Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 270 : Para Slime


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan mereka akhirnya aku kembali berkumpul dengan anggota partyku, Naula mengeluh akan sesuatu.


"Dibanding berkumpul dengan kami, Aksa malah suka berkumpul dengan orang tua.. kami benar-benar kecewa."


"Yah, aku hanya bertanya beberapa hal pada mereka.. Sepertinya wilayah naga kini telah dibagi menjadi dua wilayah."


"Itu mengejutkan, bukannya sebelumnya baik-baik saja," ucap Liz demikian.


"Ketika peperangan, seseorang memanfaatkan itu untuk membuat kerajaan bernama Hespringer aku tidak tahu tapi pasukannya yang disebut empat pilar suci telah membantai naga Kehancuran yang pernah menyerang Elysium."


"Jadi begitu, bukannya itu pertanda bahwa ada konflik di sana," aku mengangguk mengiyakan atas pernyataan Malifana.


"Tanpa ada Fafnir mungkin saja para naga akan punah... sepertinya dari sini kita juga akan terlibat perang."


"Kami tidak keberatan, dari awal kita memang bertujuan untuk terlibat hal seperti itu," balas Naula.


Kami sudah melewati banyak pertempuran seolah berdiri di medan perang bukanlah hal yang aneh.


"Berani sekali mereka menyerang wilayah naga, akan kutunjukan kekuatan dari naga kuno sesungguhnya, aku akan membuat mereka menjadi abu nanti."


Amber ternyata bisa marah juga.


Untuk sekarang mari olah ikan yang kutangkap dan lanjutkan perjalanan setelahnya.


Baru terbang beberapa saat kami harus berhenti saat melihat sebuah desa yang dikerumuni oleh slime, di antara mereka pria-pria yang sebelumnya kutemui saat memancing di danau tampak bertarung dengan mereka.


"Sial, menjauhlah slime."


Slime itu dipukul dengan sebatang kayu namun memantul hingga kembali ke bentuknya sedia kala dalam sekejap.

__ADS_1


"Memang slime bisa setangguh itu," ucap Amber.


"Aku akan memeriksanya sendiri, kalian tunggu di luar desa saja."


"Oke."


Aku melompat turun ke dekat mereka selagi menggunakan sihir angin untuk menghempaskan mereka.


"Kalian baik-baik saja."


"Terima kasih anak muda, sepertinya situasi di desa ini kacau sekali."


Para slime tampak melompat-lompat, terkadang mereka mengejar orang-orang untuk melahap pakaian mereka.


"Ada apa dengan monster kecil ini?"


Mungkin karena jarang ada perburuan jumlah slime terus saja meningkat tanpa terkendali, syukurlah di kota Antares aku masih suka memburu mereka secara rutin.


"Provokasi."


Seketika para slime berhenti bergerak lalu melompat ke arahku, kugunakan skill Tamer untuk berbicara dengan mereka.


"Manusia, manusia, mereka terlihat enak."


"Yaataa, mari makan, makan, pria itu pasti enak sekali."


"Bukannya kalian..."


"Manusia pasti lezat."

__ADS_1


Slime ini sudah tak terkendali walaupun sangat mustahil slime bisa memakan manusia.


Aku berlari hingga dari setiap sudut mereka bermunculan lalu mengejarku, yang paling penting aku harus menjauh dulu dari desa agar sihirku juga tidak terkena pada manusia.


"Kurasa ini sudah cukup."


Aku mengarahkan tanganku bersiap untuk menggunakan Hell of the Abyss yang mana menyapu seluruh monster dengan gelombang api.


Semua slime ini tahan api.


"Sebagai slime kalian ini keras kepala, apa kalian tidak ingin makan daun?" kataku demikian.


"Daun, daun, daun, daun."


"Lihat di sana ada daun."


"Apa kita makan daun."


"Entahlah, mungkin rasanya enak."


"Enak?"


"Daun, daun, oh ini daun."


"Aku suka daun."


Setelah naga syaraf kini slime sableng yang muncul.


Kurasa dunia ini memang tidak pernah membuatku bosan.

__ADS_1


Ketika aku memikirkan hal itu Slime lebih besar muncul, slime itu berwarna kuning beda jauh dengan kumpulan slime ini yang berwarna biru.


Mungkin aku bisa menyebutnya King Slime.


__ADS_2