
Di tanah lapang kosong tepatnya di luar kota aku memberikan buku pada Meliana yang matanya berlinang air mata.
"Kau melihat semuanya."
"Semuanya, yah ternyata penyihir Meliana cukup nakal."
"Aku tidak bisa menikah kalau begini," teriaknya frustasi.
Setelah menggodanya aku beralih ke arah Cardina, aku sudah memberitahukannya tentang Richard dan setelah ini selesai banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.
"Kau tidak membawa pedang?" tanya Ayumi.
"Aku selalu membawanya."
Kugunakan sihir penciptaan dan dalam sekejap kedua tanganku sudah terisi pedang katana.
"Seperti masa lalu bukan."
"Padahal aku tidak ingin bertarung lagi denganmu, kita sudah ratusan kali melakukan hal ini."
"Aku akan terus melawanmu sampai aku menang."
Untuk alasan yang tidak diketahui Meliana dan Cardina tampak memucat.
"Pria itu mengalahkan iblis seperti Ayumi."
"Aku juga tidak percaya itu."
"Kalian berdua diamlah, ayo Aksa."
Kami menghentakkan kaki membuat pijakan tanah terlempar ke udara, Ayumi menggunakan dua pedang yang sama sepertiku dan saat pedang kami bertubrukan itu menghasilkan suara yang memekikkan telinga.
Prang.
__ADS_1
"Bagus Aksa, kau sama seperti dulu."
"Kau juga."
Aku mengayunkan pedang dari samping saat Ayumi menahannya, kukirim pedang yang lain hingga kami saling menahan satu sama lain sebelum kembali melompat ke belakang dan sekali lagi membenturkan pedang kembali
Trang, Trang.
Ayumi melemparkan dua pedang ke udara sementara dua pedang yang baru diambil dari pinggangnya, kami berdua berkata di waktu bersamaan.
"Aliran pedang pembunuh iblis, Tebasan Pertama."
Bagaimana pun aku dan Ayumi berada satu perguruan, teknik yang kami gunakan sama pula hanya saja pedangku tidak cukup kuat menahan pedang milik Ayumi hingga hancur berserakan.
Saat Ayumi hendak menggunakan keempat pedangnya aku menciptakan pedang lain di tanganku, Kekuatan sesungguhnya Ayumi adalah ketika dia menggunakan empat pedang, ia mengirim kekuatannya ke setiap pedangnya, saat digunakan pedang itu menghasilkan panas yang cukup untuk melepuhkan pergelangan tangan karena itu dalam beberapa detik dia harus mengganti dengan pedang baru.
Inilah kecepatan miliknya yang sangat berbahaya.
Tiba-tiba saja saat kukira Ayumi akan menggunakan empat pedangnya dia malah melepaskannya lalu memegangi tanganku.
"Apa?"
"Hehe, kena kau adikku."
Ayumi menerjang ke depanku, lalu apa yang dia lakukan adalah mengunci persendianku seperti seorang pegulat.
"Uwaahh... Ayumi."
"Harusnya kau memanggilku kakak, aku pikir aku tidak bisa bertemu denganmu hingga aku terus menangis, tapi kau malah bersenang-senang di dunia ini."
"Aku tidak bersenang-senang."
"Oh yah, kau memiliki banyak Harem kan, aku sudah melihatnya saat di menara Altima."
__ADS_1
"Kau pergi ke sana juga."
Tak lama kemudian Vivia dan guruku muncul secara tergesa-gesa.
"Aksa, aku dengar ada orang yang mencarimu."
"Heh, kalian sudah dewasa rupanya," suara Meliana lebih dulu mendahuluiku ketika kedua orang itu mengalihkan perhatiannya mereka melihat guru yang selama ini mereka kira telah mati.
"Guru."
Nona Heliet yang lebih dulu memeluknya.
"Senang bertemu dengan kalian lagi, apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja."
"Vivia kau tidak ingin memeluk gurumu, lihat dadaku empuk loh."
"Berisik, hanya sekali ini saja."
"Um."
Ketiganya malah saling berpelukan melupakan aku yang sedang kesakitan. Untuk Cardina ia hanya mengawasi sepertinya dia juga masih bersedih soal Richard.
Aku berkata pada Ayumi.
"Aku menyerah, aku akan melakukan apapun yang kau mau?"
"Itu baru tawaran bagus, ini adalah kemenangan pertamaku."
Sejujurnya baru kali ini Ayumi melepaskan pedangnya, selama ini dia sangat terobsesi dan mengatakan sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan pedangku meski dalam pertarungan.
Waktu memang berlalu sangat cepat.
__ADS_1