Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 27 : Duel


__ADS_3

Aku meminta Lulu dan guruku untuk kembali ke kota sementara aku dan Richard harus dihadapkan dengan ketiga orang terpenting di kerajaan ini.


Pertama adalah wanita yang sebelumnya aku temui, seorang wanita berambut pirang twintail bernama Vermilion Lydia. Dia adalah komandan kesatria dari kerajaan ini.


Yang kedua wanita berambut putih yang seluruh penampilannya mengenakan warna yang sama, dia memiliki kulit seputih salju serta aura yang menenangkan, dialah Serena Esfa, orang yang bertanggung jawab untuk para kesatria suci atau lebih pantas kusebut Oracle dari Dewi Nermala.


Dan satu lagi tentu saja ratu dari kerajaan ini, Kalina Elysium.


Ketiga orang ini adalah orang yang membawa kerajaan ini menjadi berkembang seperti sekarang, aku tidak akan mengatakan bahwa wanita memiliki otoritas tinggi atau semacamnya karena sejujurnya aneh juga bahwa pria tidak berguna di kerajaan ini.


Aku hanya diam memperhatikan saat Richard menjelaskan situasi yang terjadi di kota, untukku sendiri aku lebih suka segera pulang dan bersantai di sana.


"Jadi begitu, hal yang nona Oracle katakan akhirnya terjadi juga," atas tanggapan ratu, Serena hanya mengangguk mengiyakan sementara itu Vermilion menatap ke arahku dan bertanya.


"Kudengar kau murid dari nona Heliet?'


"Maaf belum memperkenal diri, namaku Aksa aku seorang petualang biasa."


Ketiganya akhir menatapku seperti hewan karnivora yang lapar akan makanan.


"Menarik, kau utusan Dewi Nermala," jelas saja jika Serena tahu akan hal itu, meski begitu.


"Jika dibilang utusan sepertinya terlalu berlebihan, aku hanya memiliki sedikit hubungan dengan Dewi."


"Seperti kekasih?" tanyanya kembali.

__ADS_1


Lebih tepatnya aku menganggapnya seperti seorang ibu, tapi aku lebih ingin merahasiakan hal ini.


"Tidak, aku hanya saling mengenal."


"Mencurigakan."


Apanya yang mencurigakan?


Kini giliran Vermilion.


"Tanganmu terlihat terlatih menggunakan pedang, apa kau yakin tidak ingin menjadi seorang kesatria?"


"Aku hanya memiliki cita-cita hidup tenang bersama guruku sebagai pemilik toko obat."


"Kau mencintai gurumu ya."


Aku hanya bisa terbatuk-batuk.


Dan terakhir adalah sang ratu.


"Kau sudah menyelamatkan kota ini, apa pun hadiah yang kau minta akan aku berikan, cobalah untuk mengatakannya padaku."


"Terima kasih atas tawarannya, ketika aku memiliki permintaan di masa depan aku akan memintanya."


Ratu tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kau pintar juga, kau ingin menjadikan tawaranku sebagai kartu truf di masa depan."


"Aku lebih suka menggunakan kesempatan bagus di saat paling genting."


Dibanding aku, bukannya mereka bertiga ini sangat menakutkan, Richard bahkan terlihat hanya tersenyum pahit seolah ingin pergi dari sini secepatnya.


Vermilion berkata ke kami berdua.


"Kalian sudah bekerja keras, untuk Richard akan dipromosikan menjadi kapten buatlah beberapa kelompok dan temukan orang-orang dari Oracle itu."


"Baik."


"Dan untuk Aksa, aku akan memaksamu untuk bergabung dengan kesatria kecuali kau bisa mengalahkanku dalam sebuah duel pedang."


"Asalkan aku bisa keluar dari sini aku tidak keberatan."


Kami pergi ke tempat dimana para kesatria biasanya berlatih, melihat kami semua kesatria memberi hormat.


Vermilion mengambil dua pedang yang mana satunya dia berikan padaku, di saat semua orang menonton dari pinggir, aku sedang berhadapan dengannya satu lawan satu.


Aku memegang pedang dengan kedua tanganku lalu melesat maju.


Bunyi dentingan memekikkan telinga terdengar seiring pedang kami yang saling bertubrukan, aku mengambil dari sisi kiri sementara Vermilion mengambil sisi sebaliknya, sudah lama sekali aku tidak bertarung seperti ini seolah mengingatkanku soal masa lalu ketika aku bertemu gadis itu.


"Bangunlah Aksa, bukan hanya itu kan kemampuan berpedangmu?" kata gadis itu menunjukan Shinai di tangannya.

__ADS_1


*Shinai : pedang bambu yang digunakan dalam olahraga Kendo.


__ADS_2