Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 109 : Satu Lawan Satu


__ADS_3

Avelin menatap kalung rantai yang melilit leher Cardina, dia tersenyum jahil lalu mengalihkan tatapan ke arahku dengan ekpresi sulit dijelaskan.


"Menjadikan seekor naga sebagai budak, bukannya itu terlalu berlebihan."


"Dia hanya naga kehancuran, aku melakukannya sebagai ganti nyawanya."


"Kau cukup arogan sebagai manusia biasa."


"Apa menurutmu aku manusia biasa?" mata kiriku berubah menghitam dengan pupil berwarna merah.


"Bagaimana bisa kau memiliki mata seperti itu?" Avelin seketika terkejut dengan apa yang kutunjukan padanya.


Sesaat Dewi Nermala mengirimku kemari aku meminta sesuatu yang lebih kuat dibandingkan apa yang dia tawarkan, dan itu adalah kekuatan untuk menghancurkan.


Jika lawanku adalah Dewa-Dewi jahat bukannya sudah sepantasnya aku memiliki hal seperti ini, aku memang sudah percaya tentang kekuatanku hanya saja yang membuatku mempertimbangkannya ialah saat tahu Aksa juga memiliki mata serupa denganku, jika dia memilikinya paling tidak aku juga harus memiliki level yang sama dengannya.


"Jadi begitu, Nermala mempertaruhkan dunia ini pada kalian berdua."


"Apa maksudmu?"


"Bukan apa-apa, jadi kenapa kalian datang kemari hanya demi menemuiku?" Avelin menyeruput tehnya tenang.

__ADS_1


"Aku ingin kau menghilangkan kutukan padanya."


"Sebenarnya aku ingin memiliki tubuhku lagi, sayangnya aku tidak bisa mengumpulkan Od untuk melakukannya."


"Kau pasti menggunakan sihir terlarang, sihir itu memang memiliki balasan yang setimpal, aku memang bisa melakukannya hanya saja dengan satu syarat, diantara kalian harus ada yang bisa menghiburku dengan sebuah pertarungan, bagaimana?"


"Menarik, aku juga ingin mencoba seberapa besar kekuatanku."


Avelin segera menunjukan senyuman pahitnya.


"Tolong jangan menunjukan wajah menakutkan seperti itu."


Dia mengundang kami ke lantai terakhir menara di mana aku sendiri yang akan menantang sosok Dewi yang tinggal di dunia ini.


"Baru kali ini aku melihat gaya bertarung sepertimu, apa kau yakin tidak menggunakan pedangmu."


"Tidak, aku sedang menggunakannya sekarang, kedua mataku berwarna merah terang.


Ketika Cardina mengatakan mulai maka kami berdua melangkah maju, aku menarik satu pedang lalu mengayunkannya padanya. Avelin pun menciptakan pedang yang sama akan tetapi pedangnya langsung terpotong dua hingga memaksanya mundur ke belakang.


"Kenapa pedangku hancur? Padahal aku menciptakan hal sama seperti pedang milikmu."

__ADS_1


"Pedang merupakan cerminan pemakaiannya, semakin hati pemiliknya kuat maka semakin kuat pula bilahnya."


"Jadi begitu, kau bertarung dengan niat membunuh... Menarik."


Jleb.


"Loh?"


Saat Avelin lengah satu pedang telah menembus tubuhnya dari depan yang mana pedang itu berasal dari pedang yang kupegang.


Avelin mengubah tangannya menjadi bentuk naga lalu memegang pedang milikku selagi membuka mulutnya untuk mengeluarkan sinar dari sana, sebelum dia menembakannya aku menusuk tubuhnya dengan pedang yang lain hingga serangan itu tidak terjadi.


"Kenapa? Bukannya pedangmu ada di sa..."


Aku mengikatkan sebuah benang di ujung setiap pedang yang kulempar, dengan hanya menariknya ringan secara otomotis pedang itu akan kembali ke tanganku.


Aku membuat Avelin atau Dewi naga Freya lengah dengan membuat dia terus berfikir bahwa pedangku berada jauh dariku hingga tidak membuatnya menjadi sebuah ancaman.


"Ini bukan gaya bertarungku sesungguhnya, aku hanya mencoba bermain-main saja."


"Kau benar-benar menakutkan."

__ADS_1


"Apa kau mau menyerah di sini?"


"Aku tidak mungkin menyerah, bagian yang menariknya baru dimulai, kalau boleh jujur sebelumnya aku juga bertarung dengan Aksa."


__ADS_2