
Aku kembali ke penginapan di desa dan menemukan bahwa ketiga anggotaku telah menghilang, di saat hendak mencarinya kutemukan sebuah surat di atas meja yang menyatakan perang secara terang-terangan denganku.
"Yang kuat akan mendapatkan segalanya, tertanda kerajaan Aries."
Dari 12 kerajaan rasi bintang yang harus kukalahkan baru dua yang sudah kuhancurkan yaitu Orion dan Cygnus, sepertinya sasaranku selanjutnya mereka.
Aku tidak menyangka ada yang bisa menyandera ketiga rekanku dengan mudah, dengan kata lain dia pasti orang yang kuat atau mereka membius ketiganya dengan obat tidur lalu membawanya pergi.
Sirius paling mudah ditaklukkan dengan cara seperti ini.
Ketika aku meninggalkan desa, para penduduknya membuat barisan untuk menghalangiku, mereka tidak ada maksud jahat melainkan hanya mencegahku untuk pergi.
"Kenapa kalian semua di sini?"
"Kami tidak ingin membiarkan tuan Aksa pergi ke sana, tuan yang sudah melindungi desa kami jika dibiarkan, Anda bisa mati."
Mereka pasti mengetahuinya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan mati, lagipula mana mungkin aku bisa meninggalkan teman-temanku."
Aku mengeluarkan sekantong uang besar kemudian melemparkannya di depan mereka dan berkata.
"Gunakan uang itu untuk membangun desa kembali."
"Ini terlalu banyak?"
Aku mengabaikan setiap protes dari mereka untuk memunculkan sepeda motor lalu meninggalkan desa tersebut.
Semua orang mengatakan terima kasih sementara aku hanya melambaikan satu tangan tanpa menengok ke arah mereka, aku memacu kecepatan motor dengan tinggi saat memasuki kawasan luar kerajaan Aries.
Beberapa penjaga berusaha menghentikanku namun aku berhasil melewatinya dengan mudah, aku menciptakan granat di tanganku kemudian melemparkannya ke belakang para penjaga itu hingga ledakan terdengar dari sana.
Api yang tercipta memuntahkan seluruh isi perut tanah ke udara tanpa kendala, dari sini aku akan terus melaju tanpa hambatan.
Maunya seperti itu, sayangnya seorang wanita berdiri di depanku dengan perisai dan pedang di tangannya, untuk seluruh tubuhnya terbalut oleh armor ringan. Walau terpaksa, aku memberhentikan kendaraanku untuk turun lalu mencipta pedang di tanganku.
Di depanku hanya seorang gadis berambut pirang yang diikat twintail.
"Aku tidak akan membiarkanmu lewat, terutama orang yang disebut Black Death."
"Kau mengganggu saja."
"Apa itu sambutanmu terhadap wanita."
"Kau hanya wanita murahan, guruku lebih sexy darimu."
"Menyebutkan wanita lain di depan wanita, akan membuatmu terbunuh."
__ADS_1
Wanita itu melesat ke arahku meninggalkan jejak debu di belakangnya, aku pun melakukan hal sama hingga senjata kami saling bertubrukan di udara menghasilkan percikan kembang api secara berurutan.
Aku menebas dari atas namun perisainya mampu menahannya dan pedang di tangan lain dia gunakan sebagai serangan balasan.
PRANG.
Kami mundur sejauh 5 meter ke belakang.
"Seperti yang dikatakan rumor, kau sangat kuat."
"Sebenarnya kau siapa?"
"Namaku Labina, aku putri dari raja Aries salam kenal."
Itu memberikanku harapan.
"Nah putri, jika aku menangkapmu, apa mereka akan membebaskan rekanku?"
"Itu mustahil, ayahku itu hobinya berkembang biak, dia tidak akan merasa kehilangan walau salah satu putrinya mati.. betapa mengerikannya bukan? Dia mengalahkan setiap kerajaan dari musuh lalu mengambil istri dan putri dari rajanya dan membuat mereka mengandung anak-anaknya."
Aku menundukkan kepalaku.
"Kenapa kau diam?"
"Kalau begitu tidak masalah jika aku membunuhmu."
Saat gadis di depanku melihat mata kiriku tangannya mulai gemetaran, biasanya mataku akan berwarna kuning keemasan namun yang dia lihat adalah mata merah dengan angka romawi satu.
Aku melesat ke arahnya dengan kecepatan sonic lalu mencekik lehernya sebelum akhirnya membantingnya ke tembok hingga menghasilkan ledakan dahsyat.
Puing-puing batu bata berjatuhan menyisakan kerusakan luar biasa.
Selagi meronta-ronta dia terus berusaha melepaskan tanganku, kakinya dia ayunkan untuk menahan rasa sakit.
"Tunggu, jangan bunuh aku... aku tidak akan mengganggumu lagi."
Ketika aku tidak peduli, anak-anak yang sama sekali tidak kukenal menarik pakaianku.
"Lepaskan kakak."
"Lepaskan."
"Kalian pergilah."
Aku melepaskan tanganku dengan cara membantingnya ke bawah, sementara anak-anak itu segera berdiri di depan menghalangi.
"Berterima kasihlah pada mereka."
__ADS_1
Aku hendak berjalan ke arah motorku, namun di sana seorang wanita lebih dulu mendudukinya, dia memiliki kulit putih serta tubuh yang terbilang ideal, dengan dada besar serta aura kedewasaan yang bisa memikat pria manapun.
Rambut ungunya dia potong sebahu dan matanya tampak berbinar dengan pipi merona.
Yang jelas darinya hanyalah dia mengenakan pakaian pendeta hitam yang menandakan dari pihak kultus Nermala.
"Kakak sangat kesepian loh, bagaimana jika kau mampir ke rumahku? Kita lakukan hal dewasa."
Aku menarik kerah bajunya lalu melemparkannya ke bawah.
"Sakit."
"Aku tidak butuh," jawabku singkat lalu duduk di atas motorku.
"Heh, kau sangat kejam... namaku Marine."
Aku mengacungkan senjataku di depan wajahnya.
"Apa kau tidak penasaran kenapa anak-anak itu berusaha melindungi Labina, kau adalah Black Death yang membantu setiap orang yang kau lewati bukan?"
Aku terdiam.
"Apa aku salah?"
"Darimana kau tahu?"
"Itu karena Dewi Nermala sendiri yang mengatakannya langsung."
Kemungkinan besar dia seorang Arch Priest.
Aku menghilangkan senjataku dan mengembalikan mataku sedia kala.
"Aku akan menerima tawaranmu."
"Maksudnya tidur denganku?"
"Tidak akan, aku akan mendengarkan situasi dari kerajaan ini, dengan kata lain selama di sini kau akan menjadi budakku."
"Ara, Nee-san juga sedikit masokis koq, jadi lakukan saja apapun yang kau suka... Kyun~kyun 🖤"
Ketika anak-anak mendekatinya ekpresinya langsung berubah, bagaimana mengatakannya dia terlihat normal.
"Nona Marine, apa sebaiknya kita pulang sekarang?"
"Um, tentu saja.. kita akan kedatangan tamu, katanya dia ingin mentraktir kita makanan mewah sebagai permintaan maaf."
Padangan anak-anak itu teralihkan ke arahku.
__ADS_1
"Aku mengerti, makanlah sebanyak yang kau suka," kataku lemas.
"Hore."