Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 203 : Sebuah Quest Dan Priest Bernama Malifana


__ADS_3

Di guild itu kami memiliki quest tingkat tinggi untuk mengawal pedagang dari kota Antares menuju kota Isbel.


Rutenya sendiri memiliki jalur yang cukup lama, meski begitu bayaran yang kami terima jauh lebih banyak. Lulu yang bertugas sebagai receptionis guild menyembunyikan kertas yang kutunjukan padanya selagi mengembungkan pipinya.


"Jangan mengambil quest seperti ini, ambillah quest yang bisa diselesaikan beberapa hari saja."


Lulu tinggal di masionku juga, karena aku sering tidak berada di mansion dia sepertinya tidak ingin membuatku pergi lagi.


Kazel yang diam-diam mendengarkan bersama dua elf bersaudara tertawa.


"Istrimu melarang kau pergi jauh tuh, turuti saja permintaannya"


Liz dan Naula pun membalas.


"Kami juga istrinya."


Yah, kita tidak ada hubungan seperti itu, rasanya ingin sekali membantah hal itu sayangnya aku tidak bisa melakukannya jadi aku mengalihkan pertanyaan ke arah lain.


"Ngomong-ngomong apa kalian bertiga kini bersama sebagai kelompok?"


"Benar, aku sudah tidak memiliki anggota party sekarang, kurasa bergabung dengan mereka bukan pilihan buruk."


"Apa maksudmu? Itu seolah kami memaksamu bergabung, dia hanya kehilangan mata pencariannya sebelumnya karena Jeanne membakar buku dewasanya," potong Jun dan Hilda menganggukkan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


"Oi, jangan mengatakan itu, pokoknya berikan saja quest itu padaku kau bisa mengambil quest yang lebih dekat."


"Kurasa begitu," kataku lemas dan Lulu terlihat senang selagi mengacungkan jempol ke arah Kazel.


Pada akhirnya kami mendapatkan misi untuk pengusiran roh halus yang terjadi di kota terdekat. Tentu diantara kami tidak ada siapapun yang bisa melakukannya, kami hanya membantu seorang Priest yang baru mendaftar di guild ini.


Berhubung dia hanya sendirian tidak ada salahnya menolongnya.


Di dalam hutan itu kami semua mulai berjalan beriringan dan saling memperkenalkan diri.


Gadis dengan pakaian pendeta serba putih serta berambut pirang ini bernama Malifana.


Nama yang unik menurutku.


Di dunia sebelumnya aku tinggal juga ada nama-nama unik yang tidak jauh beda. Kau mungkin akan menemukan satu sekolah yang memiliki nama Budi sebanyak 50 orang.


Sihir penyembuhan tidak terlalu berguna di pertempuran serta perannya juga telah digantikan oleh potion yang dibuat guruku.


Jika sihir suci setiap petualang tidak selalu bertemu dengan makhluk seperti Undead, meski tanpa sihir suci mereka bisa membunuhnya dengan membakarnya.


Itu tidak termasuk hantu.


Yang jelas pekerjaan ini memang cocok untuknya.

__ADS_1


"Jika Malifana tidak keberatan, kau bisa bergabung dengan kami.. kudengar kau mengumpulkan uang untuk pergi ke kerajaan Animalia."


"Benarkah itu?"


"Tentu saja, kalau tidak keberatan kami juga akan ikut ke sana beberapa orang yang kukenal berada di sana juga, aku ingin menemuinya"


"Terima kasih banyak."


"Bagaimana menurutmu Liz dan Naula?"


"Aku tidak keberatan."


"Aku juga."


"Kalian berdua terima kasih banyak, hueeehh."


Dia menangis, kehidupannya pasti sulit.


Aku menarik kedua pedang saat seekor monster muncul di depanku, dia mengangkat tubuhnya selagi menggeram ke arahku.


Sebelum aku bergerak, Liz membekukannya kemudian disusul tombak Naula yang menghancurkannya.


"Hebat sekali, ini kekuatan dari petualang tingkat S."

__ADS_1


"Mereka bisa diandalkan, mari pergi."


Kami berjalan sedikit lebih jauh dan akhirnya menemui sebuah kota yang dimaksud, kotanya sendiri tidak jauh berbeda dari kebanyakan kota hanya saja luasnya lebih kecil dari kota Antares.


__ADS_2