
Setelah aku mengatakannya, Ruri berdiri terkejut, aku bisa melihat seluruh tubuhnya yang telanjang karena itu aku menariknya untuk berendam kembali.
"Mustahil, kenapa harus Onii-chan yang mengambil tanggung jawab berat seperti itu?"
"Sebenarnya aku sendiri yang ingin melakukannya kalau bisa rahasiakan ini dengan yang lainnya."
"Tentu saja aku tidak akan mengatakannya bahkan pada nona Vermilion."
"Kenapa kau menyebutkan nama itu?"
Ruri tampak mengalihkan pandangannya dariku namun tanpa dikatakan pun sosok yang dimaksud pun muncul setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Kejutan, saat aku tahu kau akan datang ke sini aku juga memutuskan mampir untuk liburan. Ini yang namanya takdir haha."
"Pakai duku pakaianmu sana."
"Di manapun kalau mandi harus telanjang."
Dia mengabaikan permintaanku lalu mengambil tempat di sampingku untuk berendam.
Biasanya Vermilion menanta rambut pirangnya menjadi bergaya twintail tapi sekarang dia mengikatnya bergaya ekor kuda.
"Nnn... apa ini? Ah, ah, ini sangat nyaman.."
Dia sengaja melakukannya.
Aku tahu apa yang akan dikatakannya sekarang padaku ini pasti soal kesatria.
__ADS_1
"Maukah kau bergabung dengan kesatria kerajaan, aku perlu orang sepertimu di dalam unitku."
"Seperti yang kukatakan aku menolak."
Vermilion melilitkan tangannya di leherku.
"Kau yakin? Kita bisa berduaan setiap saat di kantor."
"Curang sekali nona Vermilion, aku juga ingin melakukan itu."
Aku mengaktifkan sihir [Mind Protection] untuk mencegah diriku kehilangan kendali, dengan ini aku bisa menenangkan hati dan pikiranku.
Syukurlah aku mempelajari ini sebelumnya walaupun awalnya aku ingin menggunakannya untuk berjaga-jaga saat berhadapan dengan guruku.
"Tidak berhasil."
"Coba lebih keras lagi."
"Aku menggunakan sihir untuk mengendalikan emosiku, sekeras apapun kalian berusaha, tidak akan bisa menggodaku."
"Apa?"
Keduanya berteriak di waktu bersamaan.
"Kalau begitu aku duluan."
"Tunggu."
__ADS_1
Efek dari sihir ini hanya berlangsung selama beberapa menit, sebelum habis aku lebih baik segera keluar dari sini.
Meregangkan otot-ototku yang kaku, aku menatap perkarangan mansion milik Ruri di mana para pelayan sedang membersihkannya pagi-pagi sekali.
Vermilion yang pergi untuk berolahraga muncul dengan pakaian khususnya yang terlihat ketat.
"Semua orang selain kita masih tertidur, mau ikut sebentar berolahraga."
"Jika kau tidak keberatan, mari pergi."
"Bagus."
Kami berlari di sepanjang pantai tanpa mengenakan alas kaki, sekitar dua puluh kali bolak balik kami baru berhenti dan duduk di batang pohon selagi melihat pasir putih yang dibawa oleh air laut yang tenang.
"Jika kau masih berfikir aku akan bergabung dengan pihak kesatria jawabannya tetap sama."
"Hal itu bisa dibahas nanti saja, aku ingin membahas soal yang lain... walau kau berusaha menyembunyikannya aku tahu bahwa kau yang menghancurkan seluruh kerajaan di Benua Utara, yah meskipun semua orang tampaknya menyembunyikannya."
"Beritanya sudah tersebar kah."
"Begitulah tapi cuma aku yang tahu sih, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Tujuanku masih sama, membunuh naga Fafnir kemudian mengalahkan siapapun yang mengancam kedamaian dunia ini."
Vermilion menahan rambutnya agar tak tertiup angin sebelum berkata.
"Jika kau membutuhkan bantuanku jangan sungkan untuk mengatakannya lagipula tujuan kita sama... sebelum aku bergabung ke kerajaan aku tinggal di sisi perbatasan kerajaan ini, sayangnya saat ketiga fraksi memulai peperangan hanya aku yang berhasil selamat dari desa, saat itu aku memutuskan ingin melindungi banyak orang dengan tanganku sendiri agar kejadian yang sama tidak terulang lagi meski begitu aku tetap tidak bisa menyelamatkan semuanya."
__ADS_1
Aku bisa mengerti apa yang ingin dikatakan Vermilion, semua yang diinginkannya hanyalah bentuk keegoisan miliknya.
Bahkan ketika kami berdua mengobrol, di luar sana orang-orang masih terbunuh dengan peperangan manusia, naga dan iblis.