
"Apa mereka akan baik-baik saja master?"
"Entahlah, tapi kurasa besok pagi mereka akan siuman."
Meninggalkan orang-orang dalam keadaan tidak sadar, aku berjalan sedikit jauh dari lokasi aku dan Sirius beristirahat.
Di sana kulihat hamparan buah-buahan yang berwarna kuning layaknya jeruk hanya saja ukurannya lebih kecil dari seharusnya.
"Ini buah yang kumaksud, sekali kau memakannya kau tidak akan pernah merasa kenyang dan terus makan dan makan."
"Buah yang mengerikan."
Aku mengulurkan tanganku dan berkata.
"Hell of the Abyss."
Dan dalam sekejap api dijatuhkan dari langit lalu membakar pohon tersebut sampai musnah.
"Lebih baik menghancurkannya dibanding banyak korban bertambah."
Di saat matahari terbit aku sudah memanggang daging rusa untuk para penduduk yang kutemui, mereka adalah korban dari konflik perang yang terjadi beberapa bulan lalu. Sayang sekali tapi hal ini yang biasanya dialami semua orang di dunia ini.
Aku memberikan sebagian uangku pada mereka lalu pergi dengan sepeda motor yang kubuat dari sihir penciptaanku, Sirius yang duduk di belakang terus memegangiku dengan erat sampai tibalah kami di sebuah rumah kecil dimana adik Richard berada.
Hari sudah sore saat kami berdua tiba di sana.
Rumah ini berada jauh dari rumah lainnya dan terkesan sederhana, saat aku mengetuk pintunya sosok wanita berambut biru panjang muncul selagi bertanya-tanya.
"Siapa yah?"
__ADS_1
Aku mengeluarkan pedang dari sihir penyimpananku yang kuberikan padanya, itu adalah pedang Richard.
"Bukannya ini? Di mana kakakku?"
Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali lalu melanjutkan.
"Dia memintaku untuk mengirimkan pesan bahwa dia menyayangimu."
Wanita itu duduk di lantai selagi memeluk pedangnya erat-erat, saat aku dan Sirius hendak pergi, wanita yang jelas bernama Ruri itu memegangi tanganku.
"Tolong tinggal di sini beberapa hari, aku mohon."
Tanpa menanyakan alasannya, aku hanya mengangguk mengiyakan. Kami saling memperkenalkan diri dan Ruri memberikan kamar kosong yang sudah tidak ditinggali, jika melihatnya dia hanya tinggal di sini seorang diri saja.
Sirius membaringkan tubuhnya di ranjang selagi menggerak-gerakan kakinya.
"Membulatkan tekad."
"Maksudnya?"
"Nanti juga kau akan tahu, sebelum itu aku akan pergi dulu... hingga sampai aku kembali kau harus menemaninya di sini."
"Aku mengerti."
Aku mengeluarkan koper dari sihir penyimpananku dimana isinya hanyalah mantel hitam serta topeng yang sudah kusiapkan sebelumnya.
Topeng itu memiliki setengah warna putih dan hitam tanpa hidung dan mulut kecuali mata dengan pola air mata.
Aku mengenakannya lalu menutup wajahku dengan topeng.
__ADS_1
"Master benar-benar ingin melakukannya?"
"Tidak ada jalan lagi Sirius, inilah yang terbaik untuk dilakukan."
"Aku sebenarnya tidak ingin melihat master menyebrang ke sisi gelap."
Aku mengelus kepala Sirius beberapa kali.
"Aku tidak akan melukai siapapun yang tidak bersalah, ada seseorang yang harus mengambil peran ini dan itu lebih baik aku yang menanggung semuanya. Aku juga ingin membuat Ruri mendapatkan haknya kembali."
"Berhati-hatilah master."
Sirius tersenyum lembut ke arahku.
"Aku pergi."
Aku mengarahkan tanganku dan memunculkan gerbang perpindahan, sama seperti teleportasi aku bisa pergi kemanapun selagi aku pernah mengunjunginya.
Saat aku memasukinya aku telah berada di ibukota Elysium tepatnya di sebuah bangunan tinggi yang mana membuatku bisa melihat jelas Istana yang akan kumasuki.
Pada malam harinya aku diam-diam menyelinap ke kamar raja dan ratu lalu mengarahkan senapan ke arahnya.
"Percuma saja, raja telah kuberikan obat bius, hingga dia tidak akan terbangun sampai pagi hari," aku segera mengarahkan senapanku pada orang yang berbicara tersebut.
Di dekat pintu keluar tampak seorang wanita menyilangkan tangannya dengan percaya diri, dia mengenakan gaun putih terbuka dan dia adalah ratu dari kerajaan ini.
"Aku sudah tahu kau akan datang kemari, kau pasti ingin menanyakan soal apa yang terjadi dengan keluarga Richard bukan, ikutlah denganku aku akan menceritakan apa yang ingin kau ketahui, Aksa."
Ratu ini jelas bukan orang biasa.
__ADS_1