Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 81 : Lantai 200, Robostos


__ADS_3

Kami muncul tepat di tengah alun-alun kota lantai 200, di sini tidak sepadat seperti di lantai pertama kendati demikian bangunannya tidak kalah bagus dengan lantai pertama.


Beberapa orang berlapiskan armor berlalu lalang melewati kami begitu saja, pakaian dari satu grup ke grup lainnya jelas berbeda. Mereka semua orang-orang yang akan menantang dungeon untuk bisa pergi ke lantai selanjutnya.


Walau mereka memiliki tujuan sama tetapi masing-masing grup jelas berlomba satu sama lain, menurut Vivia bos setiap lantai tidak akan muncul lagi setelah dikalahkan karena itu bagi yang mengalahkannya akan mendapatkan item berharga sekali pakai yang sangat berguna bagi pemiliknya.


Jika itu item untuk membuat seseorang bertambah kuat jelas itu benda yang berharga.


"Sirius, ada berapa petualang di sekitar kita?"


"Semuanya 300 orang namun jumlahnya semakin bertambah."


"Begitu, berarti kita juga harus bergegas," atas pernyataanku Richard dan Vivia mengangguk mengiyakan.


Kami sampai di dungeon yang dimaksud yang terlihat seperti sebuah mulut naga. Walau mirip gua di dalamnya terlihat terang dengan beberapa batu kristal yang bercahaya.


Beberapa kelelawar besar menerjang ke arah kami.


"Biar aku saja," kata Richard melangkah maju.


"Ice Blade," dengan sekali tebasan para kelelawar tersebut langsung membeku di tempat hingga hancur berkeping-keping menjadi koin-koin kecil.


"Sekarang siapa yang harus memunguti koin tersebut?' atas pernyataanku semua orang menunjuk ke arahku.


"Aku?'


"Memangnya siapa yang melibatkan hal merepotkan ini," aku sama sekali tidak bisa menyangkal perkataan Vivia.


Selama penjelajahan ini aku hanya mengumpulkan koin ke dalam kantung kemudian mengambil kantung baru untuk dimasukan ke sihir penyimpananku nanti.


"Vivia?" kata Richard.

__ADS_1


"Serahkan padaku."


Dengan sekali tebasan monster hancur berkeping-keping.


"Cepat pungut semuanya."


"Kau?" aku mencekik leher Vivia dengan lenganku.


Untuk alasan yang tak kuketahui Richard malah tertawa.


"Aku minta maaf, kalian berdua bisa seakrab ini, padahal di kerajaan, Vivia tidak pernah lembut dengan siapapun."


"Seperti apa dia?"


"Dia selalu berbuat kekerasan, saat menjadi kesatria dia malah memukuliku sampai babak belur."


Aku melepaskan Vivia.


"Soal itu aku tidak ingat."


"Master, biar aku saja yang memunguti koinnya?"


"Apa yang kau rencanakan?"


"Tidak ada."


"Kau pasti ingin menyembunyikan beberapa koin untukmu."


Sirius hanya mengembungkan pipinya selagi memalingkan wajah, niatnya sangat mudah ditebak.


Kami terus menyusuri area dungeon ini, semakin dalam beberapa orang yang sebelumnya kulihat di kota juga ada di sini.

__ADS_1


Kelelawar masih bisa dilawan namun berbeda dengan melawan kaki seribu, mereka memiliki kulit keras yang hanya bisa diserang dengan sihir.


Aku melihat seseorang hendak menggunakan sihir tingkat atas hingga aku segera menghancurkan lingkaran sihirnya dengan Magic Script.


"Sihirku tidak aktif, apa yang kau lakukan?"


"Jangan gunakan sihir seperti itu jika tidak ingin membunuh semua orang di sini, bagaimanapun ini di dalam dungeon, kita bisa tertimpa reruntuhan."


"Meski kau bilang begitu, kita pasti akan mati jika melawan monster sekuat ini."


"Jangan khawatir, pelayanku bisa mengatasinya."


"Siapa yang kau panggil pelayan sialan."


Vivia menginjak-injak tubuhku tanpa menahan diri.


"Uwaahhh."


"Aku juga ingin menginjak-injak master."


"Sirius?"


Aku hanya bisa menghela nafas menerima keadaanku yang babak belur.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku tak apa, lebih dari itu apa sudah ada yang mencapai area bos sebelumnya?"


"Beberapa memang sudah ada tapi mereka malah tidak selamat... menurut informasi bos area ini sangat kuat."


"Begitu."

__ADS_1


Aku mengalihkan pandangan ke arah Vivia dan Richard yang sudah menumbangkan beberapa kaki seribu ke tanah.


Orang yang bersamaku sampai tidak bisa berkata apapun lagi.


__ADS_2