Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 40 : Bersama Guild Master Ini


__ADS_3

Setelah mengalahkan beberapa goblin biasa aku berdiri di atas pohon selagi memegangi topiku agar tidak terbang.


Dalam berburu monster mereka tidak meninggalkan material atau kristal sama seperti binatang iblis melainkan kami harus mengambilnya secara manual.


Untuk goblin sendiri bisa ditukar setelah mereka memotong telinganya lalu menyerahkannya pada guild untuk ditukar dengan uang.


Mari kesampingkan hal itu untuk melihat bagaimana mereka mengatasi kesulitan yang mereka dapatkan, yang kumaksud adalah para gadis yang sebelumnya kutemui sebelum datang kemari.


Mereka sangat mengkhawatirkan, terlebih gerakan mereka bisa dibilang sangat amatir, hanya mengalahkan satu goblin itu memerlukan waktu yang sangat lama. Bahkan mereka masih ragu untuk membunuh.


Ketika mereka dikepung akhirnya kuputuskan untuk turun di depan ketiganya, pakaian mereka semua sobek-sobek hingga aku tidak tahu harus melihat ke mana, sebisa mungkin mereka menggunakan tangan mereka untuk menutupinya.


"Bukannya kau?" kata Lucia.


"Aku hanya kebetulan lewat."


Aku menggunakan pedang besar yang digunakan oleh Lucia untuk memotong tubuh goblin yang menyerangku, kemudian kususul dengan api untuk membakar sisanya.


"Ter-terima kasih," kata Claudine mendahului temannya.


"Jika semua orang melihat kalian, itu hanya akan membuat kesalahpahaman karena itu, untuk sementara kalian tinggal saja di tempatku."


"Apa yang akan kau lakukan pada kami?" suara itu berasal dari Lauren.


"Tidak ada, entah kenapa kalian sedikit mengingatkanku saat aku menjadi orang lemah, untuk lebih lanjut nanti akan kujelaskan."


Aku menggunakan sihir teleportasi dan kami berempat telah muncul di toko guruku, keduanya tampak terkejut.


"A-apa yang telah kau lakukan pada ketiga gadis polos ini?"

__ADS_1


"Apapun yang guru pikirkan sekarang semuanya tidak terjadi, lebih dari itu biarkan mereka mandi dulu dan pinjamkan mereka pakaian ganti."


"Baiklah."


Di saat Alyssa mengantarkan ketiganya ke kamarnya, aku menjelaskan seluruh peristiwa yang terjadi.


"Jadi begitu, kasihan sekali... sebaiknya kau mengajari mereka sedikit soal bertarung."


"Kenapa tidak guru saja?"


"Mana bisa, aku sibuk dengan tokoku lagipula aku sudah mengajari banyak hal padamu, bukannya sudah waktunya kau mengajari orang lain juga."


"Aku masih 15 tahun."


"Tidak masalah, bagiku Aksa adalah murid terbaikku.. kau bisa mempelajari seluruh sihir begitu cepat."


"Jika guru bilang begitu, aku akan bertanggung jawab untuk mengajari mereka."


"Biar aku yang memasak... aku akan menukar bayaran dulu ke guild lalu membeli bahan makanan."


Aku bergegas keluar toko menuju guild.


Di ruangan pribadi itu aku mengobrol berdua dengan Lulu.


"Bikin tegang."


"Apanya yang tegang?"


"Ah bukan apa-apa."

__ADS_1


Aku menyeruput tehku memenuhi tenggorokanku dengan minuman hangat.


"Bukannya sudah saatnya Aksa menceritakan apa yang terjadi? Aku mencium aroma tiga gadis di tubuhmu."


Air teh meluncur dari mulutku.


Wanita ternyata lebih menakutkan dari yang kuduga.


Pada akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi.


"Jadi begitu, sulit juga... aku tidak tahu alasan mereka hingga seperti itu, apa mungkin mereka membutuhkan banyak uang? Biasanya petualang amatir hanya akan mengambil quest yang sesuai dengan kemampuan mereka."


"Aku mungkin harus menanyakannya nanti.. oh yah Lulu soal masion itu bisakah kau mengantarku ke sana."


"Aku?"


"Um."


"Tidak, tidak, aku tidak berani, lagipula aku takut hantu."


"Ini masih siang aku tidak berpikir mereka akan muncul."


"Meksi kau bilang begitu."


"Begini saja, kalau kau menemaniku hari ini aku akan mengajakmu makan malam di toko."


"Apalagi yang harus ditunggu, ayo pergi."


Lulu menyeretku keluar bersamanya.

__ADS_1


Walau Lulu guild master, dia juga terkadang ikut betugas sebagai receptionis. Yang bisa kukatakan dia wanita yang bekerja keras.


__ADS_2