Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 195 : Festival Di Kota Ini


__ADS_3

Setiap orang mulai menjajalkan dagangan mereka tak terkecuali para pelayan yang dimiliki oleh Ruri.


Di sana mereka menyajikan sebuah takoyaki yang diselimuti saos yang begitu mewah, bagi pemilik wilayah ini mereka tidak memungut biaya apapun, semua orang bisa mengambilnya secara gratis hanya saja jumlah pembelian dibatasi untuk satu porsi.


Aku bersama anggota partyku mencobanya dan itu memang terasa enak, Liz sepertinya tidak bisa berhenti untuk memakannya dan ingin mencobanya lagi, sayangnya itu mustahil jadi aku memberikan jatah aku padanya.


"Terima kasih tuan Aksa."


"Curang aku juga ingin makan yang bekas tuan Aksa," Marine menuturkan protesnya tapi bagiku dia hanya orang mesum.


Di sisi lain Naula dan Sirius tidak terlalu serius soal makanan ini, bisa dibilang mereka lebih menyukai makanan manis.


"Aku ingin mencoba permen kapas di sana."


"Aku juga master."


"Pergilah tapi jangan jauh-jauh nanti hilang."


"Jangan memperlakukanku seperti anak kecil, ayo pergi Sirius."


"Um."


Setelah kepergian keduanya, Liz maupun Marine mengambil lenganku lalu menempatkannya di dada mereka.


Liz cenderung mengenakan gaun terusan yang menampilkan bahu serta punggungnya sementara Marine mengenakan pakaian pendeta lengkap dengan tudungnya.


"Kini kita bisa bermesraan tuan Aksa."

__ADS_1


"Aku juga setuju dengan Liz," tambah Marine.


Mereka memang seperti ini jadi aku tidak mempermasalahkannya, berbeda dengan Sirius dan Naula yang pergi untuk mencari kuliner kami lebih mencari pertujukan serta permainan yang ada di festival ini.


Kami mencoba permainan wahana tembak di mana siapa yang bisa mengenai targetnya mereka akan mendapatkan hadiah yang mereka sukai.


"Tuan aku akan melakukannya."


"Aku juga tidak akan kalah."


Entah Liz atau Marine mereka membuat pedagangnya bangkrut, untuk pun hadiahnya kami memutuskan memberikannya pada anak-anak di sekitar sini.


"Maaf atas keributannya."


Aku melemparkan sekantong uang pada para pedagang yang telah bangkrut, anggap saja aku membeli hadiah yang mereka janjikan untuk perbuatan Liz dan Marine.


Aku tidak yakin ada yang bisa melebihi anggota partyku, mengesampingkan tingkah laku mereka, mereka adalah wanita cantik dan manis yang sulit ditemukan dalam 1000 tahun sekali.


Untuk itu aku memiliki pandangan yang benar.


Kami berdiri bersama penonton lainnya dan melihat bagaimana satu persatu kontestan menunjukan keseksian mereka mengenakan pakaian renang, penonton sekelilingku berteriak semangat selagi menyemangati wanita yang mereka dukung.


"Aku juga bisa melakukan itu. Bagaimana kalau kita mencobanya juga Marine?"


"Bagaimana yah, aku hanya ingin menunjukkan bentuk tubuhku pada tuan Aksa dan hanya ia yang akan menghukumku nanti."


"Kalian pergilah sana."

__ADS_1


"Kalau begitu kami pergi."


Keduanya meluncur ke balik panggung kontestan, saat kemunculan mereka aku bisa melihat semua orang terpana, mata mereka berubah menjadi hati seolah dikendalikan.


Tepat saat keduanya melambaikan tangan ke arahku, semua penonton tidak ragu untuk mengirim tatapan kebencian padaku.


"Sial, aku sangat iri."


"Kau begitu beruntung bisa dekat dengan dua wanita manis itu."


"Apa kau senang bisa meniduri mereka."


Aku hanya mendesah pelan sebagai balasan, memangnya kalian tahu apa. Pada akhirnya dua orang itu menjadi juaranya di mana Liz juara pertama.


Setelah Festival, apa yang kuminta pada Ruri akhirnya terkabul, di dermaga itu kami menaiki perahu yang akan dikendalikan para pelayan.


"Semoga beruntung Nii-chan."


"Aah, aku akan kembali secepatnya."


"Pastikan untuk melakukannya."


Ruri mengantarkan kepergian kami dengan lambaian tangan. Di dalam buku jurnal petualangan Meliana ia pernah pergi ke sebuah pulau yang berada di atas kura-kura raksasa dan aku ingin melihatnya juga sekarang.


"Kita berlayar."


"Baik."

__ADS_1


Layar dibentangkan untuk memulai perjalanan ini.


__ADS_2