
Setelah meletakkan barang bawaan kami, kami langsung mencoba pemandian air panasnya, di dalam kolam itu aku menyandarkan punggungku pada pinggir batu selagi mendesah pelan, sampai sosok Alyssa berlari ke arahku tanpa mengenakan apapun untuk menyembunyikan tubuhnya.
"Aksa, aku ingin mandi denganmu."
Dia meluncurkan dirinya ke kolam lalu bersandar di dekatku.
"Jangan mengambil kesempatan duluan."
"Guru juga," kataku terkejut.
"Aku sudah meminta izin untuk menggunakan pemandian ini bersama, katanya Oke," balasnya selagi mengacungkan jempol.
Aku membiarkan nona Heliet berada di sebelah kiriku sementara Alyssa berada di sebelah kananku, jika dilihat dari sudut pandang orang lain kami malah mirip seperti sebuah keluarga sekarang.
"Nah Aksa siapa yang kau pilih, aku atau Alyssa?"
"Pertanyaan yang sangat sulit, aku akan pilih Alyssa."
"Yaataa."
"Sulit apanya? Kau menjawabnya dengan cepat."
"Aku cuma bercanda, kalian berdua sangat berharga karena itu, aku akan memilih kalian berdua."
"Kau berniat poligami kah, yah.. jika itu sembilan orang aku masih tidak keberatan."
"Apa yang kau katakan di depan anak kecil? Lagipula aku menghormatimu sebagai guru."
"Tidak menarik."
Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk berendam dan selanjutnya setelah mengenakan pakaian kami, kuputuskan untuk sedikit berjalan-jalan di kota selagi menikmati kuliner yang ada di tempat ini.
Semua harga sangat mahal karenaya aku hanya bisa membeli beberapa makanan manis untuk kami bertiga.
"Keterlaluan, ini sama saja dengan perampokan."
__ADS_1
Yang dikatakan oleh guruku memang benar, jika terlalu banyak menghabiskan uang di sini, itu sama saja akan menghabiskan seluruh perbekalan nanti, akan lebih baik jika kami tidak terlalu lama di sini dan meninggalkan kota secepat mungkin.
Ketika aku berfikir demikian beberapa kesatria dari ibukota telah muncul di depan kami, mereka mengenakan pakaian biru putih serta pedang yang digantung di pinggang mereka.
Satu wanita elf dengan rambut hijau, seorang pria bertubuh besar dengan telinga dan ekor serigala, dan satu lagi seorang kesatria wanita berambut pirang sebahu.
Satu orang lagi muncul dari belakang dan ia adalah Richard.
"Kau disini juga Aksa."
"Kau rupanya, itu..."
"Richard, kau sengaja menjahiliku."
"Haha ketahuan, lalu siapa mereka?"
"Benar juga, ini kelompokku.."
Wanita elf bernama Stella.
Pria serigala bernama Gerald.
"Apa kalian datang karena urusan pemilik tanah?"
"Kau sudah tahu, aku tadinya memiliki tugas untuk mencari keberadaan Oracle, tapi sayangnya urusan ini juga penting."
Setelah mengobrol sebentar, aku hanya melihat kepergian mereka dari tempatku berdiri.
Jika ada mereka kurasa semua masalah akan terselesaikan dengan baik.
Keesokan paginya kami bersiap untuk pergi, sebelum kereta berjalan seorang wanita elf menghentikan kereta kami, tubuhnya terlihat sempoyongan.
"Kau baik-baik saja?" kataku demikian.
"Dia anggota Richard," tambah nona Heliet yang mana kujawab dengan anggukan kecil.
__ADS_1
Untuk sekarang kami membawanya keluar kota lalu memberikannya sihir penyembuh.
"Apa yang terjadi Stella?" tanyaku padanya.
"Awalnya kami akan membeli kembali kota ini dari pria itu akan tetapi dia malah meracuni kami dengan asap beracun."
"Bagaimana dengan pemilik tanahnya?'
"Dia sudah mati di kediamannya."
"Dengan kata lain kalian diserang saat memasuki rumah pemilik tanah," atas pernyataanku Stella mengiyakan.
Sebenarnya apa yang dia incar dari kota ini.
"Apa kau memiliki peta kota ini?" aku kembali bertanya sementara Alyssa maupun nona Heliet hanya mengawasiku dari belakang.
"Tentu."
Aku menerima peta tersebut lalu membentangkannya di tanah.
"Memangnya ada apa Aksa?" tanya nona Stella.
"Jadi begitu, apa kau pernah mendengar rumor bahwa harta karun dikubur di bawah kota ini?'
"Tidak."
Guruku memotong.
"Maksudmu soal apa yang dikatakan receptionis kemarin."
"Benar, sebenarnya bukan harta karun yang ada di bawah kota ini.. melainkan kota ini dibangun di lokasi pertambangan."
Semua orang kecuali Alyssa terkejut.
Saat aku menunjuk sedikit jauh dari kota ada lokasi pertambangan di sana yang mana terhubung dengan kotanya sendiri.
__ADS_1
"Aku pikir mereka tidak bisa menggali lagi karena ada kota di atas mereka, tapi jika kotanya di hancurkan mereka bisa dengan mudah mengambil harta di bawahnya."
"Jadi itu alasannya, mereka juga ingin menuduh kami yang membunuh tuan tanah sebelumnya, agar memudahkan rencana mereka," kata Stella yakin.