Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 130 : Pemilik Bar, Rekan Dan Pahlawan


__ADS_3

Di dalam bar yang dipenuhi banyak orang aku duduk bersama Sirius selagi menikmati minuman biasa tanpa alkohol.


Hari ini aku tidak mengenakan jubah hitam dan topengku melainkan hanya pakaian kasual dengan kaos polos serta celana panjang, untuk Sirius dia hanya mengenakan gaun panjang dimana memamerkan belahan dadanya yang menggoda.


Entah berapa kali dia terus menunjukkannya selagi berputar-putar di depanku.


"Bagaimana master, aku lebih manis dengan pakaian ini?" tanyanya demikian.


Sejujurnya itu sudah bisa membuat penonton lain menyemburkan darah dari hidung mereka.


"Luar biasa, gadis cantik seperti ini... boleh aku berkenalan denganmu?" seorang pria yang terlihat kaya raya mengambil tangan Sirius hendak menciumnya.


Sekarang mari tebak apa yang yang akan terjadi?


A. Sirius akan membiarkannya.


B. Meludahinya, atau.


C. Memukul wajahnya hingga terbang menembus atap dan hilang di langit.


Jika kau menjawab C berarti kau yang benar.


"KENAPA???"


"BOSSSS!!" anak buahnya berteriak selagi berhamburan ke luar bar.


Hal ini sering muncul di film-film komedi action hingga seorang wanita berambut ungu dengan long dress terbuka muncul selagi membawa cempoah di tangannya.


Dia mengangkat kakinya dan menaruhnya di pahaku, aku bisa melihat apa yang di dalamnya loh.


"Hey, kakimu menyentuh masterku."


"Diam kau murahan."


"Siapa yang kau panggil begitu murahan?"


"Tenanglah Sirius, duduklah di kursimu dan pesan makanan apapun yang kau mau."


"Yaaataa."

__ADS_1


Si wanita berambut ungu tersenyum dan berkata.


"Barusan dia menghancurkan atap barku, bagaimana kau menebusnya?"


"Sebanyak yang kau minta," jawabku datar.


"Hah, kau cukup sombong juga... Memangnya berapa banyak uang yang kau punya?"


Si wanita itu mulai menghitung dengan cempoahnya dan kemudian menunjukan semua angka yang ditentukannya.


"Kau harus membayar 1000 koin emas."


"Jika aku membayarnya sebanyak itu, itu sama saja seharga dengan tubuhmu."


"Aku tidak tahu itu pujian atau apa, tapi aku harus memberikan pelajaran pada orang sombong sepertimu."


"Nah, siapa namamu?"


"Naula, sang diva sekaligus pemilik bar ini."


Aku mengangkat bahuku lemas, dari awal aku hanya pura-pura tidak tahu namanya.


"Tawaran yang menarik tapi kau harus membayar seribu koin emas yang kukatakan barusan."


Dengan santai Naula duduk di pangkuanku selagi memamerkan kaki putihnya.


Sayang sekali, aku memang pria normal hanya saja aku tidak terlalu tertarik hingga kehilangan akal saat ini.


Di saat yang sama Sirius mengembungkan pipinya menatapku. Aku berusaha mengabaikannya lalu mengeluarkan uang dari sihir penyimpananku atau lebih tepatnya membuat hujan emas di bar kecil ini.


Itu cukup menarik ketika membuat semua orang terbelalak kaget.


"Bagaimana bisa kau melakukan ini?"


Aku mendorong tubuh Naula ke samping hingga dia jatuh ke dalam genangan emas. Aku tunggu di luar, setelah kau membereskan uang ini keluarlah bersama Sirius.


"Baiklah, walau perasaanku tidak enak, uang tetaplah uang, mereka bisa dipercaya."


Aku berjalan ditumpukan uang itu lalu keluar dari bar dan duduk di atas lantai, tak lama kemudian beberapa gadis kecil muncul selagi menawarkan keranjang bunga mereka.

__ADS_1


"Tuan, tolong beli bunga kami."


"Berapa kalian menjualnya?" aku balik bertanya.


"Cuma 1 tembaga."


"Begitu, aku beli satu."


"Terima kasih banyak."


Aku menerima bunga tersebut dan melihat kepergian mereka dari jauh selagi melambaikan tangan. Aku bisa saja memberikan mereka uang lebih banyak, hanya saja itu sangatlah berbahaya untuk dilakukan.


Kemungkinan besar seseorang akan merebutnya hingga melukai mereka, itu adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi.


Akibat peperangan semua penduduk pria di kota ini diharuskan ikut berperang karena itu para wanita dan anak-anak harus bekerja sendiri demi menafkahi diri mereka sendiri.


Selagi menatap langit yang cerah, sosok Sirius dan Naula muncul, aku berdiri lalu melemparkan sebuah jaket ketat terbuat dari kulit pada Naula.


"Ini?"


"Mulai sekarang kau akan memakai itu."


Aku mengeluarkan topengku hingga akhirnya Naula mengerti.


"Sepertinya aku terlibat hal merepotkan yah."


Bukan tidak ada alasan aku mempekerjakan Naula bersamaku, dia terbukti membenci peperangan, terlebih aku juga sudah mencari tahu tentangnya.


"Selama ini kau terus membagikan uang dari barmu ke semua orang yang membutuhkan bukan? Mulai sekarang kau akan melakukan itu sesering mungkin."


Naula tertawa.


"Mimpi apa aku semalam hingga hal ini terjadi, kau adalah Black Death yang kudengar telah menghancurkan lebih dari tiga kerajaan dalam waktu singkat bukan? Jika seperti ini aku sudah tidak bisa mundur lagi."


Aku mengulurkan tanganku padanya.


"Mulai sekarang mohon bantuannya."


"Dasar, bahkan bayarannya harus lebih mahal dari tubuhku loh."

__ADS_1


__ADS_2