
Seiring waktu pertarungan terlihat seolah tidak bisa dimenangkan oleh siapapun, Vermilion menebas sementara aku menahannya dan begitu juga sebaliknya tanpa meninggalkan damage yang berarti.
"Ini pertama kalinya aku melihat seseorang bisa mengimbangi kekuatan dari komandan, siapa orang itu?"
"Dari yang kudengar dia murid nona Heliet."
"Mustahil, jika dia muridnya tidak mungkin bisa memainkan pedang sebaik itu."
"Memang benar, kalau soal sihir aku sudah tidak heran lagi jika dia sangat mahir."
Semua orang memang bisa berbicara bebas semau mereka, aku berlari dari samping untuk memberikan sedikit pukulan pada Vermilion, dia mampu membaca gerakanku membuat dirinya melompat ke belakang.
Entah itu Richard, Serena atau Kalina, ketiganya tetap menunggu hasil akhir.
"Pertarungan semakin membosankan, bagaimana kalau kita sedikit merubah aturan duel?"
"Aku tidak keberatan sih," jawabku lemas.
"Kalau begitu mari berduel tanpa menahan seluruh kekuatan kita."
"Tentu."
Vermilion membentuk sebuah lingkaran sihir emas di bawah kakinya, bersamaan itu roh wanita muncul dari dalam lingkaran yang mana terbang melayang selagi memeluk Vermilion.
Tubuhnya menyerupai manusia pada umumnya hanya saja hampir seluruh pakaiannya berwarna emas. Dia menatapku selagi memiringkan kepalanya.
"Oh, sudah lama sekali aku tidak melihatnya Vermilion.. kau beruntung Aksa," kata ratu.
Beruntung apanya? Dan juga bukannya dia terlalu bersemangat soal ini lagipula aku sudah tahu apa itu, itu bukanlah roh biasa melainkan roh terkontrak yang mana memberikan kemampuan kepada pemiliknya.
"Astral kah," kataku singkat.
"Kau mengetahuinya juga, memang benar kau murid Heliet."
__ADS_1
Astral adalah sebuah roh yang mampu membentuk dirinya mejadi zirah yang mana bisa digunakan pemiliknya untuk bertahan maupun menyerang.
Kebetulan saja yang dimiliki Vermilion sedikit langka.
Saat Vermilion menarik pedangnya dia berkata.
"Knight Mode."
Dan begitulah seluruh tubuhnya di selimuti oleh baju besi emas itu, wajahnya yang cantik tertutup helm.
"Kau mau menyerah?'
"Memang benar ini kemampuan khusus... kalau tidak salah orang yang memiliki kemampuan ini selalu disebut sebagai pembunuh naga."
"Sejak kapan kau?"
Meninggalkan pedang menancap di tempatku sebelumnya berdiri, aku telah berada di belakang Vermilion saat dia tak melihatnya, jika itu dulu aku pasti akan kalah jika harus berhadapan dengan sihir semacam ini, akan tetapi tujuanku lebih dari ini.. aku harus bisa memanjat menara putih dimana Dewi naga itu berada, karenanya aku telah menghafal berbagai buku entah itu tentang sihir, Alkimia ataupun pertarungan apapun yang bisa digunakan dalam bertarung.
Vermilion tampak kesal selagi menunjuk ujung pedangnya.
"Aku belum kalah."
"Benarkah"
Prang.
Aku menjentikkan jariku dan zirah itu hancur bagaikan kepingin kaca yang berserakan, jangan khawatir soal rohnya, tubuh mereka bisa membentuk kembali ulang dirinya walaupun membutuhkan waktu sedikit lama.
"Magic Script."
Aku berjalan pergi dan berkata tanpa menoleh.
"Guruku tidak terlalu pandai memasak, aku harus pergi sekarang.... sampai nanti."
__ADS_1
Dalam keheningan itu, aku menggunakan sihir teleportasi dan muncul tepat di toko nona Heliet, membuka pintu kutemukan dirinya sedang duduk di meja selagi terlihat tak bersemangat.
Aku duduk di depannya.
"Sedang datang bulan?"
"Aksa, kau mengatakan hal mesum."
Aku mendesah pelan.
"Jadi kenapa?"
"Aku ingin pergi ke kampung halamanku entah kenapa aku merindukannya. Hanya saja untuk pergi ke sana memerlukan biaya besar dan perjalanan yang jauh... aku juga ingin memakan banyak makanan yang kusukai."
"Guru pandai sekali memeras," kataku lemas dan dia hanya tersenyum senang.
Setelah memberikan uang ganti rugi pada guild dimana itu adalah uang hasil kemenanganku, aku dan guruku keluar dari toko kecil kami.
Aku sudah menaikkan barang bawaan kami ke dalam kereta kuda yang kusewa, sudah waktunya kami berangkat.
Aku menggantung tulisan 'Toko tutup sementara waktu' lalu naik ke atas kursi pengendali.
"Ngomong-ngomong guru, bagaimana kesehatanmu?"
"Aku tak apa, berkat ramuan herbal yang kau buat aku tidak terlalu kesakitan."
"Syukurlah, mari pergi."
"Yeah."
Aku mengalihkan pandangan ke arah menara putih yang jauh dari tempatku berada.
Tunggulah, suatu hari nanti aku akan mendakinya sampai lantai paling atas.
__ADS_1