
Aku duduk di meja bersama kepala desa selagi menatap penduduk yang sedang menari-nari di dekat api unggun termasuk nona Heliet dan roh tersebut.
Alunan musik di abad pertengahan terdengar sangat selaras dengan gerakan yang mereka lakukan.
"Tambah lagi."
"Baik kepala desa... bagaimana denganmu?'
"Aku tidak suka minuman beralkohol."
"Alamak, jarang sekali seorang pemuda tidak suka minum-minum, apa mau kugantikan dengan minuman yang lain?"
"Aku suka minuman terbuat dari buah-buahan yang dicampur dengan susu "
"Akan kusiapkan."
"Terima kasih, maaf merepotkan."
"Hanya segini bukan masalah," wanita itu pergi setelah membungkuk ke arahku.
Kepala desa dengan cekatan mengambil gelas yang telah penuh dengan busa itu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
Selanjutnya dia tak sadarkan diri.
"Itu gelasnya yang ke dua puluh."
Ini adalah pesta perpisahan kami, setidaknya aku juga harus menikmatinya. Aku pun turut menari bersama yang lainnya dimana kami saling bergandengan tangan dengan masing-masing orang kemudian berputar mengelilingi api unggun.
Aku berfikir kapan minumanku akan datang?
__ADS_1
Keesokan paginya aku berpamitan ke semua orang lalu meninggalkan desa bersama guruku dengan kereta kuda sebelumnya.
"Minuman tadi malam cukup enak, kalau ada waktu aku juga ingin membuatnya," kataku ringan sementara guruku terlalu fokus dengan peta di tangannya.
"Aksa aku ingin ke sini?"
"Itu berada di jalur kita."
"Tak apa, kudengar tempat ini banyak dikunjungi turis."
Aku sedikit mengintip ke arah peta yang menunjukkan sebuah desa di dekat danau Loh Ness lalu nona Heliet menjelaskan.
"Di danau ini konon dikatakan tempat Morea tinggal, kita bisa memakan mereka sebanyak yang kita suka asalkan bisa menangkapnya."
Morea adalah sejenis belut raksasa yang bisa mencapai sekitar 10 meter dengan tubuh 3 meter, jarang ada seseorang yang memancing di sana karena itulah semua orang yang datang hanya menikmati keindahan desa saja.
"Apa boleh buat, kita bisa mampir dan tinggal selama dua malam."
"Pasti menyenangkan, aku yakin di sana banyak sekali makanan serta orang-orang yang ramah."
Saat kami tiba bayangan guruku soal tempat ini jelas salah besar.
Tidak ada siapapun yang terlihat di luarnya bahkan terkesan seperti kota hantu.
"Kenapa ini? Ini jauh dari rumor yang dikatakan orang-orang."
"Jangan mempercayai rumor jika belum mengetahui kebenarannya."
Kami memaksa masuk ke dalam bar yang tampak sudah tutup sejak lama, kecuali tempatnya berdebu minumannya masih bisa diminum.
__ADS_1
Nona Heliet mengambil satu botol anggur lalu menuangnya dalam gelas tinggi sebelum meminumnya dengan elegan.
"Hmmm anggur yang luar biasa."
Dia menikmatinya seperti seorang kritikus anggur terkenal, tak lama kemudian seorang kakek bersama cucunya muncul.
"Siapa kalian?"
Kakek itu tampak terkejut tapi aku membalasnya dengan senyuman.
"Maafkan kami telah menerobos masuk... kami hanya kebetulan lewat dan memutuskan untuk berisitirahat di desa ini."
Kakek itu mendesah pelan lalu berkata.
"Lebih baik kalian pergi dari sini, desa ini sudah lama mati dan hanya aku dan cucuku saja yang tinggal di sini."
Gadis kecil yang imut.
"Kalian berdua?" potong nona Heliet.
"Aah, semua orang di sini tiba-tiba saja menghilang di makan oleh kabut."
"Boleh aku mendengar seluruh ceritanya," tanyaku demikian.
Kami duduk di meja yang sama saat Kakek itu menjelaskan.
Satu tahun yang lalu kakek dan cucu ini pergi ke gunung untuk mengumpulkan bahan makanan, saat mereka kembali dari gunung mereka melihat banyak kabut menyelimuti desa mereka.
Yang membuat aneh setelah kabut itu menghilang semua orang yang tinggal di sini malah menghilang tanpa jejak.
__ADS_1