
Nama Jeanne d'Arc bukanlah sesuatu yang mudah ditemukan, di dunia lamaku beliau adalah sosok yang sangat berpengaruh pada perang seratus tahun pada konflik antara Inggris dan Francis, apa mungkin dia sosok yang sama? Tidak, saat itu...
Masih ada kemungkinan lain.
Ketika aku memikirkannya selagi berbaring di ranjang Alyssa masuk ke dalam kamarku, dia adalah leluhur vampir yang memiliki penampilan loli.
"Ada apa Alyssa, apa kau tidak bisa tidur?"
"Um.. boleh aku tidur di sini."
"Tentu saja."
Aku bergeser ke samping dan membiarkan dirinya untuk berbaring di sana.
"Di sini sangat nyaman, aku akan tidur di sini seterusnya."
"Kau tidak bisa melakukan itu," bantahku demikian, jika dia kumat aku pasti akan kehilangan darah sangat banyak atau sampai tubuhku mengering.
Beberapa saat kemudian kulihat Alyssa sudah tertidur dengan masih memakai topi penyihir yang sebelumnya kuberikan padanya. Saat aku pergi ke benua barat dia mungkin selalu memakainya karena merasa kesepian.
Aku mengelus rambutnya sebelum tidur di sebelahnya.
Pagi berikutnya semua orang di masion tengah mengerumuniku dari segala arah, mereka adalah nona Heliet, Lulu, Margaret, Lucia, Claudine, Lauren, Nicol serta Sirius. Bahkan Noela yang hantu turut mengintip dari atas langit-langit.
"Kalian kenapa ada di sini?" tanyaku.
"Kami yang harus bertanya, kenapa Alyssa tidur di sini?" kata Lulu mendesak.
"Alyssa tidak bisa tidur dan ia datang ke sini."
Di saat aku membangunkan Alyssa, mereka berkerumun saling berbisik-bisik tetangga.
__ADS_1
"Ada apa Aksa?"
"Cepat jelaskan pada mereka kenapa kau ada di sini?"
"Ah itu, malam yang menyenangkan."
"Malam yang menyenangkan?"
"Tunggu kalian salah paham... aaaaaaaa."
Mereka malah mengikatku dan menggantung papan di leherku bertuliskan mesum.
"Master aku tidak menyangka."
"Aku juga."
"Kalian."
Setelah Alyssa menjelaskannya lebih lanjut mereka semua langsung melarikan diri kecuali Noela.
Di jalan utama kota aku bersama Lesoria akan pergi ke luar gerbang kota Antares, tak hanya kami berdua aku juga mengajak Sirius yang menjadi pedangku, saat melawan monster kuat aku pasti akan mengandalkannya sampai saat itu dia bisa bersantai selagi bermalas-malasan.
Bahkan sekarang aku harus menggendongnya di punggungku.
"Di sini nyaman sekali, Lesoria kau ingin mencobanya?"
"Aku lebih membiarkan Aksa yang berada di atasku."
"Maksudmu dalam berkembang biak."
Orang ini memang sakarep dewe.
__ADS_1
Mari abaikan kedua orang saraf ini untuk menemui Jeanne yang sudah menunggu dengan kereta kudanya.
"Kalian datang."
"Kuharap hutangku akan lunas dengan cara membantumu."
Lesoria masih berjuang keras sampai sekarang, mari kumpulan dana untuk membantunya nanti.
"Aku memang akan membayar kalian tapi hutangmu masihlah banyak, ngomong-ngomong?" Jeanne mengalihkan pandangan ke arah wanita di punggungku.
"Namanya Sirius dan ini Jeanne."
"Salam kenal," kata Sirius memalingkan wajahnya.
"Nada berbicaranya memang seperti itu, jangan dipikirkan."
"Begitu kah, dia terlihat sangat lengket padamu."
"Jeanne?" atas panggilan Lesoria akhirnya dia menyadari sesuatu yang penting.
"Benar, kita harus segera pergi, naiklah."
Biasanya Claudine, Lucia dan Lauren selalu berburu goblin namun seiring jumlah goblin yang sangat meningkat mereka juga enggan untuk kembali ke hutan itu.
Karena itulah mungkin sekarang hanya kami saja yang masih berani pergi sekarang, mengandalkan Jeanne sebagai pengendali kereta aku yang duduk di sampingnya membuat pistol di tanganku.
"Itu?"
Lesoria juga tertarik dengan apa yang kupegang sekarang, ia berusaha mengintip dari belakang.
"Ini namanya pistol, dengan ini aku bisa membunuh musuh dari jarak jauh."
__ADS_1
"Sepertinya sangat praktis," kata Lesoria.
Secepat apapun sihir, benda ini jelas lebih cepat darinya.