Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 68 : Akademi Sihir


__ADS_3

Untuk sementara kami akan tinggal di kediaman Carrot sebelum kembali ke benua Lemuria, selagi ada di ibukota ada satu tempat yang ingin kukunjungi di sini, karena Tiffany ingin melihat toko-toko di sini ia mengambil Nicol untuk pergi bersamanya dan sekarang aku hanya pergi berdua dengan Sirius.


"Permen apelnya."


"Silahkan."


Siriuslah yang menerima permen tersebut lalu memasukannya ke dalam mulutnya.


"Enak master."


"Begitukah," kataku dengan senyuman pahit, bagiku sulit untuk membuatnya tersenyum.


Kami berdua mulai menyusuri jalanan kota, di kiri kanannya kaya akan kios-kios berbeda, seolah apapun yang kau inginkan di sini telah tersedia semuanya.


Ada dua pasar di kota ini, pertama adalah pasar utama dan kedua pasar loak yang menjual barang-barang bekas, jika beruntung aku mungkin menemukan sesuatu yang bagus dengan harga murah di sana sebagai oleh-oleh untuk guruku dan yang lainnya.


Makanan tidak ada yang bekas jadi tolong tandai itu, ketika aku berfikir demikian ternyata aku salah, di sini juga ada yang menjual makanan bekas.


Karena penasaran aku bertanya pada penjualnya.


"Makanan sisa seperti ini, apa ada orang yang akan membelinya?"


"Kebanyakan makanan ini diberikan pada hewan ternak, kau bisa membelinya murah. Mau?"


"Tidak terima kasih."

__ADS_1


Paling tidak kota ini tidak membuang makanan begitu saja, setelah melewati pasar loak barulah kami tiba di sebuah bangunan yang tak jauh kalah megah dengan masion Carrot.


Itu adalah akademi yang sebelumnya pernah di dirikan Meliana bersama rekannya, ada patung miliknya menghiasi perkarangan taman lengkap dengan topi serta tongkat di bawanya.


Aku sudah tahu bahwa di dalam tongkat itu ada roh wanita bernama Margaret, setelah aku menemui Dewi Naga aku yakin bisa menyelamatkannya juga, sampai saat itu aku akan merahasiakan semuanya dari guruku bahkan murid lainnya Vivia Legal.


"Master?"


"Mari masuk, aku sudah memiliki Izin."


"Baik."


Hari ini Akademi libur karenanya tidak ada siapapun siswa di dalamnya kecuali beberapa guru serta staf keamanan serta kebersihan.


Aku dan Sirius berjalan di koridor menuju ruangan yang berada di dekat tangga, menurut buku perjalanan Meliana di sinilah dia mengajar soal sihir kepada siswanya.


Bukannya aku merindukannya hanya saja itu cukup nostalgia.


"Bosan," Sirius menguap lebar.


Dia benar-benar tidak menyembunyikan perasaannya.


Aku mulai menyusuri lukisan yang ada di dinding kelas dan kutemukan secarik kertas jatuh ke lantai.


"Apa itu master?"

__ADS_1


"Surat cinta yang ditulis Meliana, dia pernah menyukai muridnya sendiri namun surat ini tidak pernah diberikan olehnya."


"Begitu."


Sekarang aku tahu kenapa watak guruku seperti itu juga, aku memutuskan untuk tidak membacanya dan kutaruh di tempat sebelumnya.


Aku pikir Meliana sengaja menaruhnya di sana supaya bisa ditemukan seseorang, lagipula suratnya sendiri tidak ada namanya.


Setelah dari kelas aku mencoba berjalan-jalan ke lantai lainnya sebelum akhirnya turun ke ruangan latihan yang digunakan oleh siswa.


Ada beberapa siswa teladan yang di panjang fotonya di dinding, diantaranya ada Lisa dan Boby yang ternyata mereka juga bersekolah di sini.


"Apa ada yang bisa kubantu?"


Seorang petugas kebersihan bertanya ke arahku.


"Ah, kami hanya melihat-lihat... tempat ini benar-benar hebat."


"Seperti itulah, dulu sihir dilarang dan kami semua terkadang berselisih satu sama lain tapi berkat Penyihir Meliana semuanya berubah, dengan sihir semua hal lebih mudah dan menyenangkan."


Aku mengangguk sebagai jawaban lalu berjalan bersama Sirius ke pintu keluar.


"Sudah mau pergi?"


"Aah, terima kasih paman... lain kali mungkin aku akan berkunjung lagi," kataku selagi melambai.

__ADS_1


"Datanglah sebanyak yang kau suka," balasnya demikian.


__ADS_2