Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 162 : Penjara Para Wanita


__ADS_3

Di dalam ruangan gelap itu, Liz, Naula dan Sirius tersadar dengan kedua tangan mereka terikat oleh rantai dalam posisi berdiri.


Jika diperhatikan bukan hanya mereka saja, akan tetapi puluhan wanita lain juga berada di sel penjara lainnya.


Liz berkata ke arah keduanya yang sesaat telah sadarkan diri.


"Kalian baik-baik saja?"


Sirius yang lebih dulu membalas selanjutnya disusul Naula.


"Ugh... di mana ini?"


"Sepertinya kita tertangkap."


"Kita lengah."


Dari sel yang tertutup muncul seorang wanita dengan cambuk di tangannya, ia mengenakan pakaian terbuka dari kulit serta penutup mata.


"Akhirnya kalian sadar juga, aku adalah pemberi hukuman di sini, mari bersenang-senang."


"Maaf, tapi aku hanya ingin melakukan hal memalukan dengan master."


"Kau akan menyukainya denganku juga."


Naula mendesah pelan lalu berkata.


"Jadi kenapa kalian menculik kami?"

__ADS_1


"Kami ingin menjadikan kalian sandera demi mengalahkan Black Death."


"Kalian benar-benar bodoh, itu hanya membuat tuan kami semakin marah, kuperingatkan, dia lebih mengerikan dari yang kalian bayangkan, dia bisa membumi hanguskan tempat ini dalam sekejap, benar kan Sirius?"


"Benar, padahal master dulu orang yang manis."


"Tutup mulut kalian, pertama aku aku akan menyiksamu gadis perak."


Wanita itu hendak mengirimkan cambuk ke arah Liz sayangnya kakinya tiba-tiba saja membeku lalu menjalar ke seluruh tubuhnya.


"A-apa ini? Tidaakkk!!"


"Uwah, kau tidak ada ampun Liz."


"Padahal aku ingin berdua dengan tuan Aksa, tapi aku malah berada di sini, tak bisa kumaafkan, tak bisa kumaafkan, tak bisa kumaafkan," perkataan Liz diselimuti kegelapan.


Naula yang tampak panik berusaha keras untuk menenangkannya.


"Benarkah?"


"Aku tidak keberatan, benarkan Sirius?"


"Dengan sepotong kue, aku mengizinkannya."


Sirius dengan mudah menghancurkan borgol di tangannya lalu membantu ke dua rekannya untuk bebas juga.


"Aku mencium aroma master, dia juga pasti ada di sini."

__ADS_1


"Benarkah itu?"


"Tidak salah lagi."


"Kau ini memiliki penciuman seperti apa? Paling tidak kita bebaskan dulu seluruh wanita di sini sebelum menemuinya."


Keduanya mengangguk setuju.


***


Setiap orang di ibukota mulai meninggalkan kota mereka, Marine dengan senang masih melemparkan granat sebanyak yang kuberikan padanya dan Labina sudah turun dari mobil untuk menghadapi pasukan ayahnya menggunakan perisai dan pedang.


Gerakannya cukup mahir bagi seorang gadis, dia melompat ke atas lalu memberikan tebasan diagonal membunuh musuhnya dengan cepat.


Di sisi lain aku menggunakan senapan laras panjang membunuh siapa saja yang kulihat. Perisai ataupun armor mereka tidak cukup kuat untuk menghentikan setiap peluru yang kulesatkan.


"Kau bisa berhenti melemparkan granat, bantu saja Labina."


"Baik tuan, tapi aku perlu senjata yang serupa dengan yang digunakan tuan."


Aku menciptakan pistol di tanganku bersama sarungnya serta peluru tambahan lalu melilitkannya di salah satu paha marine, sementara satu lagi kuciptakan di tanganku.


"Dengar, kau tidak boleh meletakan jarimu di pelatuk saat membidik seseorang, dan jika peluru habis kau harus segera mengisinya lagi seperti ini."


Aku melemparkan pistol itu pada Marine yang sejak tadi terus menatapku dengan pandangan bersinar.


"Baik tuan, senjata ini akan kujaga dengan baik."

__ADS_1


Marine melompat dari mobil lalu berlari selagi menembakan senjata di tangannya, untuk pemula dia cukup terampil menggunakannya.


Sekarang aku juga harus bergerak untuk membunuh raja Aries dan menyelamatkan ketiga anggotaku.


__ADS_2