Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 183 : Mengalahkan Iblis Ini


__ADS_3

Ayumi menarik dua pedang ke tangannya sementara Edward pun melakukan hal sama dengan satu pedangnya.


"Ayo maju pak tua."


"Jangan memanggilku seperti itu."


Dengan gerakan cepat keduanya melesat di atas bangunan, Ayumi mulai menggunakan tekniknya.


"Aliran pedang pembunuh iblis... tebasan pertama."


BENTRAAAAAAAAAAAAANG!


Bersamaan dentuman yang keras itu, Iblis tersebut menahan tebasan lurus Ayumi dengan keempat pedangnya sekaligus hingga seluruh bangunan di sekelilingnya terpotong-potong ke udara, setelahnya Edward melompat di atas Ayumi lalu mengirim tebasan secara vertikal dari atas ke bawah yang mana menciptakan bilah raksasa terbuat dari bayangan hitam dengan cepat.


Menerima dua serangan besar secara langsung, keempat tangan iblis terdorong ke belakang dengan bunyi memekakkan telinga.


"Nice pak tua."


"Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu."


Ayumi mengambil sisi kiri sedangkan Edward mengambil sisi kanan hingga pedang mereka memotong rapih kedua kakinya secara bersamaan, iblis yang kesal mengirim masing-masing dua tangan untuk menyerang keduanya.


Ayumi menahan dengan satu pedang dengan mudah. Di sisi lain Edward terpental ke belakang menabrak lima rumah sekaligus.


Tepat saat iblis mengirim semua serangan tangannya, Ayumi melompat menghidar. Dia berlari ke belakang iblis untuk mencari titik buta.


Karena ekor ular yang mengganggu dia menebasnya hingga memotong bagian kepalanya dengan baik, sebelum berguling tepat di bawah kakinya ke depan sebelum melompat ke atas saling berhadapan satu sama lain.


Iblis itu melepaskan pedang di satu tangannya untuk mengirim pukulan menghantam tubuh Ayumi secara langsung hingga dia terbang berputar-putar sebelum menabrak bangunan tepat di sebelah Edward.


Dengan santai Ayumi bangkit selagi menepuk-nepuk pakaiannya.


"Kuat sekali."


"Aah, aku bahkan tidak bisa merokok dengan tenang."


"Aku akan sedikit serius sekarang."


"Yang tadi itu cuma main-main, terlebih kau tidak menggunakan sihir."

__ADS_1


"Aku tidak perlu hanya yang disebut sihir itu, sebuah pedang sudah lebih dari cukup."


Kedua mata Ayumi berubah dan sekarang ia akan menggunakan keempat pedangnya.


Dia berdiri di depan Edward yang kebingungan heran, seorang yang tidak membutuhkan sihir adalah sesuatu yang jarang dikatakan orang lain. Bahkan beberapa orang malah merasa frustasi karena tidak memiliki sihir.


Tak tinggal diam iblis itu berlari dengan cepat kemudian terbang ke atas meluncur dengan keempat pedang miliknya.


"Ketika ada kesempatan cepat habisi dia."


"Aku mengerti."


Dua pedang dilempar Ayumi ke atas kemudian dua pedang lagi dia ayunkan secepat kilat atau lebih cepat dari itu.


"Aliran empat pedang kehancuran.... teknik pembunuh keabadian, Hellblade."


Tepat saat Ayumi selesai mengatakan hal itu, dua pedang di tangannya diayunkan hingga mengirim bilah yang mampu membelah angin, keempat tangan iblis tersebut terpotong-potong bersamaan seluruh pedangnya.


Ayumi melemparkan dua pedang yang digunakannya dan mengambil dua pedang yang dilemparkannya, di tebasan kedua dia memotong sayap si iblis hingga dia meluncur di permukaan tanah.


Edward yang sudah siap berjalan beberapa langkah untuk berdiri di depan Ayumi, dia menyiapkan kuda-kudanya lalu menebaskan pedang miliknya selagi berkata.


"Dark Shadow."


Ayumi bisa saja langsung membunuh iblis barusan dengan tebasan keduanya, akan tetapi dia memilih untuk membiarkan kesatria ini mengambil giliran pentingnya terlebih untuk membuat nama kesatria terlihat baik di depan penduduk yang sedang melihat pertarungan ini dari kejauhan.


Dengan santai keempat pedang Ayumi di sarungkan di pinggangnya.


"Kurasa barusan yang terakhir," ucap Ayumi.


Edward baru saja menyadari bahwa penyihir maupun iblis telah menghilang dari kota yang di jaganya bahkan anggota party Ayumi muncul setelahnya.


"Kerja bagus Cardina, Margaret."


"Itu bukan apa-apa."


"Benar sekali."


"Meliana juga... mari pergi."

__ADS_1


"Apa tubuhku akan sedikit kurus karena sering bertarung."


"Itu karena kau suka makan."


"Tunggu sebentar, apa kau memanggilnya Meliana?"


Edward segera menghentikan langkah mereka, alih-alih mengatakan prestasi mereka, ia lebih penasaran dengan itu.


"Apa ada masalah?" tanya Meliana dengan wajah polos.


"Namamu mirip seperti seorang penyihir terkenal di masa lalu."


"Ah, itu memang aku."


"Maksudmu Meliana yang mencetuskan sihir tanpa rapalan dan juga guru dari Vivia legal dan Heliet Ladeosfa."


"Itu benar."


"Anda masih hidup?" teriak Edward terkejut.


"Apa aneh? Muridku sudah hidup ratusan tahun masa aku hidup singkat."


"Ini terasa mustahil."


Mereka berempat akhirnya berjalan kembali meninggalkan Edward yang masih kebingungan lalu berkata.


"Bagaimana soal hadiahnya?"


"Tidak butuh, berikan saja pada penduduk kota ini," kata Ayumi selagi melambaikan tangannya tanpa berbalik.


"Sudah kuduga aku harus diet, dia pasti terkejut karena tubuhku yang bahenol sedikit berubah."


"Yah... dia tidak mengatakan soal itu. Meliana," potong Margaret disusul Cardina.


"Apa kita akan membeli kereta kuda?"


"Sepertinya kami sepakat untuk tidak melakukannya, kenapa harus beli kuda saat kau memiliki naga," balas Meliana dengan ekpresi jahil.


"Ayumi?"

__ADS_1


"Maaf Cardina, katanya tidak ada yang mau merawat kuda tersebut."


"Apa boleh buat, tapi aku tidak akan terlalu lama dalam wujud naga."


__ADS_2