
Belajar sihir pesona akan berguna saat aku melawan penggunaan skill Charm, beberapa pekerja rumah bordil atau para bangsawan wanita terkadang memakainya juga yang mana digunakan untuk menjerat pria dalam kendalinya. Meskipun aku mengatakan belajar tidak ada latihan khusus soal itu.
Aphrodite hanya memberikanku skill dan aku langsung bisa menggunakannya, kebanyakan yang kulakukan di kediamannya hanya mengobrol satu sama lain sembari ditemani segelas teh hangat.
Aphrodite hanya ingin ada seseorang menjadi teman bicara hanya itu. Kecantikannya mirip sebuah racun mampu mempengaruhi tubuh serta akal sehat orang lain.
Tapi di saat yang sama Aphrodite adalah kecantikan yang sesungguhnya.
"Mau teh lagi Aksa atau mau aku?"
"Teh saja."
"Kamu bisa memilih keduanya loh, jika mau kau tahu, beberapa dewa juga menikah dengan manusia dan kita bisa memiliki keturunan."
Siapa yang kau maksud kita.
Aku menyeruput teh baru yang dituangkan olehnya.
"Ngomong-ngomong aku sedikit terkejut bahkan kecantikanku tidak mempengaruhimu apa kau benar-benar manusia?"
"Tolong jangan meragukan kemanusiaanku."
"Biasanya orang akan memintaku untuk menginjaknya tapi kau berbeda."
"Tolong garis bawahi, aku bukan super mesum atau masokis yang kau kenal."
Aphrodite tertawa.
Dia sangat manis saat seperti itu.
"Aku jadi malu."
Dia membaca pikiranku.
"Kurasa sudah waktunya aku kembali."
"Eh secepat itu?"
__ADS_1
"Banyak hal yang harus kulakukan di dunia, lain kali aku akan mampir lagi."
"Sungguh disayangkan tapi Aksa memang benar, untuk selanjutnya mohon bantuan lagi.. lain kali kita bisa mandi bersama."
Aku hanya tersenyum sebagai balasan dan selanjutnya aku menemukan diriku ada di kamarku lagi.
Kenapa kecantikan Aphrodite maupun dewi lainnya tidak berpengaruh padaku adalah karena sebelumnya aku selalu berdekatan dengan Nermala, aku tanpa sadar menyerap energi dewinya hingga aku bisa mengontrol diriku bahkan setelah itu pesona dewi tidak bekerja lagi padaku.
Aku sungguh berterima kasih pada semua dewi yang telah membantuku.
Pemintaan aku untuk bisa melihat Dewi Nermala bukanlah hal salah. Selagi memikirkan itu aku menutup mataku dan keesokan paginya kami telah berangkat meninggalkan kota Antares.
Tak hanya Naula dan Liz, aku juga mengajak Alyssa yang merupakan gadis kecil vampir, aku selalu meninggalkannya di mansion jadi kupikir aku akan membawanya sesekali.
Dia terus memelukku bahkan saat aku sedang sibuk mengendalikan kereta kuda. Malifana yang duduk di sebelahku memicingkan matanya curiga.
"Lolicon."
Dan Naula dan Liz yang berada bersama barang muatan juga menatapku dengan mata yang sama.
"Kalian salah paham."
Selagi memikirkan itu kereta kami telah melewati padang rumput berbunga dan lalu memasuki beberapa desa, dalam waktu beberapa hari kami sampai di perbatasan kerajaan Elysium.
Kami memutuskan untuk beristirahat di kotanya, ada beberapa kesatria yang menjaga kota ini dan sepertinya mereka orang yang kuat khususnya seorang pria tua yang menatapku selagi menghisap rokok di mulutnya.
"Namaku Edward Cornell aku menyambut kalian di kota yang kujaga, hanya saja... kenapa gadis ini menggigit kakiku?"
Aku memisahkan Alyssa darinya.
"Tunggu, dia vampir... aaah, aku mulai berubah jadi vampir kalian semua cepat lari."
Orang ini pelawakkah.
"Hal seperti itu tidak akan terjadi, salahmu sendiri karena kau mencubit pipinya."
"Dia gadis yang imut, topi sihir dan jubahnya juga sangat cocok... kemarilah gadis kecil, sini, sini."
__ADS_1
Menakutkan sekali.
"Ogah aku hanya ingin bersama Aksa."
"Namamu Aksa?"
"Benar, kami dari kota Antares."
"Begitukah.. kau yang membunuh Richard bukan?"
Aku sedikit terkejut dengan perkataannya namun segera berusaha tenang.
"Kenapa kau mengetahuinya?"
"Semua orang dijajaran kesatria pasti mengetahuinya, tapi jangan salah paham tidak ada yang menyalahkanmu.. sungguh di sayangkan darah naga di tubuhnya telah menggerogotinya."
Jika dia tahu sejauh itu maka dia cukup dekat dengan Richard.
Seolah membaca pikiranku pria tua itu melanjutkan.
"Richard pernah memintaku untuk mengajarinya menggunakan pedang ketika dia di markas kesatria, dia orang yang bekerja keras."
Aku bisa mengerti itu.
"Aaah... aku terlalu menahan kalian, masuklah dan nikmati waktu bersantai kalian di sini."
"Terima kasih."
"Di mana kau ingin tinggal."
"Kurasa di distrik empat."
"Pilihan bagus, tapi berhati-hatilah ada beberapa orang dari kerajaan Animalia yang menyusup di kota ini."
"Aku akan berhati-hati."
Dia sengaja mengatakannya agar aku membantunya nanti. Kurasa aku tidak keberatan jika mereka muncul di depanku.
__ADS_1
Edward menyesap rokoknya lalu membuang asapnya ke udara setelah kepergian kereta kami.