
Vivia mengajakku ke sebuah tempat di pesisir pantai, merasakan hembusan angin aku bisa melihat sosoknya berdiri di dekat air yang sedikit menyapu kakinya.
Bagaimana pun kami hanya terpaut lima meter saja.
Dia membentangkan tangannya selagi menarik nafasnya dalam-dalam.
"Aroma laut memang yang terbaik, sudah lama terakhir kali aku kemari, bagaimana menurutmu?"
"Indah sekali."
"Lautnya memang indah."
"Tidak, maksudku kau Vivia."
"Apa yang kau katakan?"
Dia memalingkan wajahnya dariku dengan wajah memerah.
Awalnya kukira Vivia adalah sosok yang keras dan tangguh namun sepertinya aku salah, Vivia yang sebenarnya memanglah Vivia yang kutemui saat pertama kali. Tepatnya saat aku diusir oleh guild dan ia menawarkan bantuan padaku hingga membawaku ke kota Antares, seharusnya aku sudah menyadari hal itu.
Dan hari ini dia membuang zirah besi yang dikenakannya.
Aku berdiri di sampingnya untuk melakukan hal sama sehingga Vivia menjelaskan.
"Dulu sekali saat aku masih kecil kota yang kami tinggali telah lenyap seutuhnya dan hanya aku maupun Heliet saja yang tinggal. Heliet cengeng dan penakut demi membuatnya terus maju, aku membuat diriku menjadi sosok yang kuat dan terus mendorongnya sampai sejauh ini hingga ratusan tahun lama, pasti kau merasa jijik atau sebagainya hingga pada akhirnya aku sulit mengendalikan kepribadianku saat mengenakan seragam kesatria."
"Apa yang kau katakan, bukannya bagus jika memiliki dua kepribadian seperti itu."
Vivia menatapku dengan pandangan bingung seolah menunggu perkataanku selanjutnya.
Aku tidak ahli dalam hal seperti ini tapi di saat inilah perkata pria sangat dibutuhkan untuk seseorang.
"Itu.. maksudku, jika berkencan dengan Vivia itu seperti berkencan dengan dua orang berbeda di waktu bersamaan. Bukannya aku beruntung."
"Karena hidup dikelilingi wanita Aksa jadi pandai merayu."
"Yah, tidak juga."
__ADS_1
Vivia tertawa kecil.
"Jadi siapa yang akan kau pilih?"
Aku diam-diam memikirkan sosok Malifana.
Apa yang dikatakannya memang benar.
Vivia jatuh cinta padaku dan itu memang sudah dari awal saat aku datang ke dunia ini dan mengaku bahwa aku berasal dari daerah pinggiran.
"Jika aku memilih satu dari kalian kuyakin akan banyak hati yang terluka karena itu kurasa aku akan menikahi semuanya."
"Hoho kau sangat serakah Aksa... apa bagian bawahmu akan baik-baik saja?"
Dia mengatakannya.
"Itu kalau mereka tidak keberatan, saat kau melihat bunga di padang pasir dibanding mengambil satu untuk dirimu dan meninggalkan bunga yang kau tahu akan mengering mati, aku akan mengambil semuanya dan membiarkan mereka tumbuh sebaik yang mereka inginkan dengan air dan pupuk yang nantinya akan digunakan mereka untuk tumbuh."
"Begitu, kau terlalu baik. Aku akan merahasiakan ini sampai waktunya kau mengambil sebuah keputusan."
"Terima kasih."
Kami berdua berpisah di jalan dan aku hanya melambai ke arahnya sebelum kembali ke mansion, walau pintu dan jendela terkunci aku bisa menembus dinding dengan meniru kemampuan Shinji namun sepertinya pintu tidak terkunci.
Saat berada di dalam tiba-tiba aku bisa melihat semuanya.
"Kalian, kenapa ada di sini?"
Meliana menunjukan sebuah bola kristal ke arahku sebelum menghilangkannya. Tanpa menjelaskan aku sudah tahu maksudnya.
"Kalian memata-mataiku."
"Itu, ah... aku harus membawa makan malamnya ke meja."
"Aku juga akan membantu."
"Aku melupakan sesuatu di kamarku."
__ADS_1
"Sudah waktunya menyirami halaman."
Mereka semua melarikan diri.
Heliet Ladeosfa.
Liz Calista.
Naula Runer.
Noela.
Lulu.
Margaret.
Meliana.
Ayumi.
Cardina.
Malifana.
Jangan bilang kalian semua?
Dan kini hanya menyisakan Nicol, Alyssa dan juga Amber.
"Jangan khawatir aku ini tetap akan jadi adikmu, lebih dari itu, kakak tersayangku ternyata sangat populer... bunga yang kakakku ambil jadi lebih banyak," kata Amber.
Wajahku memucat.
"Kalian mendengarnya."
"Begitulah."
Jika menghitung Jeanne, Vivia dan juga Freya, itu memang jumlah yang sangat banyak.
__ADS_1
Seharusnya aku tidak memutuskan secara cepat.