS_1


"Aksa terima kasih banyak."


......Untuk sesaat jantungku berdegup kencang.


__ADS_2