Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 343 : Akhir Pertarungan Di Kekaisaran Lihao


__ADS_3

Aku menembakan peluru dari pistol di tanganku dengan lingkaran sihir sebagai penopangnya, itu menghasilkan ledakan yang membelah udara dan langsung terhantam ke tubuh Beelzebub dengan kuat.


Dia terlempar beberapa kali ke udara meski begitu itu sama sekali tak menebusnya. Beelzebub membalasku dengan bilah hitam sebelumnya yang mana kuhindari dengan berlari mengelilinginya.


Aku mengambil beberapa peluru dari bajuku lalu memasukannya untuk mengisi pistol di tanganku. Peluru ini telah diperkuat dengan beberapa campuran kimia. Jika ini menggunakan senjata biasa itu akan membuat larasnya hancur dalam satu tembakan namun dengan senjata ini itu bertahan lima tembakan.


"Senjata yang tidak pernah kulihat sebelumnya, sudah jelas dewi yang pasti memanggilmu kemari."


"Siapapun yang memanggilku, bukan urusanmu."


Aku bersembunyi di salah satu bangunan dan itu hancur saat api hitam melahapnya dengan sebuah ledakan besar membuatku terpental beberapa meter jauhnya, setelah membuang pistol di tanganku aku menggantinya dengan Hecate II.


Memosisikan diriku tengkurap aku memasukan peluru ke dalamnya hingga itu memunculkan sepuluh lingkaran sihir dalam hitungan satu detik.


"Meski senjata terbilang biasa, aku tetaplah penyihir jadi ingat itu."


Blentang.


Suara memakkan telinga terdengar saat aku menarik pelatuknya, raja iblis menggunakan sihirnya untuk menahannya kendati demikian peluru itu menembus tangannya lalu menembus bangunan di belakangnya.


Aku bangkit untuk berlari saat bola hitam meledak di mana tempatku berada sebelumnya, kutembakan kembali Hecate II dan itu menghujani tubuhnya dengan mudah.


Sejak tadi dia menghindari organ vitalnya agar tidak terkenal seranganku, walau sepele raja iblis memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata.


Selepas membuang senjataku aku menggantinya dengan pisau belati, senjata ini lebih mudah digunakan untuk bertarung dari jarak dekat.

__ADS_1


Aku muncul di depannya tepat saat aku hendak mengayunkan pisau tersebut, sebuah tendangan tepat mengenai perutku membuatku terhempas puluhan meter menabrak apapun yang dilewatiku.


Darah menyembur dari mulutku tepat saat aku menempel di salah satu dinding bangunan.


Beberapa besi terbang lalu menembus lengan serta kakiku membuatku tak bisa bergerak. Sementara dia berjalan dengan santainya.


"Sekarang matilah."


"Kau terlalu percaya diri."


Tepat di bawah kaki raja iblis sebuah lingkaran raksasa muncul dimana dia menjadi pusatnya. Lingkaran sihir itu memiliki pola yang sangat rumit selain Magic Script aku juga menambahkan pola 12 rasi bintang yang masing-masing mewakili roh.


"Apa-apaan ini? Sejak kapan kau membuat ini."


Tepatnya malam hari aku membuat ini bersama Yu'er.


"Mustahil. Kau sudah memikirkannya sejauh ini dan memancingku kemari."


"Anggap saja ini menjadi kuburanmu selamanya."


Raja Iblis tertawa lalu menunjukkan tangannya ke arahku saat cahaya kemerahan menyemburnya dari bawah kakinya.


"Meski kau mengalahkanku saat ini, orang sepertiku akan terus bermunculan pada akhirnya, selalu ada raja iblis yang baru selama peradaban manusia masih berdiri di dunia ini dan mereka akan jauh lebih kuat lagi."


"Aku tidak peduli jika memang ada maka aku akan membunuhnya."

__ADS_1


"Matamu lebih mirip iblis sekarang, mungkinkah kau sendirian yang akan menghancurkan dunia ini, aku tak sabar untuk melihat apa yang akan kau lakukan nantinya."


"Jika itu benar maka aku akan menembak diriku sendiri."


Perkataanku membuatnya terdiam.


"Hell of the Abyss Total Annihilation," bersamaan perkataanku sebuah pilar api raksasa membungkus Beelzebub, pilar itu membakarnya hingga melelehkan bangunan apapun di sekitarnya lalu menembus langit sampai lapisan atmosfer dan akhirnya sampai di bulan.


Tubuh Beelzebub hancur menjadi serpihan debu sementara aku telah menggunakan seluruh kemampuanku termasuk manaku sendiri.


Chunhua dengan satu tangannya menarik setiap besi yang menembusku.


"Aksa jangan mati, Aksa?"


"Aku tidak mati."


"Syukurlah."


Dia memelukku dan itu malah lebih menyakitkan sampai akhirnya aku tertidur di bahunya.


"Aku sangat mengantuk."


"Kau sudah berjuang keras, tidurlah sebentar."


Aku menuruti perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2