
Di atas tebing di mana sebuah desa berdiri di bawahnya, keempat sosok topeng putih berdiri di sana. Mereka mengenakan jubah hitam dengan lambang ular putih melingkar di belakang punggung mereka yang menggigit ekornya sendiri.
Sementara bagian kepala tertutup tudung.
Salah satu orang berjalan dua langkah ke depan ketiganya.
"Leonardo memang sudah mati, akan tetapi impiannya akan selalu bersama kita sampai kapanpun, menghancurkan dunia ini dan membuatnya kembali menjadi dunia yang lebih baik."
Salah satu wanita bertubuh kecil dengan pedang besar di punggungnya berkata.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, jujur sebagai sembilan orang pengguna pedang iblis, aku merasa bosan terus menunggu seperti ini."
"Sebentar lagi waktu kita akan tiba, kita hanya harus mengumpulkan anggota lain demi membangkitkan sang bencana keabadian Ouroboros, untuk itu.. Mulai sekarang nama kita adalah Kagutsuchi," mengatakan itu, pria di depan mengarahkan tangannya ke arah desa dan dalam sekejap sebuah petir raksasa jatuh menghantam desa dan selanjutnya api membakar segalanya
***
Setelah berlatih dengan para Dewi, aku menjatuhkan diriku ke tempat tidur dengan lemas, baru beberapa menit suara Ayumi terdengar lalu menerobos masuk, tak hanya berhenti di sana dia menarik kerah bajuku.
"Hari ini kita pergi berkencan, jangan lupakan itu."
Aku benar-benar melupakannya.
Pada akhirnya aku benar-benar kehilangan waktu istirahatku yang berharga, selama ini aku hanya melihat Ayumi dalam pakaian sekolahnya tak kusangka dia mengenakan pakaian yang berani.
"Pertama, aku ingin pergi ke mana yah... benar, ke sana."
__ADS_1
Aku segera menangkap pergelangan tangannya.
"Itu love hotel, kita akan menjauhi tempat seperti itu."
"Heh, benarkah, aku tidak tahu ada tempat seperti itu di dunia ini.. Ara, Ara, aku harus berhati-hati."
Sudah jelas dia sengaja.
Kota Antares tidak terlalu mewah seperti ibukota, kendati demikian ada beberapa tempat yang cukup menghibur.
Aku akhirnya membawa Ayumi ke sebuah cafe kucing yang baru didirikan belakang ini. Semenjak fraksi Succubus dan fraksi gadis kucing berdamai keduanya kini ada di kota ini.
Aku datang bukan untuk mengintip rok mereka melainkan, tempat ini membiarkan kucing berkeliaran menghibur pelanggan dan kucing cukup disukai oleh Ayumi.
"Bukannya ini... kucing."
"Lihat ini Aksa, mereka sangat imut."
Aku ingat saat dulu Ayumi memanjat pohon untuk menyelematkan seekor kucing, saat itu kakinya terkilir dan aku berakhir menggendongnya pulang.
Kurasa masa-masa itu telah berlalu sejak lama.
Selagi memakan pesananku aku memperhatikan Ayumi yang terus mengelus setiap kucing yang mendekatinya, sampai.
"Aku pesan ini."
__ADS_1
Mendengar suara itu, aku segera mengalihkan pandangan ke samping, aku tidak tahu kenapa orang ini selalu ada di mana-mana.
Dia adalah pria plontos yang terkenal di kota ini, Kazel.
"Yo Aksa, kau juga menyukai tempat ini."
Aku menatap Kazel dengan pandangan bermasalah.
"Kau tahu, aku datang hanya untuk para pelayan ini.. kupikir dengan pura-pura menjatuhkan sendok aku bisa mengintip rok mereka.
Keheningan terasa diantara kami berdua.
"Satu hal yang ingin kukatakan padamu."
"Apa itu?"
"Kerja sono."
"Haha aku masih memiliki banyak uang, aku akan terus bersenang-senang."
Karena itulah anggota partynya meninggalkannya sendirian.
Mari abaikan dia untuk sementara waktu.
Ayumi bertanya ke arahku.
__ADS_1
"Setelah dari sini kita mau kemana lagi?"
"Kemanapun yang menyenangkan," balasku demikian yang dijawab senyuman Ayumi.