
Tiffany menyilangkan tangannya untuk menopang dadanya yang besar lalu berkata seolah situasi ini bisa ditebak olehnya sejak awal.
"Sudah pasti seperti itu, dahulu buku ini telah merebut banyak orang, sudah sepantasnya tidak bisa diberikan begitu saja pada orang lain.. sekarang kau akan menyerah Aksa?"
"Aku tidak bisa melakukan hal itu."
"Benar kan."
Aku mendekat ke arah rakun itu lalu berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan tentang kami, yang jelas kami tidak akan menggunakan buku itu untuk sebuah kejahatan."
Sebelum rakun itu membuka mulutnya tiba-tiba saja guncangan terjadi hingga kami sulit menjaga keseimbangan.
"Apa itu?" tanya Tiffany.
"Dia datang lagi."
"Biar aku periksa tuan."
Nicol segera berlari ke arah jendela untuk memeriksa keadaan di luar dengan pistol di tangannya.
"Apa-apaan? Ada seekor ikan paus raksasa sedang datang kemari."
"Mana ada seekor ikan di langit," balas Tiffany tertawa kecil sampai akhirnya suara Nicol memotong.
"Semuanya menunduk."
Aku segera merangkul rakun itu dalam pelukanku sementara Nicol berlari untuk menjatuhkan Tiffany ke lantai.
Dan selanjutnya.
"Bam"
Bagian atas perpustakaan hancur seperti terkena angin tornado yang mana meninggal setengah bangunan asalnya, saat aku menengadah ke langit untuk memastikan apa yang terjadi, aku bisa melihat perut ikan paus raksasa melewatiku begitu saja dengan auman yang menandakan sebuah kematian.
"Besar sekali," kata Tiffany.
__ADS_1
"Nicol tolong lindungi rakun ini."
"Baik tuan."
"Tunggu, apa kau juga menyuruhku untuk bertarung."
"Sudah tidak ada waktu lagi."
Aku memberikan rakun itu pada Nicol sebelum menarik tangan Tiffany.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Tanpa menjawab pertanyaannya aku melempar Tiffany ke arah paus yang sudah berbalik untuk menyerang kami.
"Aksaaaaa."
"Lakukan tugasmu jika tidak ingin mati."
Di udara itu Tiffany mengepalkan tinjunya lalu mengirim pukulannya tepat di wajah sang paus, biasanya pukulan itu cukup untuk menghancurkan sebuah benteng kokoh namun, apa yang bisa aku lihat ada sebuah medan tak terlihat yang menahannya.
"Apa?"
"Tiffany kau baik-baik saja?' tanyaku.
"Sepertinya tanganku patah."
Aku menarik tubuh Tiffany menjauh bertepatan saat sebuah gelembung meledak di mana sebelumnya dia berada.
"Greed apa kau tahu makhluk apa itu?"
"Entahlah, ini pertama kalinya aku melihat makhluk seperti ini.. tapi yang jelas dia binatang iblis."
Aku meninggalkan Tiffany untuk berada bersama Nicol.
Paus itu melayang di langit kemudian menukik ke arahku, dengan menggunakan Greed aku menembaknya beberapa kali di wajahnya kendati demikian itu tidak menghasilkan apapun.
Aku berguling saat paus itu berhasil membelah pulau terapung ini menjadi dua bagian.
__ADS_1
"Kau tidak bisa mengalahkan makhluk itu dengan tembakan biasa," kata Greed.
"Aku hanya ingin tahu seberapa tebal dindingnya."
Aku mengarahkan Greed kembali untuk menciptakan lingkaran sihir di depan moncongnya, sekitar lima bola hitam kutembakan secara berurutan dan baru bisa menghancurkan di dindingnya.
Di tembakan berikutnya paus itu hancur berserakan lalu berubah menjadi kepingan kristal yang berjatuhan.
"Yang barusan itu cukup menyenangkan."
"Kau hanya senjata jadi tidak tahu betapa melelahkannya berlarian ke sana kemari."
Aku memasukkan kembali Greed ke pinggangku lalu berjalan ke arah mereka semua.
"Tanganku patah, bagaimana ini?"
"Tenanglah, akan kusebuhkan."
"Tunggu, tunggu."
Krak.
"Uwaahh," Tiffany hanya pasrah dengan air mata jatuh layaknya sebuah air terjun.
Aku menggunakan sihir penyembuh juga jadi dia akan baik-baik saja.
Rubah yang berada di dekapan Nicol melompat jatuh ke bawah.
"Sihir yang kau gunakan terasa tidak asing, apa kau memiliki hubungan dengan nyonya Meliana?"
"Dia guru dari guruku."
"Begitu, ikutlah denganku."
"Ah ya."
"Ngomong-ngomong siapa namamu?'
__ADS_1
"Aksa, kau sendiri?"
"Pero. Kurasa ini memang sudah ditakdirkan," atas pernyataan Pero kami hanya bisa diam dengan tanda tanya besar di atas kepala kami.