
Langit yang cerah kini telah diselimuti awan kelabu, awan itu seolah berputar di langit lalu menciptakan pusaran spiral yang menembus tanah di depanku.
Saat semua itu menghilang sosok wanita dengan gaun hitam berdiri menatapku tatapan tajam, ia memiliki rambut berwarna langit malam dengan mata berwarna ruby, sementara empat sayap di punggungnya membentang indah.
Dia memperkenalkan dirinya sebagai Dewi jahat Ariesta yang memiliki kekuatan yang sangat besar, aku berusaha bangkit selagi memegang pedangku namun hanya dengan tatapannya aku terlempar hingga berguling-guling di tanah sebelum menabrak dinding di belakangku dengan bunyi keras.
"Kau bisa mengalahkan para pengikutku namun tak kusangka kau begitu lemah."
Aku membuang darah dari mulutku lalu berlari dengan apa yang kubisa, sejujurnya seluruh tenagaku telah terkuras apalagi mengayunkan pedang sebesar ini bukanlah hal mudah.
Dewi Ariesta hanya melompat ringan ke sana kemari kemudian memukulku di wajah hingga sekali lagi tubuhku mendapatkan luka parah.
Ketika dalam keputusasaan itu sebuah suara terdengar dari arah belakangku.
Tik.. Tak... Tik.... Tak.. Tak... Tak..
Saat aku menengok ke belakang sebuah jam raksasa dengan sayap putih tercipta di sana lalu disusul suara Sirius yang sudah lama tak terdengar.
"Selamat pagi master... hoam, tidurku sangat nyenyak."
Ariesta yang melihatnya tampak tak bisa berkata apapun.
"Jangan bilang, kau Apolis, bagaimana bisa kau keluar dari gerbang itu, aku yakin kami semua telah memasukanmu ke dalamnya."
Nama asli Sirius adalah Apolis dan julukannya adalah Dewi Mesin.
"Lama tak bertemu Ariesta, tapi sekarang namaku Sirius berkat masterku aku bisa keluar dari sana."
Sebenarnya yang mengeluarkan Sirius adalah Greed dan Lust.
Aku mengangkat pedangku dalam posisi siaga.
"Kau sudah siap Sirius."
__ADS_1
"Tidak pernah sesiap ini."
"Jangan meremehkanku."
Ariesta menciptakan pedang dari tangannya kemudian terbang melayang maju, sama seperti kami dia mengayunkan pedangnya dengan kuat membuat percikan kembang api ke udara.
Trang... Trang... Trang.
Ia mengayunkan pedangnya dari atas sementara aku menangkisnya ke samping, sebelum aku balas menyerangnya beberapa helai sayap tercipta di udara kemudian menukik ke arahku dan meledak.
Aku yang segera mundur berhasil menghindarinya sedangkan bulu-bulu itu terus mengejarku. Aku menebasnya dan itu menghasilkan ledakan asap, saat aku memeriksa keberadaan Ariesta dia sudah menghilang.
"Kekuatan Ariesta belum pulih seutuhnya master, melarikan diri sudah pasti akan dilakukannya."
"Begitu."
Bertepatan saat jam raksasa menghilang dan tubuh Sirius ke bentuk manusianya aku duduk di tanah. Sirius terus memelukku selagi menggosokkan pipinya sementara nona Heliet yang sudah bangkit menarikku menjauh.
"Dasar kucing garong, aku tidak akan biarkan Aksa dekat denganmu terus."
"Hubunganku dengan Aksa jauh lebih kuat."
"Aku yang lebih kuat, benarkah Master?"
"Tidak, Aksa memilihku."
Aku hanya menatap keduanya dengan mata bermasalah saat mereka terus saja menarik tanganku.
Dua hari selanjutnya di kota Antares aku mengunjungi guild petualang, di sana orang-orang bersikap ramah seperti biasanya, ada kelompok yang hanya minum-minum, ada yang sedang bermain kartu dan ada juga orang yang asyik menggoda para wanita, di antara mereka Kazel muncul dengan ide bodohnya.
"Oi Aksa.... bagaimana kalau kita mengintip pemandian umum? Aku baru saja membuat terowongan loh haha."
Aku hanya tersenyum ke arahnya, walau kelakuannya seperti itu Kazel adalah orang yang berpengaruh di guild ini, tanpa dirinya aku tidak yakin tempat ini bisa hidup.
__ADS_1
Lulu muncul dengan protesnya.
"Muu, jangan membawa Aksa ke jalan sesat... memiliki kami di masion sudah cukup baginya, aku bahkan sering mandi dengannya."
"Apa? Kau membuatku iri."
Setelah menyeruput tehku aku bangkit.
"Terima kasih banyak karena sudah mengkhawatirkanku, tapi aku ingin sendiri dulu."
Aku membungkukkan badanku pada mereka berdua sebelum berbalik untuk berjalan ke pintu keluar, tak lama Kazel memanggilku.
"Aksa?"
Aku hanya melambaikan tangan padanya tanpa menoleh.
"Apa Aksa akan baik-baik saja?"
"Dia bilang hanya ingin sendiri saja."
Saat aku telah sampai diluar seseorang telah berdiri di sana, ia memakai pakaian serba hitam, rambut panjangnya diikat bergaya ponytail serta empat pedang menggantung di pinggangnya.
"Lama tak bertemu Aksa, apa kau sehat-sehat saja selama ini?"
"Ayumi," aku memangilnya dengan suara terkejut, tak sendirian di belakang Ayumi juga ada dua orang wanita yang menemaninya.
Mereka memperkenalkan diri mereka yang mana membuatku semakin terkejut, naga putih Cardina Polna serta satu lagi seorang penyihir yang sangat dikagumi banyak orang, Meliana.
Meliana sedikit terlihat berbeda dengan penampilannya yang dulu, dia memiliki rambut perpaduan merah dan ungu.
Mungkinkah ini yang dimaksud kejutan Dewi itu.
"Sekarang Aksa, ayo bertarung."
__ADS_1
Ayumi masih seperti dulu.