Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 26 : Wanita Berambut Twintail


__ADS_3

"Lalu apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Richard selagi mengacungkan pedangnya.


"Tujuanku haha, sama seperti para Oracle lain, aku juga ingin mencari wadah bagi Dewi Ariesta... dengan begitu beliau akan kembali terlahir di dunia ini Yoooiii."


Sekali lagi Dominic menari-nari dengan gerakan aneh.


"Era peperangan sesungguhnya akan dimulai, naga, manusia, iblis, dan juga dewa-dewi jahat, inilah dunia inginkan, sebuah pertarungan yang menentukan semuanya haha."


Dominic menyentuh kepalanya lalu melanjutkan.


"Bahkan kalian berdua tidak akan bisa menghentikan semuanya, karena urusanku sudah selesai di sini.. sampai jumpa lagi."


Saat aku dan Richard hendak mengejarnya sesosok raksasa mirip kingkong dengan dua tanduk di kepalanya jatuh di depan kami berdua, dari sekelilingnya petir menyebar tak terkendali membuat bangunan di sekitarnya hancur, menciptakan debu yang menghalangi para pasukan Dominic.


"Adios," teriaknya tersenyum lebar.


Richard dan aku pada akhirnya harus melawan sosok di depan kami berdua, kingkong itu mengambil beberapa bangunan dengan mudahnya lalu melemparkannya pada kami berdua seolah itu sangat ringan.


Aku menarik Richard kemudian melemparkannya ke atas sementara aku berguling ke samping.


Aku menggunakan sihir lalu menciptakan deretan tanah menyerupai pijakan yang mana dari satu pijakan ke pijakan lain berbeda ketinggian, Richard yang mengetahui maksudku mendaratkan kakinya lalu melompat beberapa kali ke pijakan paling tinggi kemudian meluncur tempat di atas kepala kingkong.


Dibarengi teriakannya dia menebaskan pedangnya dari atas ke bawah, sang kingkong menahannya dan itu memotong tangannya sedangkan tangan lain mencengkeram Richard kemudian melemparkannya menembus deretan bangunan di samping sebelum akhirnya menghasilkan ledakan kecil.


Kingkong itu memang kehilangan tangannya kendati demikian tidak membuatnya menyerah, berkat Richard yang sedikit mengulur waktu aku telah menciptakan rentetan tombak angin yang kulepaskan tanpa jeda.

__ADS_1


Setiap tombak menembus dengan baik dan.


Brak.


Tubuhnya rubuh ke samping selanjutnya berubah menjadi kristal.


"Richard?"


Aku bergegas melihat keadaannya, walau sempat tertindih bangunan dia masih hidup.


"Akan kugunakan sihir penyembuh."


"Aksa, sebenarnya kau siapa? Aku baru melihat seseorang menggunakan sihir tanpa rapalan."


Aku balik bertanya.


"Tentu, dia seorang penyihir jenius... terakhir kali aku bertemunya saat masih kecil."


"Dia guruku."


"Jadi begitu."


"Tahan sedikit, tanganmu terkilir."


Aku membetulkannya dan itu menghasilkan suara bemeretak.

__ADS_1


"Ugh."


"Kini kau baik-baik saja."


Richard tersenyum lalu menerima tanganku yang kusodorkan padanya.


"Apa semua kesatria itu berani menantang kematian seperti barusan?"


"Sepertinya para kesatria bangsawan lebih mementingkan hidupnya dibanding mempertaruhkan nyawanya."


"Aku yakin seperti itu."


Kami berdua hanya tertawa bersama, dengan ini kesatria akan disibukkan dengan masalah yang terjadi barusan.


Ketika kami berjalan untuk memeriksa keadaan, seorang wanita berambut pirang sedang berdiri di atas tumpukan bangunan, dia mengenakan mantel putih yang ditanggalkan sementara hampir seluruh yang ia kenakan merupakan pakaian kesatria.


Dia meletakkan kedua tangannya untuk menopang kedua dadanya yang besar, sementara rambut yang diikat bergaya twintail itu dibiarkan berkibar tertiup angin.


"Kau masih hidup Richard."


"Komandan Anda di sini?"


"Baru saja tiba, kita benar-benar kecolongan bukan? Aku ingin mendengar laporan kejadian ini nanti."


"Baik."

__ADS_1


Wanita itu kembali menoleh ke arah belakangnya, sebenarnya apa yang dia lihat? Saat aku dan Richard memastikannya mereka adalah para kesatria yang terbunuh secara tragis.


Tubuh-tubuh mereka diputar ke arah sebaliknya.


__ADS_2