Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 288 : Kejadian Yang Sering Terjadi


__ADS_3

Dari lantai pertama kami dihadapkan dengan kumpulan para slime yang muncul dari celah-celah bebatuan.


Vermilion mengayunkan pedangnya membentuk pola diagonal yang membunuh para slime dengan mudahnya lalu disusul dengan Serena yang melepaskan sihir ilusi yang mampu mengecoh slime untuk menyerang tempat yang salah dan di saat yang sama Mavis mengulurkan perisainya untuk membentuk rahang naga yang melahap seluruh slime dalam sekali terkaman.


Kebanyakan pengguna perisai tidak akan sehebat dirinya di mana tidak hanya bertahan dan melindungi rekannya, dia juga petarung dilevel S.


"Perisai itu sangat mengerikan."


"Bisakah kau memilih kata-kata yang bagus," balas Mavis atas pernyataan Vermilion, sementara aku melirik ke arah Serena yang terlihat jijik dengan tubuh Slime di tangannya.


"Cairan lengket ini mengingatkanku akan sesuatu."


"Berhenti memainkan lendir itu," teriak Vermilion.


Aku juga akan menyuruhnya untuk berhenti.


Lantai pertama sangatlah luas meski begitu kami menemukan jalan untuk menuruninya.


Kami turun ke lantai ke dua yang sedikit lebih luas dan berbahaya, di lantai ini bisa aku temukan tubuh tengkorak berserakan dan dari mereka tampak mati secara mengenaskan.

__ADS_1


Aku tidak heran jika ada bos lantai di sini dan dugaanku benar, sosok lendir hijau dari atas dinding mulai berjatuhan, bergerak lalu menyatu membentuk dirinya sendiri menjadi slime berukuran setinggi 10 meter, slime ini menumbuhkan beberapa tentakel mirip gurita yang menjadikannya seperti makhluk aneh.


Dia membanting satu tangannya memaksa kami untuk melompat mundur sebelum memberikan serangan balasan, Serena tidak ahli dalam pertarungan kendati demikian dia bisa menggunakan sihir pelindung untuk membuat kami bergerak lebih cepat dan kuat.


Aku menciptakan pedang di tanganku untuk memotong tentakel yang terarah langsung padaku, di saat yang sama Mavis dan Vermilion maju ke depan.


"Vermilion majulah."


"Baiklah."


Mavis mengulurkan tameng perisai ke depan yang diinjak oleh kedua kaki Vermilion, dengan sedikit dorongan tubuh Vermilion di kirim ke atas bersiap mengayunkan pedangnya memakai dua tangan.


Memanfaatkan daya gravitasi dia melesat jatuh ke bawah setelah memotong slime itu menjadi dua bagian.


Dengan membawa mereka kemari, aku sedikit bisa lebih bersantai.


Dari slime kami turun lebih jauh dan beristirahat di lantai 5, tepatnya di sebuah gua. Labirin ini terlalu luas untuk dijelajahi dengan cepat jadi akan lebih baik untuk melakukannya secara perlahan-lahan.


Karena petualang enggan datang kemari jumlah monsternya terlalu banyak memaksa kami terus bertarung secara gila-gilaan.

__ADS_1


Aku membuat api dari kayu bakar yang kusiapkan lalu membakar beberapa daging yang sebelumnya kubeli dan ditaruh di sihir penyimpananku.


"Hehe ini akan jadi liburan yang hebat."


"Yah, aku juga setuju... bahkan jika aku kembali lebih dari jadwal yang kutentukan itu tidak masalah."


Mereka terlalu terbawa suasana, di sampingku Mavis hanya mendengarkan selagi melahap makanannya dengan riang.


"Ini sangat enak loh."


"Syukurlah jika kau menyukainya, kalian bisa tidur di dalam futon jadi tidak usah khawatir dengan penjagaan, aku akan melindungi tempat ini dengan sihir dan untuk mandi aku menggunakan sihir penciptaanku untuk membuat kamar mandi di sana."


"Bukannya itu sesuatu yang mustahil?" teriak Vermilion maupun Serena yang kujawab dengan mengangkat bahuku ringan.


Jika begini mereka tidak perlu khawatir jika ingin buang air kecil atau mandi.


Beberapa kejadian ketika para gadis sedang buang air kecil dan berakhir diintip para petualang pria sering terdengar di guild.


Kau akan menemukan nama Kazel berada di peringkat pertama dan menjadi buronan para wanita setelah dia pergi berpetualang.

__ADS_1


Mari kesampingkan hal itu.


Pada akhirnya ketiganya berebut siapa yang lebih dulu memakainya.


__ADS_2