Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 36 : Desa Anggur


__ADS_3

Dalam perjalanan ke desa anggur kami dihadang oleh sekumpulan kabut asap, kecuali warna putih seluruh wilayah ini telah tertutup sepenuhnya.


Tentu saja ini bukan kabut biasa melainkan kabut yang dibuat oleh iblis yang bersembunyi di dalamnya, bagi Alyssa ini adalah kedua kalinya dia melihatnya. Bagaimanapun iblis inilah yang menyerang desa yang sebelumnya ditinggalinya.


"Mau menghadapinya?" tanya nona Heliet.


"Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa lewat sebelum mengalahkannya."


Aku turun dari kereta kuda untuk mengirim berbagai sihir angin untuk menghilangkan kabut, walupun itu hanya berakhir sia-sia.


Kabut iblis memiliki ketebalan di luar logika serta tidak bisa digerakkan hanya dengan angin saja, karena itu akan kuledakan saja semuanya.


Aku mengarahkan tanganku dan berkata.


"Hell of the Abyss," bersamaan itu sebuah api dijatuhkan dari langit menghantam kabut di bawahnya seluas yang bisa sihir itu buat.


Api menggumpal membentuk bola panas yang menghancurkan segalanya, entah itu kabut atau permukaan tanah telah berubah drastis, berdiri di antara kekacauan itu sosok Iblis bertubuh besar yang terlihat gagah, di kepalanya terdapat tanduk serta warna tubuh yang kehijauan mirip goblin.


"Siapa yang berani menyerangku saat aku tidur."


"Itu aku," jawabku ringan.


"Manusia, beraninya kau membuatku marah rasakan apa yang akan kulakukan padamu."

__ADS_1


Iblis itu mengayunkan goloknya padaku, aku sempat menahannya dengan dinding pelindungku hingga hancur dan memaksaku untuk mundur beberapa langkah ke belakang.


Satu lapis pelindung tidak cukup untuk menahan kekuatannya, kuputuskan untuk bertarung dengan tangan kosong, aku meluncur dengan hentakan kaki.


Mempersempit jarak kemudian mengirim tendangan yang mana kukombinasikan dengan pukulan beruntun.


"Sialan."


Dia membacok sementara aku menghindar, tanah yang kupijak sebelumnya hancur berserakan seolah tanah itu dimuntahkan ke udara. Dengan gerakan lanjutan iblis itu mengayunkan goloknya ke samping.


Sebelum mengenaiku tangannya telah mati rasa, golok dipegangnya jatuh ke bawah tanpa perlawanan, untuk tangannya sendiri terkulai lemas.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa tanganku tak bisa digerakkan."


"Mustahil."


"Maaf saja, aku tak hanya seorang penyihir biasa.. aku juga bisa menggunakan beberapa job lainnya."


"Kau?"


Saat iblis itu berteriak selagi menerjang ke arahku, golok diayunkan hingga darah menyembur ke udara dan iblis itu rubuh ke samping.


Aku melirik ke arah kedua orang yang menonton.

__ADS_1


"Mari lanjutkan perjalanan kita," kataku ringan.


Setelah melewati padang rumput tinggi sebuah perkebunan anggur telah menyambut kami, di belakang itu terdapat beberapa rumah yang bisa disebut sebuah desa, mereka mengenakan pakaian khas berwarna merah dan terlihat beberapa gadis sedang menginjak anggur yang diletakkan di dalam tong kayu pendek.


"Kita kedatangan pengunjung, aku kepala desa di sini. Apa ada sesuatu yang bisa kubantu untuk kalian?"


"Aku pesan beberapa Wine untuk dibawa pulang," potong nona Heliet.


"Tentu saja, kalian bawa beberapa anggur untuk pelanggan kita," teriaknya ke arah beberapa pria di belakangnya.


"Baik."


Selagi menunggu, kuputuskan untuk melihat para gadis penginjak anggur ini.


"Kalian memiliki kaki yang bagus," kataku memuji.


"Terima kasih banyak," kata salah satunya dan sisanya hanya tersenyum manis.


"Boleh aku mencobanya?" tanya Alyssa.


"Tentu, tapi pertama cuci dulu kakimu."


"Aku mengerti."

__ADS_1


Aku hanya memegangi tangan Alyssa saat dia dengan senang menginjak buah anggur di bawah kakinya.


__ADS_2