Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 104 : Orang yang Melindungi dan Orang Yang Akan Menghancurkan Segalanya


__ADS_3

"Dunia ini telah membusuk sampai akarnya, dengan menghancurkan dunia ini maka semua orang tak perlu menderita lagi."


"Kau?"


Lesoria menerjang dengan pedangnya, dari posisinya menyerang Leonardo dengan baik menangkap tangannya lalu melemparkannya jauh ke atas sebelum menghantam ke tanah.


Dari kami semua, kami menolak tawarannya untuk bergabung.


Jeanne tak tinggal diam, dia mengayunkan pedang dari samping yang mana ditangkap oleh satu tangan Leonardo sebelum menendang perut Jeanne mengikuti arah Lesoria.


"Kesatria suci bukanlah apa-apa bagiku, kalian tidak pernah merasakan apapun soal kehilangan, setelah peperangan yang terjadi antara raja iblis, Naga dan Penyihir seluruh keluargaku telah mati bahkan desaku juga.... dunia ini tidak punya masa depan lagi, akan lebih baik jika hancur saja."


"Dunia ini memang sudah hancur, meski begitu masih ada jalan untuk memperbaikinya, bahkan Dewi Nermala masih tetap melindungi dunia ini."


"Melindungi haha dia hanya membiarkan penderita semua orang semakin lama, semua orang yang mati tidak bisa dihidupkan kembali hingga pada akhirnya sebuah lubang akan tercipta di dalam hati manusia, sebuah lubang yang disebut Neraka kesepian... Menurutmu apa dunia ini bisa diselamatkan?"


Aku melirik ke arah Jeanne dan Lesoria, sudah kuduga mereka telah mencapai batasnya bahkan hanya untuk berdiri mereka tidak bisa melakukannya.


"Bagiku harapan tidak pernah hilang meskipun hanya sedikit," balasku demikian.


"Harapan hanya akan menghasilkan keputusasaan yang lebih banyak, misal dunia ini damai kebencian tidak akan pernah hilang.. perang akan terus terjadi entah itu beberapa tahun atau puluhan tahun hal itu akan datang."

__ADS_1


"Jika begitu aku akan di sana menghentikannya, aku tidak akan meminta semua orang memaafkan orang-orang yang telah membunuh teman, keluarga atau orang yang penting yang mereka miliki, akan tetapi aku hanya akan meminta mereka untuk berkompromi."


"Kompromi, lucu sekali... kau ingin semua orang yang terluka berkompromi untuk tidak membawa kebencian mereka pada generasi selanjutnya, hal itu tidak mungkin... Jika kau berniat melindungi semuanya maka aku adalah orang yang akan menghancurkan segalanya."


Leonardo menciptakan pedang di tangan kanannya lalu melesat ke arahku, kami saling beradu pedang dengan kecepatan yang sulit dilihat dengan mata telanjang.


"Bagi penyihir kau cukup hebat bermain pedang."


Trang.


Kami berdua menjaga jarak sesaat sebelum kembali beradu pedang, kilatan cahaya bercampur suara memekikan telinga tercipta dari setiap benturan.


"Inferno."


Sihir apiku bisa ditahan dengan penghalang miliknya.


"Kau juga bisa menggunakan sihir tanpa rapalan."


"Aku sudah tahu bagaimana Meliana melakukan sihir ini di masa lalu... Hell Flame."


Ombak api menerjang ke arahku dan kugunakan Ice Wall untuk menahannya hingga asap mengepul ke udara.

__ADS_1


Dari balik asap itu sosok Leonardo muncul selagi mengayunkan pedangnya dari atas. Aku menahannya hingga menghasilkan hembusan angin yang menjalar ke sekelilingku.


Ketika kami saling mengunci satu sama lain, Leonardo merapal.


"Aku adalah pedang yang membunuh dewa, membawa dunia ke dalam bencana dan memasukkan semuanya ke dalam neraka kehancuran."


"Sihir ini?"


"Sihir terlarang.. Abelona."


Ribuan pedang muncul di atasku yang berjatuhan layaknya sebuah hujan, aku segera mundur untuk menghindarinya, tidak sempat. Bahkan Lesoria dan Jeanne akan terkena juga.


Ketika aku dalam keputusasaan sebuah suara menyadarkanku.


Saat pedang hendak berjatuhan mereka menghilang dalam sekejap. Dari atas langit aku bisa melihat sosok nona Heliet duduk di atas sapu selagi menatapku dengan sebelah matanya.


Rambutnya yang berwarna hitam gelap tertiup angin bagaikan sosok gagak yang ditempa dengan warna senja yang mempesona.


"Syukurlah aku datang memeriksa kalian, Aksa baik-baik saja, kau terluka? Lihat aku! Apa kau masih mengenalku?"


Seperti biasa guruku terlalu berlebihan dia bahkan menggerakkan kepalaku ke kiri ke kanan untuk memeriksanya lalu menempatkan wajahku di antara dua gunung miliknya.

__ADS_1


"Syukurlah."


__ADS_2