
Sudut pandang Aksa.
Dengan santainya pria bertato mengeluarkan puluhan boneka dari sihir penyimpanannya, untuk seorang pengendali boneka kekuatannya terbilang kuat.
Biasanya mereka hanya mengendalikan satu atau dua buah kendati demikian orang ini jauh dari jumlah tersebut.
Setiap boneka membawa pisau di tangan mereka dan langsung melesat secara bergantian menyerangku.
"Haha bagaimana, ini adalah karya terbaikku, dengan boneka ini bahkan menghancurkan kota akan sangat mudah... inilah kekuatan dari Doremi."
Aku melompat saat empat boneka sekaligus mengirim tusukan. Di momen tersebut aku menebak kepala mereka dengan pistol di kedua tanganku.
Tentu mereka boneka walau kepala mereka hancur tubuh mereka masihlah bisa digerakkan.
Kuganti satu tangan yang membawa pistol dengan pedang, menebas mereka tanpa mengurangi kecepatannya sebelum berlari ke sana ke mari.
Melewati beberapa boneka aku menebas boneka yang tidak terlalu aktif, tubuh mereka berserakan tapi masihlah belum cukup.
Kulempar pedangku menancap baik di salah satu boneka sebelum mengeluarkan granat dari sihir penciptaanku.
Selagi menembak tanpa henti aku menarik pengunci granat dengan mulutku sebelum melemparkannya ke arah kerumunan boneka.
Ledakan menggema ke udara bersamaan rentetan selongsong peluru yang berserakan jatuh ke tanah.
Kuulangi secara terus menerus sampai perlahan boneka yang kuhadapi jumlahnya semakin sedikit.
"Bagaimana bisa kau?"
Doremi berteriak selagi berlari ke arahku dengan sebuah pukulan, aku masih sempat menahannya hingga hanya sekitar beberapa sentimeter saja tubuhku terdorong ke belakang.
"Aku adalah pengguna boneka terhebat, tidak mungkin aku kalah dengan seorang penyihir."
__ADS_1
"Kau terlalu meremehkanku."
Beberapa tangan boneka bermunculan dengan pisau yang mereka genggam lalu menyerang ke arah kami berdua.
Tentu serangan tersebut tidak diarahkan padaku melainkan pada Doremi, menyadari itu dia mundur ke belakang selagi mengusap keringat dari wajahnya.
"Apa-apaan barusan itu?"
"Aku hanya meniru apa yang kau lakukan, kau mengubah mana menjadi benang-benang kecil kemudian menyatukannya dengan boneka lalu menggerakkannya dengan pikiran, apa aku salah."
"Sial... kau memang hebat, karena itulah aku akan mengeluarkan karya sesungguhnya."
Doremi mengulurkan tangannya menciptakan lingkaran sihir dari atas yang mana yang keluar dari sana adalah boneka wanita berambut hitam dengan gaun panjang yang menunjukkan bagian bahu dan dada.
"Boneka dari manusia, apa kau membunuhnya lalu merubahnya jadi seperti itu?"
"Bukan begitu, ini adalah tubuh ibuku... saat aku enam tahun kami berdua hidup di jalanan, saat itu kami tidak bisa makan apapun setiap aku bertanya ibuku 'Apa dia sudah makan?' Dia selalu bilang, ibu sudah namun sejujurnya aku tahu bahwa dia tidak makan apapun... saat itu ibuku sakit dan meninggal, kalau saja ada orang yang membantu kami ibuku tak perlu mati... karena itulah, aku membenci dunia ini... aku akan menghancurkan semuanya."
"Tepat sekali, boneka ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk membunuh... aku mendapatkan kekuatan ini, kekuatan yang luar biasa."
Aku menggunakan sihir penciptaan dan meniru boneka yang dibuat oleh Doremi.
"Kau? Kau mengejekku."
"Aku juga membenci dunia ini, karena itu aku tidak mempermasalahkannya, aku juga membunuh banyak orang dengan kebencianku ini, meski begitu aku tidak melibatkan orang tidak bersalah."
"Apa kau akan membunuhku?"
"Tidak, aku akan menghentikanmu... terlebih boneka yang kau gunakan itu, terlihat sangat menderita dan dipenuhi kesedihan."
"Ini semua karena kalian semua."
__ADS_1
Doremi mengirimkan bonekanya begitu juga aku hingga keduanya saling bertarung di udara dalam waktu lama.
"Kemampuanmu hanya sebatas mengendalikan bukan, bagaimana jika ini."
Boneka yang kukendalikan mengulurkan tangannya menciptakan lingkaran sihir dari sana.
"Bagaimana bisa?"
"Selain membuat mana sebagai benang aku juga membuat boneka yang kubuat bisa menghisap mananya sendiri dari alam."
"Itu tidak masuk akal."
"Fire Bolt."
Boneka itu menembakan bola api tapi bukan untuk menghancurkan bonekanya melainkan menyerang Doremi hingga tersungkur ke tanah.
Aku berjalan ke dekatnya selagi menciptakan pistol baru di tanganku lalu menodongkannya ke arahnya.
Saat aku hendak menarik pelatuknya boneka yang dikendalikannya tiba-tiba saja menjadikan dirinya sebagai pelindung Doremi dengan melebarkan tangannya.
"Ibu?"
"Lihat, selama ini ibumu tidak pergi dia selalu bersamamu bahkan saat putranya memilih jalan yang salah dia akan terus melindungimu."
Aku menurunkan senjataku dan boneka itu berbalik ke arah Doremi yang hanya menangis, bersamaan itu tubuh boneka tersebut mulai hancur menjadi serpihan kecil digantikan roh yang keluar dari tubuhnya.
Roh itu tersenyum lembut lalu mengusap rambut Doremi sebelum terbang ke langit dan menghilang.
"Aaaaaaaaaaaa," tangisan mirip sebuah teriakan itu terdengar dari mulutnya, tepat saat itu ledakan terjadi dari atas istana.
Aku mencengkeram kerah Doremi sebelum menariknya menjauh bersamaku.
__ADS_1
Jika kami tetap berada di sana jelas bahwa puing-puing akan menimpa kami berdua, dari tembok yang berlubang itu sosok pria dengan jubah hitam muncul melayang ke bawah.