Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 115 : Wanita Dengan Buku Hitam


__ADS_3

Sore harinya saat matahari hampir terbenam, dari atas benteng itu penyihir mulai bermunculan dari balik hutan, aku menggunakan sihir penciptaan untuk membuat senapan panjang berkaliber 50 dan menembaki mereka satu persatu.


Letupan senjata ditambah teriakan kematian terdengar seiring para burung yang berterbangan ke langit.


Lalu suara muncul dari belakangku.


"Kau sangat kejam, kau meledakan kepala mereka tanpa ampun."


"Tidak sekejam kalian para penyihir, paling tidak aku memberikan kematian mudah pada mereka."


Aku berbalik dan menemukan seorang wanita berpakaian seperti pendeta duduk berjongkok di sana. Rambutnya yang berwarna hitam berkibar tertiup serta wajahnya terlukis senyuman yang mengerikan.


"Lihat bagian pahaku, aku tidak memakai apapun di sana."


Aku segera mengacungkan mulut senjata padanya.


"Aku berbohong haha lihat, lihat, aku pakai CD lucu bukan, aku seharusnya membeli warna merah, putih terlalu pasaran."


Wanita itu tertawa selagi memindahkan buku hitam dari tangan kanannya ke tangan kiri. Ia dengan santai melirik isi di dalamnya dengan senyuman lebar.


Membolak-balikannya dengan cepat lalu menutupnya.


"Jangan khawatir, aku tidak berada di pihak siapapun, aku hanya mengawasi pergerakan mereka semua selama ini, penyihir, naga, raja iblis dan juga semua orang yang cukup menarik perhatianku, termasuk dirimu."

__ADS_1


Aku hanya diam tanpa mengalihkan pandangan pada buku yang di pegangnya. Wanita ini terlalu mencurigakan untuk bisa aku percayai.


"Buku apa itu?"


"Buku ini, hmmm buku ini di sebut buku takdir, siapapun yang kutulis namanya di dalam buku ini mereka akan mati sesuai yang kuinginkan, bagaimana, bukannya ini luar biasa? Buku ini hanya satu-satunya di dunia ini kau pasti tidak akan pernah menemukannya lagi."


Wanita itu berdiri lalu melompat dengan riang ke depanku, tanpa memperdulikanku dia menyentuh lenganku dan mulai memutariku.


"Aku tidak tahu, tapi aromamu tidak seperti dari dunia ini.. Hmmm, siapa kau ini?"


"Jika aku menyebut namaku kau pasti akan menuliskannya di buku itu."


"Haha benar sekali, seharusnya aku menanyakan namamu dulu sebelum mengatakan soal bukunya, aku bodoh ternyata. Tapi aku tidak membunuh seseorang sembarangan loh, aku hanya membunuh orang yang membosankan. Ngomong-ngomong namaku adalah Union aku suka dengan orang-orang yang membuatku terhibur."


Angin kembali menghembuskan pakaian serta rambutnya hingga bergoyang-goyang.


"Jika kau memerlukan bantuanku, datanglah ke tempatku di lembah kematian, di sana kau akan memiliki apapun jawaban yang kau cari."


"Kau ini sangat mencurigakan, apa yang kau rencanakan."


"Apa yah? Jika kita bertemu aku akan mengatakannya, sampai nanti... Oh yah, sebagai ucapan terima kasih karena mau berbicara denganku, aku akan sedikit membantu."


Union menuliskan sesuatu di atas bukunya dengan tinta, saat dia berhasil menyelesaikannya dia menghilang menjadi kelopak bunga mawar hitam yang diterbangkan oleh angin.

__ADS_1


Aku memang sedikit bertanya-tanya apa yang dia lakukan barusan.


Aku mengalihkan pandangan ke setiap jasad para penyihir yang sebelumnya kuhabisi, dan mereka semua melebur menjadi abu.


Apa ini kekuatan dari wanita barusan? Jika pun dia musuhku aku harus mencari tahu segala kemampuannya demi mengalahkannya.


Ketika aku berfikir demikian nona Heliet melompat dari belakang.


"Ada apa Aksa?"


"Apa barusan guru melihat seseorang selain aku di sini?"


"Aku tidak melihat siapapun, memangnya kenapa?"


"Bukan apa-apa, rasanya aku mulai lapar lagi, bagaimana kalau kita ke kedai?"


"Aku ingin ke bar."


"Kita dalam misi jadi minum-minum dilarang."


"Apa boleh buat, ayo."


Nona Heliet menggenggam tanganku lalu menarikku mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2