Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 173 : Duel Dan Perpisahan


__ADS_3

"Mulai."


Aku dan Lesoria menerjang di waktu bersamaan, pedang kami saling bertubrukan hingga hancur berserakan, orang-orang terdiam sementara wasit yang memperhatikan tidak bisa berkata lagi.


Apa boleh buat kami berinisiatif membawa pedang kami sendiri. Aku menunjukan bilah pedangku dan begitu juga Lesoria.


Sebenarnya ini hanyalah pertarungan tak berguna, siapapun yang menang sama saja, meski begitu kami hanya sedikit pamer dan mencoba menghancurkan tempat ini.


Kami berdua kembali membenturkan pedang kami menciptakan hembusan tornado, semua penonton tampak menutupi wajah mereka agar debu tidak masuk ke dalam mata mereka namun acara sesungguhnya adalah sekarang.


Selagi pedang kami tertahan satu sama lain Lesoria berkata.


"Apa kita benar-benar akan melakukannya?"


"Aku ingin menunjukan pada mereka semua bahwa guru memang pantas mengajari kita."


"Baiklah, jika kau sesirius ini, aku tidak akan mengatakan apapun lagi... lagipula kita punya uang untuk mengganti rugi atas bangunan ini."


Kami melompat ke belakang menjaga jarak kemudian menancapkan pedang kami di tanah.


Nona Heliet tampak bersemangat, dia sudah menyadari apa yang akan kami lakukan meski begitu dia tidak memperdulikannya, di sisi lain Nona Vermilion maupun Nona Serena tampak lebih terlihat panik apalagi saat sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di bawah kaki kami hingga sesuatu keluar dari sana.


Itu adalah Roh Agung Api dan Air.


Semua orang terbelalak terkejut.


"Knight mode."


Kedua roh agung membentuk dirinya menjadi zirah baju besi yang menutupi kami berdua kemudian kami kembali menerjang kembali.


"Lesoria Floresta."


"Jeanne d'Arc."

__ADS_1


Tepat saat pedang kami bertabrakan.


"Bam'


Seluruh arena maupun tempat penonton hancur berkeping-keping, semua orang di terbangkan ke udara hingga sosok mereka menghilang kecuali reruntuhan di sekitar kami, guruku yang sudah melayang dengan sapu terbang ke bawah untuk menemui kami berdua.


Ia bertepuk tangan dengan senang.


"Hebat, hebat, kalian benar-benar hebat.. aku bangga pada kalian berdua."


"Apa guru akan pergi sekarang?"


"Kurasa sudah waktunya."


Nona Heliet memeluk kami berdua.


"Jika kalian berdua ingin pergi ke benua Utara aku mengizinkannya, hanya saja kalian harus menunggu empat tahun lagi."


"Empat tahun lagi?"


Aku maupun Lesoria mengangguk mengiyakan, bagaimanapun entah Raja Para Monster atau Kekaisaran Eden, keduanya adalah musuh kami.


"Kalau begitu sampai nanti, aku sudah menitipkan kalian pada Serena jika ada sesuatu kalian bisa meminta bantuannya, dadah."


Kami berdua hanya melihat kepergian guruku dari kejauhan. Sosoknya yang ceria adalah sesuatu hal istimewa darinya.


Nona Heliet membuat lingkaran sihir di atas kepala kami berdua dan dari sana kelopak bunga indah berjatuhan.


Harusnya kamilah yang melakukannya untuk mengantarkan kepergiannya.


Semenjak pertarungan aku dan Lesoria yang ada sekarang adalah nona Serena memarahi kami.


Saat kami berdua meletakan uang di ats mejanya, matanya bersinar.

__ADS_1


"Ara, kalian cepat mengerti."


Aku tidak tahu harus mengatakan apa dengan sosoknya ini, tapi kurasa dia orang yang baik, dia berdiri lalu melebarkan kedua tangannya.


"Selamat datang di pasukan Kesatria Suci kerajaan Elysium, mulai sekarang kalian resmi menjadi bagian dari kami."


Sebuah ketukan memotong pernyataannya.


"Masuk."


Yang muncul dari balik pintu yang terbuka itu adalah Nona Vermilion, dia berjalan melewati kami berdua lalu mengebrak meja.


"Apa-apaan ini semua?" teriaknya.


"Apa ada yang salah?"


"Tentu saja salah, harusnya salah satu dari mereka bergabung dengan timku."


"Ara, tapi nona Heliet menitipkan keduanya padaku.. dia juga bilang jangan sampai kesatria kerajaan merebutnya."


"Apa? Ini tidak adil."


"Kau sudah memiliki Vivia legal, apa itu tidak cukup? Sekarang biarkan mereka berdua bergabung denganku."


Nona Vermilion mengerenyitkan alisnya sebelum berbalik.


"Aku pergi, maaf atas keributannya."


"Jangan khawatir soal itu."


"Jika kalian berdua memutuskan untuk keluar jangan ragu untuk pindah ke pasukanku."


"Ara... itu tidak akan terjadi hohoh."

__ADS_1


Sebenarnya ini adalah permintaan kami berdua, syukurlah guru kami tidak mengatakannya.


__ADS_2