Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 146 : Sang Bara Api


__ADS_3

Liz Calista menciptakan naga terbuat dari es yang mana Naula maupun Anastasia juga berdiri di atas kepalanya.


"Kami berangkat tuan Aksa."


"Aah."


Naga itu melesat ke arah kumpulan musuh yang tersisa baru di sana mereka bertiga mulai berpencar untuk melawan musuh masing-masing.


"Sepertinya kita juga."


"Boleh kugunakan seluruh kekuatanku?" tanya Sirius dalam bentuk pedangnya.


"Kurasa tidak perlu jika harus melawan mereka."


Aku meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi, beberapa prajurit mulai menyerangku dengan sihir dan senjata yang mereka bawa, aku menangkisnya dengan baik lalu membalasnya dengan mengayunkan pedang di udara hingga mereka terlempar ke segala arah.


"Guakh."


Aku terus melakukannya sampai tidak ada lagi orang yang bisa berdiri kembali, Anastasia tampak menggunakan tekniknya untuk merobohkan semua musuhnya, begitu juga Naula dan Liz hingga sudah tak terhitung jumlah yang mereka kalahkan.


Jika begini sudah waktunya pemimpinnya muncul yaitu dua orang jenderal yang masih tersisa dimana salah satunya mereka hadapi.

__ADS_1


Sedangkan aku menghadapi yang satunya lagi, seorang pria tua yang menggunakan tongkat.


"Akhirnya kau muncul juga jenderal."


"Seorang pemuda sepertimu harusnya bisa bertingkah sopan pada orang tua, biar aku ajarkan bagaimana kau harus bersikap."


Pria itu mengetukkan tongkatnya untuk menciptakan sebuah lingkaran sihir di depan kakinya, dari sana sosok minotourus dengan empat tangan menyeruak keluar, masing-masing dari tangannya membawa pedang panjang.


"Habisi dia," mengikuti perintah pria tua, minotourus itu melesat ke arahku, setiap kakinya membuat lubang kehancuran di belakangnya.


Tanpa ragu dia menebaskan keempat pedangnya secara bersamaan. Kilatan cahaya dan dentingan yang saling bertubrukan menghasilkan ledakan udara.


Aku menyilangkan pedang untuk menahan keempat pedangnya. Tanah yang dipijak olehku merebas sekitar 30 cm ke bawah, ekpresi pria tua itu terlihat puas seolah bisa memenangkan pertarungan ini.


Sayangnya aku harus membuatnya kecewa, suara uap terdengar dari pendangku yang mengeluarkan asap ke udara.


Aku menghentakkan kakiku untuk mendorong seluruh pedang ke belakang saat aku mengayunkan pedangku kembali dari atas ke bawah, entah itu pedang atau tubuhnya terbelah dua bagian dengan mudahnya. Pria tua itu mengerenyitkan alisnya dan kembali mengetukkan tongkatnya ke tanah, berbeda dari sebelumnya yang dia panggil adalah seekor laba-laba raksasa.


Dibanding menggunakan kekuatannya sendiri dia lebih suka memanggil makhluk yang lemah, aku mengayunkan pedangku untuk menghancurkannya dengan mudah.


"Berhentilah bermain-main pak tua, kau harus melawanku secara langsung jika ingin menang."

__ADS_1


Pak tua itu menepukan kedua tangannya lalu melepaskan pakaiannya, tubuh kecil miliknya mulai membesar membentuk otot-otot kuat yang melebihi pria tua di usianya.


"Maaf sudah menunggu."


"Tidak masalah."


Wus.


Dengan kecepatan tinggi aku menahan tinju yang dilayangkan oleh pria tua tersebut, tak lama kemudian di tangannya memunculkan lingkaran sihir lalu meledakan tubuhku sekaligus yang mampu membungkusku dalam asap hitam.


Aku mundur untuk menjaga jarak lalu mengarahkan tanganku untuk menciptakan sihir serangan.


"Inferno."


Api di tembakan tepat mengenai tubuh berotot itu membuat seluruh area di sekelilingnya berubah menjadi sebuah kawah raksasa.


"Hanya dengan ini kau tidak akan bisa mengalahkanku," seperti yang pria tua itu bilang dia masih berdiri tanpa terluka sedikitpun kecuali bagian dimana asap mengepul dari tubuhnya.


"Jadi siapa kau sebenarnya?" tanyaku ke arahnya.


"Aku disebut sebagai sang bara api, Aiz... jenderal terkuat yang dimiliki oleh kerajaan Cygnus."

__ADS_1


__ADS_2