Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 89 : Lantai 600 Altima


__ADS_3

Satu tahun berlalu semenjak kami terus merangkak naik ke atas menara, kini kami telah berhasil sampai di lantai 600 di mana musuh kami adalah tengkorak dengan dua kepala, dua tangan serta tubuh raksasa.


"Knight Mode."


Seluruh tubuh Vivia terselimuti zirah besi dimana bagian helm sepenuhnya menutupi wajahnya, dia mengayunkan pedangnya hingga percikan api menyembur dari setiap benturan.


"Apa-apaan monster ini, jika dibandingkan... kekuatannya tidak jauh berbeda dengan naga kehancuran," ucap Kazel memegangi tangannya yang patah, di pertempuran di lantai 599 Vivia mendapatkan item pemulihan hanya saja itu hanya bisa dipakai satu kali.


Richard melompat ke atas untuk memberikan serangan, sebelum dia berhasil, dia terhantam tinju tengkorak membuatnya memuntahkan darah hingga berguling-gulung di udara sebelum tertahan di dinding dengan retakan di punggungnya. Dari lantai 500, para bos bisa menggunakan sihir karena itulah lawan kami lebih sulit dari biasanya.


Tubuh Vivia dicengkeram oleh tangan tengkorak kemudian dibantingkan ke bawah membentuk lubang berdiameter seratus di sana.


"Apa ini yang disebut permainan yang tidak bisa dimenangkan?" aku melirik ke arah Richard yang kembali bangkit.


"Aksa tolong ulur waktu sedikit untukku."


"Aku mengerti."


"Aku akan membantu juga."


Bersama Kazel kami berdua melangkah maju, Kazel mengambil pedang yang menancap sebelumnya di lantai.


Dan.


Boom.


Entah aku dan dia kami berdua terhempas ke samping.


"Sialan, mana mungkin aku bisa kalah dengan makhluk seperti ini..... gwaaah," sebelum Vivia bisa bangkit dia diinjak tanpa ampun yang mana membuat ledakan bergema di ruangan ini.


Aku melirik kembali ke arah Richard yang mana di sekelilingnya tampak cahaya berterbangan indah, zirah besinya sudah hancur dan kini ia memusatkan kekuatan pada ujung pedangnya.

__ADS_1


"Ice Blade."


Sebuah bilah raksasa berbentuk bulan sabit meluncur ke arah si tengkorak menghantam tubuhnya secara langsung hingga membuatnya terhuyung-huyung.


"Masih gagal," kata Richard dan aku segera memotong.


"Akan kuselesaikan."


"Aksa."


Aku melompat tepat di atas kepala si tengkorak.


"Sirius."


"Penyerapan energi telah selesai master, siap melepaskan."


Pedang di tanganku mengeluarkan bayangan hitam yang kemudian kuayunkan mengikuti gaya gravitasi.


SRAK.


Tubuh tengkorak itu terbelah dua kemudian hancur berkeping-keping.


"Sudah selesai."


"Aku baru melihat teknik seperti itu, apa itu jurus barumu?"


"Selama di lantai pertama aku terus berlatih dengan Sirius, yang barusan belum sempurna tapi syukurlah masih bisa mengalahkannya," balasku pada Kazel.


"Masih belum sempurna sudah sekuat itu, apalagi kalau sudah sempurna.. setelah ini, kurasa aku akan beristirahat panjang."


"Aku juga berpikiran sama."

__ADS_1


Richard dan Vivia mendekat ke arah kami dengan tubuh babak belur.


"Kalian baik-baik saja?" tanyaku.


"Mana mungkin baik-baik saja, kupikir barusan aku akan mati."


Dia pasti lupa bahwa dirinya abadi, di sisi lain tubuh Richard terlihat meregenerasi sendiri.


"Richard, kau?"


"Ada apa Aksa?"


"Bukan apa-apa, aku yang akan menggunakan kristal teleportasi."


"Itu sangat membantu."


Dalam sekejap kami muncul di penginapan Natalie, dia tampak terkejut melihat kami yang telah babak belur lebih dari sebelumnya.


"Kalian terlalu nekat, mari aku bantu."


"Terima kasih."


Sirius membopongku ke teras belakang lalu memintaku untuk melepas pakaianku, ia dengan hati-hati mulai membersihkan lukaku kemudian mengoleskan obat yang diberikan oleh Natalie sebelumnya.


"Perih."


"Master bertahanlah, aku akan mengoleskan seluruh obatnya di tubuhmu."


"Gunakan secukupnya."


"Aaaaa...."

__ADS_1


Dari dalam penginapan teriakan Kazel terdengar sangat keras yang mampu membuatku mengerang kesakitan, sepertinya tulang-tulangnya sedang dibetulkan sekarang.


__ADS_2