Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 182 : Seorang Petualang Dengan Empat Pedang


__ADS_3

Di salah satu kota perbatasan antara kerajaan Elysium dan Animalia, seorang kesatria bernama Edward Cornell sedang menghadapi tujuh pria bertudung yang diduga sebagai penyihir, mereka adalah bawahan dari Oracle dewa jahat.


Dengan gerakan cepat Edward mampu menebas musuhnya hingga mereka tumbang tanpa bisa membalasnya, walau umurnya sudah berada di usia akhir 40an dia masih bisa bergerak secepat saat dia muda.


Perbedaan darinya hanyalah rambut yang sudah memutih dan kulit yang mulai menua.


Seorang kesatria biasa muncul dari belakangnya saat dia menyalahkan rokok di mulutnya.


"Komandan Edward, ada berita dari ibukota."


"Jangan sekarang... kita masih memiliki banyak musuh yang harus dihadapi," balasnya selagi menghembuskan asap dari mulutnya.


"Soal itu, berkat bantuan petualang kita berhasil memukul mundur mereka."


"Petualang, di kota terpencil ini.... terserahlah, aku akan menemuinya nanti. Lalu berita apa yang disampaikan ibukota?"


"Tuan Richard Rufus, telah gugur dalam tugas."


Keheningan terasa di antara keduanya. Edward mengambil rokok di mulutnya lalu menjatuhkannya.


"Sayang sekali, padahal orang itu sangat berbakat... jadi siapa yang membunuhnya?"


"Dituliskan bahwa saat beliau melawan Oracle Dewi jahat, dia kehilangan kesadaran dan yang membunuhnya adalah temannya sendiri bernama Aksa."


"Jadi begitu, kalian semua terus bersiaga dan lindungi penduduk, aku akan mengecek bagian depan."


"Baik."


Edward melompat ke atas rumah selagi menebas dua orang musuhnya, saat dia mendaratkan kakinya sekitar puluhan orang telah terbunuh di sekitarnya.


"Bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Ada orang kah."


Di depan Edward ia melihat seorang gadis berambut hitam berdiri dengan empat katana di pinggangnya, dia mengenakan celana pendek sementara bagian atas terbuka.


"Siapa kau?"


"Ayumi, maaf saja aku membunuh semuanya.. mereka juga mangsaku," bersamaan perkataannya sebuah tornado api, petir dan angin kencang terjadi di belakangnya.


Semua itu tercipta oleh anggota kelompoknya bernama Cardina, Meliana dan juga Margaret.


Edward hanya bisa diam karena kehilangan kata-katanya sampai dia bersikap seperti kesatria lalu membungkuk rendah.


"Edward Cornell, kami semua benar-benar berterima kasih."


"Terlalu dini untuk mengucapkan terima kasih, pertarungan sesungguhnya baru saja di mulai."


Ayumi menarik satu pedangnya lalu menusukannya di udara.


Saat Ayumi menariknya kembali, pria itu memuntahkan darah sebelum akhirnya tumbang.


"Kau bisa melihatnya?"


"Kau hanya Oracle rendahan, di mana dewa jahat yang kau puja."


"Kau tidak akan bisa mengalahkannya... karena kau akan mati di sini."


Sebuah asap hitam mengepul dari tubuhnya... entah itu Ayumi atau Edward keduanya melompat ke atas rumah.


"Apa yang dia lakukan?"


"Aku sudah melihat ini dalam perjalanan, mereka memanggil iblis ke dunia ini."

__ADS_1


"Iblis?"


Berbeda dengan Edward yang terkejut, Ayumi tampak terlihat bosan. Dia adalah orang yang berasal dari dunia lain dan juga termasuk teman kecil Aksa.


Ia memutuskan untuk berburu para Dewa-Dewi jahat untuk menyelamatkan dunia ini, namun sebenarnya Ayumi hanyalah seorang yang suka bertarung dan membunuh orang jahat.


Karena itulah sewaktu di dunia lamanya dia tidak mendapatkan gelar sebagai pendekar pedang, melainkan Aksalah yang memilikinya.


Untuk sesaat Edward melihat kilatan mata merah dari pandangan Ayumi, yang jelas dipenuhi niat membunuh.


"Matamu?"


"Aah, kau melihatnya."


Saat dalam mode bertarung yang serius mata Ayumi berubah jadi gelap sementara pupilnya berwarna merah terang.


"Apa kau benar-benar manusia?"


"Entahlah, aku juga meragukannya."


Edward seketika merinding, ia memutuskan untuk tidak membahasnya lagi lalu mengalihkan pandangan ke arah asap yang telah membumbung tinggi.


Dia mengeluarkan rokok dari balik bajunya, menyalakannya dengan korek api sebelum menghisapnya dan membuang asapnya ke udara.


"Melawan iblis seperti ini, aku pasti akan mati."


"Kau beruntung karena bertarung denganku, yang jelas aku tidak akan membiarkanmu mati."


"Aku merasa tersanjung."


Dari balik asap itu, muncul seekor banteng raksasa setinggi 60 meter dengan tubuh seperti manusia serta empat tangan yang sama-sama memegang pedang besar, di punggungnya terdapat sayap kelelawar yang membentang lebar dan ekor ular yang membuat asap racun ke udara.

__ADS_1


__ADS_2