
Edward memasang wajah pucat.
"Ah, distrik satu, tiga dan enam sudah hancur, aku akan dipecat karena ini."
"Kurasa itu tidak mungkin," balasku singkat mengingat monster yang sedang kami coba kalahkan benar-benar mengerikan.
Setiap ular ditubuhnya menembakan sihir api yang tidak cocok dengan kemampuan sihir Liz yang cenderung es.
Naula melompat ke arahku dan Alyssa bersamanya juga.
"Kalian tidak membangunkanku."
"Aku tidak tega melakukanya."
"Aku marah."
Alyssa tetap imut bahkan saat dia mengembungkan pipinya.
"Kukira masalah ini akan cepat selesai tapi malah lebih buruk dari yang kuduga."
"Pastinya."
"Memangnya apa yang bisa anak kecil ini lakukan."
Alyssa menggigit kepala Edward.
"Sakit, sakit, dasar vampir saraf."
Aku mengabaikan keduanya dan melihat salju yang berjatuhan dari langit yang merupakan sihir dari Liz, karena ulah monster ini kami telah kehilangan keberadaan sosok Malifana yang masih misterius.
"Aku akan membantu Liz."
"Berhati-hatilah Aksa."
"Aah," kataku pada Naula.
Aku melompat dari rumah ke rumah untuk mendekat ke arah ular tersebut, ketika pandangannya teralihkan ke arah Liz kutembakan sihir tingkat atas.
"Hell of the Abyss."
Lingkaran sihir api muncul di atas ular tersebut kemudian jatuh bagaikan sebuah pilar yang mengerikan menyapu apapun di bawahnya.
Liz melompat ke dekatku.
__ADS_1
"Aksa memang sangat kuat."
Dia merangkulku.
"Ini bukan waktunya untuk melakukan ini Liz "
"Tak apa, aku akan selalu mencari kesempatan seperti ini."
Aku mengelus rambutnya dengan lembut, pertarungan belum berakhir jadi aku memintanya bersiaga. Api dan Es sepertinya tidak bisa memberikan pengaruh pada monster tersebut.
Tubuh ular yang terbakar berjatuhan ke bawah dan dari kepala manusia itu dia membuka mulutnya dan menyemburkan ratusan ular dari sana.
Aku bisa mengatakan itu terlihat sangat menjijikan.
"Abyss Break," kuciptakan batang-batang besi yang menyeruak dari dalam tanah kemudian mendorong tubuhnya ke atas langit.
Aku berkata pada Liz.
"Tolong mundur sebentar."
Dia mengangguk sebagai jawaban, bersamaan itu empat roh muncul dari sekitarku yang melambangkan roh angin, api, air dan tanah.
Mereka terlihat sangat cantik satu sama lain.
Keempat roh mengangguk kemudian aku mengarahkan tanganku ke atas hingga sebuah lubang tercipta di sana.
Yang kukeluarkan adalah senapan panjang yang disebut Railgun. Keempat roh terbang sejajar lalu berubah menjadi lingkaran sihir itu sendiri.
"Aku baru melihat ini semua," kata Liz kagum.
"Ini adalah sihir yang kubuat sendiri... dibandingkan membuat formula sihir dengan mana aku membuat sihir dari tubuh roh itu sendiri."
"Luar biasa, Aksa bisa dibilang setingkat dari Paladin ataupun Sage, tidak... bahkan dewa."
"Aku hanya manusia biasa Liz."
Kuarahkan Railgun dengan satu tangan sejajar dengan lingkaran sihirnya.
Sementara ular itu berusaha meloloskan diri dari batang besi kutembakan Railgun ke dalam empat lingkaran yang berbeda hingga dari sana cahaya ditembakan seperti laser raksasa menghantam tubuhnya secara langsung kemudian meledak dahsyat.
Getaran di tanah terasa semakin kuat dan orang-orang di bawah hanya bisa menengadah untuk menyaksikan ledakan api yang bagaikan cahaya matahari tersebut.
Liz melompat ke arahku saat Railgun maupun para empat roh memudar menjadi cahaya, aku melingkarkan tanganku di pinggangnya yang sempit.
__ADS_1
"Terima kasih," kataku melihat para roh yang hanya melambaikan tangannya ke arahku dan menghilang.
Orang-orang di kota mulai membersihkan puing-puing bangunan termasuk orang-orang yang terbunuh, bagi penjahat yang masih hidup mereka akan di data dan menunggu keputusan kerajaan.
"Kau memang hebat."
"Aku sedikit menyesalkan dengan kota yang kau jaga, paling tidak akan kusembuhkan dirimu."
Aku mengarahkan tanganku ke arah Edward yang bisa duduk bersandar pada tembok.
Aku memperbaiki tulang rusuknya, bagian lukanya serta memulihkan energinya.
"Terima kasih... seharusnya kau jadi kesatria saja."
"Sudah banyak orang yang mengatakan itu termasuk Vermilion."
"Wanita itu cukup cantik bukan."
"Aku tidak bisa menyangkalnya, orang yang tadi, tidak akan menyerang kota ini lagi lalu bagaimana denganmu sekarang?"
"Aku sudah cukup tua dan lelah untuk melakukan tugas kesatria kurasa aku akan mengambil pensiun dan hidup bersama istri dan anakku di desa."
"Itu jauh lebih baik."
Edward mengambil rokok dari bajunya, dia tidak menyalakannya melainkan hanya mengigitnya di mulut.
Aku menjentikkan jari untuk menyalakannya.
"Kuharap kau bisa berhenti merokok."
"Aku akan mencobanya, berhati-hatilah saat di sana."
"Aah."
Aku berbalik untuk mengikuti anggota partyku yang sudah menungguku di atas kereta.
Naula yang membawa kereta sementara aku, Liz dan Alyssa duduk bersama barang muatan.
Kami harus mencari Malifana tapi sebelum itu kami ingin pergi di mana para muridku tinggal.
Lucia, Claudine dan juga Lauren, sebelumnya mereka pernah tinggal di kota Antares dan kami pernah bersama-sama mengalahkan goblin.
Kereta mulai bergerak untuk memasuki wilayah kerajaan Animalia.
__ADS_1