
Selama lima hari kami akhirnya berhasil mengalahkan Hobgoblin dan High goblin berturut-turut.
Untuk melawan kedua makhluk ini aku bahkan harus menggunakan pedang besar di tanganku, tentu saja pedang ini adalah Sirius. Dibanding pedang biasa Sirius terlihat seperti pedang dalam film-film genre sci-fi atau mecha.
Bersamaan saat Sirius kembali ke wujudnya, aku berjalan pada Lesoria yang terduduk selagi memegangi luka di tangannya, aku merapalkan sihir penyembuh hingga lukanya tertutup sedikit kala.
Untuk Jeanne dia masih berdiri selagi menancapkan pedangnya menjaga posisinya tetap berdiri. Yang bisa kukatakan padanya.
"Dia terlalu memaksakan diri."
"Jeanne itu memang seperti itu, dia selalu ingin menyelesaikan misinya dengan baik bahkan aku rasa dia selalu lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya."
Jeanne mencabut pedangnya lalu berjalan ke arah kami bertiga.
"Kurasa kita harus beristirahat dulu," baru saja kami berniat seperti itu ancaman yang lebih besar telah muncul, dari deretan pohon yang tumbang sosok gelap itu menembus dan berjalan ke arah kami berdua.
Tubuhnya lebih besar dari kedua goblin yang baru kami lawan.
"Di saat seperti ini, kenapa dia datang," kata Jeanne.
Yang muncul itu adalah Goblin King yang menjadi pemimpin dari semuanya mahkota adalah ciri yang begitu jelas. Jeanne tanpa menunggu lagi menerjang ke depan selagi membawa pedangnya.
"Jeanne kau terlalu lelah untuk bertarung," teriak Lesoria namun dia tidak mendengarkannya.
"Biar aku saja, istirahatkan dirimu sebentar."
"Maaf Aksa."
__ADS_1
"Tak perlu meminta maaf... Sirius."
"Baik master."
Aku berlari menyusul Jeanne dari belakang dengan pedang besar di tanganku, dia terlalu ceroboh bahkan dia juga tidak bisa menggunakan Astral miliknya dalam situasi seperti ini.
Jeanne diterbangkan ke belakang oleh sebuah pedang raksasa hingga menabrak pohon di belakangnya, di saat itu aku menggantikannya menyerang.
Aku melompat memberikan tebasan dari atas ke bawah, mengandalkan gaya gravitasi sebagai bantuan utama tubuh Goblin King terjerumus beberapa sentimeter ke dalam tanah.
Kendati demikian dia masih bisa bertahan memaksaku untuk mundur ke belakang.
"Master kekuatannya 10 kali lipat dari goblin yang kita kalahkan," kata Sirius dalam wujud pedangnya.
"Sepertinya begitu, aku tidak yakin tapi sepertinya ada sihir dari luar yang mendukungnya."
Goblin King mengayunkan pedangnya ke tanah dan seketika tebasan angin bercampur debu terbang ke arahku, kugunakan sihir perisaiku untuk menahannya hingga aku terdorong sebagai efek balasan.
"Kuat sekali, kau baik-baik saja Sirius?"
"Jangan khawatir master, aku baik-baik saja."
"Lawanmu adalah aku," teriak Jeanne dan dalam sekejap bilah pedangnya mampu memotong pedang di tangan goblin king.
Menyadari ada celah aku memanggil lingkaran sihir dari jari-jariku, mengarahkan tepat pada Goblin King kubuat tombak dari api
"Jeanne," teriakku hingga ia mundur ke belakang selanjutnya ledakan api menelan tubuh Goblin King seluruhnya dan pantulan goblin itu tumbang ke tanah.
__ADS_1
Dalam momen itu seorang bertepuk tangan dengan senang selagi berjalan ke dekat kami.
"Hebat sekali, kalian pantas disebut sebagai pahlawan."
"Ternyata kau?"
"Lama tak bertemu Aksa, Jeanne dan juga Lesoria."
"Bagaimana kau mengenal kami semua?" tanya Jeanne.
"Mudah saja, aku selalu mencari tahu semua orang yang kuat."
Lesoria bangun dan berjalan mendekat ke sampingku lalu berkata.
"Dibanding itu, setidaknya kau perkenalan dirimu manusia bertopeng."
"Maafkan aku, namaku Leonardo.. aku sedang membuat pasukan, maukah kalian bergabung denganku."
Jeanne memotong.
"Jadi kau yang membuat para Goblin ini menjadi kuat."
"Benar sekali."
"Boleh aku tahu kenapa kau melakukannya?"
"Tentu saja untuk menghancurkan dunia ini," balasnya selagi menundukan tubuhnya seperti seorang pelayan.
__ADS_1