
"Apa maksudmu?" aku kembali bertanya untuk memastikannya kembali.
"Sudah kubilang lawan kita penyihir Oracle, ngomong-ngomong namaku Lisa dan ini adikku Boby, siapa kau?"
"Aku Aksa, aku berasal dari benua Lemuria. Tak kusangka ada penyihir Oracle juga di sini."
"Seperti itulah, mereka mengatakan ingin membangkitkan Dewa Dewi jahat mereka... betapa bodohnya," decap Lisa sementara adiknya hanya diam memperhatikan.
Tak lama kemudian para undead yang dibuat dari mayat para penduduk kota mulai bermunculan, aku sedikit khawatir dengan motorku jadi aku segera berlari ke arah dimana aku meninggalkannya.
"Oi kau mau lari?" teriak Lisa.
"Kuserahkan pada kalian."
Ini bukan waktunya mengobrol dengan kedua orang itu, saat aku menemukan kendaraanku seorang tengah duduk di atasnya, dia memiliki dada yang besar serta rambut coklat sepinggul jadi tidak sulit untuk tidak mengenalinya.
"Receptionis."
"Sebaiknya kau memanggil namaku dengan benar loh, aku sedikit terluka kau tahu."
"Tiffany."
"Itu lebih baik lagipula aku sudah membantumu melindungi motormu dari mereka."
Aku mengalihkan pandangan ke sekeliling dan kutemukan puluhan undead telah mati di dekatnya, orang yang kupikir tidak bisa melindungi dirinya sendiri malah orang yang terkuat, terlebih.
"Boleh aku tahu buku apa yang ada di tanganmu itu?"
__ADS_1
"Ah, ini kitab dosa mematikan keserakahan, Greed."
Aku memicingkan mata ke arahnya.
"Bagaimana kau bisa memilikinya? Selama ini aku mencarinya," kataku demikian.
"Heh, kau menginginkan buku mengerikan ini.. maaf saja, aku tidak bisa begitu saja memberikannya padamu."
"Jika dipikirkan kau memang serakah Tiffany, harusnya aku menyadarinya sejak awal."
"Haha, kurasa itu benar... semua hal di dunia ini adalah milikku, bukannya dadaku juga bentuk keserakahan."
Aku tidak bisa menyangkalnya, lebih dari itu.
"Apa kau yang mencoba menyerang kota ini?"
"Jangan salah paham, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan penyihir Oracle.. aku hanya ingin hidup normal di kota ini."
Sebelum gelombang muncul kembali aku harus menemukan keberadaan Nicol.
"Turunlah aku harus mengendarainya."
"Aku sudah duduk di sini, jadi sulit untuk turun."
"Terserahlah."
Aku segera memacu motorku, dan di saat yang sama ledakan kembali terjadi.
__ADS_1
"Benda sihirmu sangat nyaman, apa bisa lebih cepat lagi?" katanya selagi memelukku dari belakang, bantalan besar itu benar-benar menyerangku.
"Jika terlalu cepat aku sulit mencari keberadaan Nicol."
"Maksudmu gadis serigala itu."
Ketika aku mencoba mencarinya sesuatu muncul di depanku secara mendadak hingga aku menghentikan kendaraanku secepat yang kubisa.
Kulihat tanah mulai terangkat ke udara lalu membentuk tubuh raksasa menyerupai golem tanah, tak hanya itu di bawah kakinya tampak seseorang berpenampilan penyihir muncul.
"Siapa kalian? Beraninya kalian mengganggu urusanku."
Dia penyihir Oracle tapi aku tidak tahu Dewi atau Dewa yang dia sembah.
"Serang mereka," atas pernyataan si penyihir golem itu mengirim kedua tinjunya yang besar yang mampu membuat gelombang besar di tanah, aku maupun Tiffany turun untuk menghindarinya.
"Owh, itu nyaris sekali."
Untuk pemilik buku keserakahan dia cukup tenang.
"Bagaimana sekarang?"
"Bagaimana apanya, tentu saja aku harus menghadapinya."
"Kau sangat bersemangat soal bertarung."
Aku membiarkan perkataan Tiffany berlalu begitu saja.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat aku berlari menuju ke arah si penyihir, tentu saja golem itu menghalangiku dengan tangannya hingga membuatku harus mundur ke belakang selagi menutup mulutku agar tidak menghirup debu yang berterbangan di sekitarku.
Di sisi lain Tiffany hanya diam selagi mengawasiku.