Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 66 : Astral Blade


__ADS_3

Lisa mengayunkan pedang kembarnya setelah serangan Tiffany berhasil digagalkan Hermias, di waktu yang sama Carrot juga melemparkan tebasan dari tangannya.


Seperti yang kuduga kekuatan Dewa Jahat tidak bisa diremehkan begitu saja, tangan Hermias mencengkeram wajah Lisa lalu melemparkannya ke salah satu bangunan hingga menghasilkan ledakan besar.


"Beraninya kau melakukan itu pada Nee-san."


Boby mengunakan perisai di tangannya untuk mengirim api dari sana, meski begitu Hermias menyerap api tersebut lalu mengembalikannya kembali dua kali lipat menerbangkan tubuh Boby ke udara.


Tiffany dan Carrot pun berhasil diatasi dengan mudah.


"Kita semua akan mati jika terus begini," ucap Greed padaku.


Nicol menggunakan senapannya dan itu juga tak berhasil.


"Hey Greed, kita hanya bisa mengandalkan itu, apa kau akan ikut?"


"Sepertinya tidak ada jalan lagi haha."


"Apa yang kalian katakan?" tanyaku kebingungan.


"Walau singkat terima kasih telah membawaku berpetualang Aksa."


"Aku juga cukup senang bocah, tapi apa boleh buat."


"Tunggu, sebenarnya apa yang akan kalian lakukan?"


"Kami akan memanggil Astral Blade, dengan itu kau pasti bisa membunuh dewa sekalipun."


"Jangan bilang bahwa kalian akan mengorbankan nyawa kalian."


Greed tertawa lalu melanjutkan.

__ADS_1


"Mengorbankan, setelah menjadi dosa mematikan seperti ini.. aku dan Lust sebaiknya tidak perlu ada di dunia ini, yah... senang mengenalmu."


"Kalian."


Lust berkata ke arah Nicol.


"Nah gadis manis, bisakah kau mengulur waktu sebentar untuk kami."


"Baik."


Nicol melempar senapan untuk menggantinya dengan pisau dan pistol lalu melesat bersama yang lainnya melawan Hermias.


"Aku tidak bisa membiarkan kalian berdua mati begitu saja, aku..."


Greed memotong.


"Kau ini terlalu serakah Aksa, kau tidak mungkin bisa menyelamatkan semua orang, tapi aku tidak membencinya," bagaimana menurutmu Lust?"


"Aku setuju denganmu Greed, tapi kurasa suatu hari kau akan menjadi orang hebat."


Ini pertama kalinya aku melihat keduanya dalam bentuk seperti itu, Greed terlihat seperti pria keren dan Lust wanita yang menawan.


Keduanya menciptakan sihir di telapak tangan mereka kemudian sebuah gerbang raksasa muncul di depan keduanya, di sisi gerbang itu terdapat dua tangan raksasa yang mencengkeramnya serta di atasnya sebuah jam raksasa sebagai hiasan.


Bersamaan rantai yang melilit gerbang tersebut hancur, tubuh Lust dan Greed mulai menjadi butiran cahaya.


"Mulai sekarang kau tidak akan terkalahkan, raih apapun yang kau sukai haha."


"Greed."


Sekarang giliran Lust yang berkata ke arahku.

__ADS_1


"Walau begitu kau juga harus bersenang-senang, bermainlah dengan beberapa wanita, kau pasti akan menyukainya."


"....."


"Selamat tinggal," keduanya berkata di waktu bersamaan.


"Selamat tinggal, terima kasih."


Keduanya lenyap begitu saja.


Dari balik gerbang yang terbuka itu sosok wanita berambut pirang muncul, ia miliki rambut pirang panjang serta sebuah sayap besi yang membentang dari punggungnya.


Matanya berwarna lapis lazuli dengan tubuh ramping yang ditunjang dengan dada besar tanpa cacat sedikitpun, kulit putihnya yang seputih salju itu terekspos tanpa tertutup kain sedikit pun.


Dia terbang ke depanku lalu berkata.


"Apa Anda masterku?"


Untuk sesaat aku hanya bisa diam terpesona akan sosok tersebut.


"Apa Anda masterku?"


Ia memiliki suara lembut namun intonasinya datar seolah tubuh itu tidak memiliki jiwa sedikitpun, saat gerbang itu menghilang semua orang tampak terkejut bahkan Hermias lalu menerjang ke arahku.


"Tak akan kubiarkan."


Selanjutnya.


Aku berdiri membelakangi Hermias dengan sebuah pedang besar di tanganku, jika dibilang pedang biasa itu mustahil karena pedang ini lebih mirip seperti pedang yang berasal dari dunia mecha atau sejenisnya.


"Guakh."

__ADS_1


Darah menyembur dari mulut Hermias bersamaan tubuhnya yang tumbang tak bernyawa.


"Akulah mastermu."


__ADS_2