
Sehari setelah pesta kini aku berada di alam dewi tepatnya di kediaman Dewi Micel.
Dewi Micel memiliki rambut pirang dikepang dimana ia berpenampilan seperti malaikat pada umumnya dengan sayap putih berada di belakangnya, agak sedikit unik bahwa Dewi Micel selalu tidak mengenakan apapun untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Semuanya terlihat jelas tanpa ada kabut ataupun cahaya yang menutupinya, semuanya terlihat indah.
"Hora Aksa, sampai kapan kamu melihat tubuhku, cepat kerjakan pelatihanmu itu."
"Baik."
Hal sedang yang kupelajari adalah teknik untuk membuat tubuh, meregenerasi dan juga lainnya. Saat aku mengatakan bahwa aku sempat kehilangan tanah dan mata, Micel sangat kesal dan ia memutuskan untuk melatihku dengan ini.
Meski dewi dengan mudah memberikan kemampuan itu, aku masih harus membiasakan diri.
Aku meneteskan darahku dan selanjutnya tubuh wanita keluar dari darah yang kuteteskan.
Dari darah berubah jadi daging yang dilapisi tulang dan kemudian ditutup kembali kulit sebelum kutumbuhkan rambut berwarna coklat di kepalanya.
Micel yang duduk menyilangkan kakinya menatapku curiga.
"Aksa kau memiliki ketertarikan dengan dada besar kan."
__ADS_1
"Ugh.."
"Kurasa itu benar."
Aku tidak bisa menyangkalnya.
Agar tidak berbahaya aku membuat pakaian berupa gaun terusan yang indah lalu memakaikannya pada tubuh yang barusan kuciptakan.
"Bukannya dia terlihat cantik."
"Aku juga setuju, setelah kau menciptakannya kau bisa mengisinya dengan roh... tapi kuharap kau tidak sembarangan mengisinya karena siapapun yang kau masukan mereka akan abadi, dan itu tidak baik jika dunia diisi dengan orang-orang abadi... mereka akan terus berkembang biak dan pada akhirnya tidak ada wilayah yang bisa dihuni lagi."
"Aku mengerti, untuk sekarang aku akan menyimpan tubuh ini sampai bisa kugunakan dengan baik."
"Aku sering melakukannya bukan."
Di depan teras kediamannya aku mengambil lap sapu tangan yang dibasahi dengan air hangat dan kemudian mengusapkannya pada sayap Micel yang membentang lebar.
Sebagai dewi dia bisa melakukan sendiri namun ia memilih memintaku untuk melakukannya.
Aku bertanya pada Micel yang dengan bahagia bersenandung indah.
__ADS_1
"Aku masih belum tahu kenapa dewi lain memilih untuk meninggalkan dunia yang sekarang aku tinggali?"
"Karena dunia di sana sudah sulit untuk dipertahankan banyak sekali kematian dan kejahatan yang sulit dikendalikan terlebih tidak hanya dunia itu, banyak dunia lain juga yang harus kami perhatikan... dibanding mempertahankan dunia yang sudah rusak akan lebih baik untuk menghancurkan semuanya."
"Jadi sejak awal dunia itu memang seharusnya tidak ada."
"Benar sekali, tapi Dewi Nermala memutuskan untuk mempertahankannya sampai sekarang.. walau penantiannya terbilang lama kurasa ia telah berhasil, tentu itu juga berkat Aksa yang telah bekerja keras.... kami pikir jika Aksa mau membantu dewi seperti kami juga maka masalah kami akan cepat selesai."
"Itu terdengar aku sedang dimanfaatkan," mendengar pernyataanku Micel tertawa kecil lalu menambahkan.
"Anggap saja seperti itu dan juga membantu dewi sebagai utusan bukanlah hal yang buruk loh... aku telanjang hanya untuk Aksa."
"Untukku?"
"Benar sekali jika orang lain atau dewi lain akan ada kabut berbetuk pakaian yang menghalangi, kamu tidak merasa senang?"
"Aku sangat senang."
"Aksa memang pria sejati, aku akan menyanyikan lagu yang indah sekarang."
Micel mengeluarkan harfa di tangannya dan lalu memainkannya dengan indah.
__ADS_1
Di tempat ini aku selalu merasakan kedamaian dan hatiku juga tenang. Terkadang aku berfikir ingin tinggal di sini selamanya.