
Malam harinya Nona Heliet mengetuk pintu kamarku dan aku membiarkannya masuk hingga dia melompat untuk menjatuhkanku di atas ranjang.
Sementara dia duduk di atasku aku hanya menghela nafas panjang.
"Hehe malam ini aku akan tidur di sini."
Tentu saja aku akan menolaknya, dibanding siapapun akan berbahaya jika aku membiarkan guruku tinggal di sini semalaman.
Alasan ia datang kemari adalah untuk memberikan topeng yang kuminta padanya.
"Tapi untuk apa Aksa mengenakan topeng lagi mungkinkah kamu ingin membantai satu negara?"
"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku hanya perlu penutup wajah untuk menekan auraku sekaligus menyembunyikan indentitasku di wilayah naga, beberapa naga kehancuran ada yang berhasil lolos juga saat penyerangan ke kota ini."
"Memang benar energi sihir Aksa telah meningkat jauh, aku yakin bahwa kekuatanmu sudah meningkat sangat pesat malah telah melewatiku."
"Mana mungkin, guru tetaplah yang terkuat."
Topeng yang dibuat Nona Heliet hanya polos tanpa corak apapun ataupun lubang, itu seperti saat aku mengenakannya akan terlihat bahwa aku tidak memiliki wajah.
Meski begitu aku bisa melihat menembus topeng ini seolah tak mengenakan apapun.
"Ini bagus, terima kasih... sekarang sudah waktunya guru tidur jadi selamat malam."
Saat aku hendak mengeluarkannya dia memelukku dengan erat. Rambut hitam yang selalu menyembunyikan sebelah matanya tampak bersinar terang.
"Sekarang aku tidak akan menyerah, aku akan mempertahankannya sampai pagi nanti."
Masih ada 13 jam sebelum matahari terbit lagi kurasa aku tidak bisa berbuat apapun sampai saat itu tiba.
__ADS_1
Pagi berikutnya Amber dalam bentuk naganya mengantar kami pergi ke wilayah naga, menembus beberapa awan putih di langit kami bisa melihat danau di bawah kami.
Liz dan Naula tampak menaruh minat terhadapnya.
"Aksa?"
"Kita dalam perjalanan, kita tidak seharusnya berhenti."
Mereka mengembungkan pipinya.
"Bagaimana kakak sayang, aku tidak keberatan jika kita mampir sebentar untuk beristirahat."
"Apa Malifana tidak keberatan?" aku mengalihkan pertanyaan itu padanya.
"Tentu saja tidak, sepertinya tempatnya sangat tenang."
"Baiklah, Amber bawa kami turun."
Kami mendarat di pinggir danau, kecuali aku mereka semua menyemburkan diri ke air hingga aku dapat omelan dari beberapa pria tua yang sedang memancing.
"Apa yang kalian lakukan? Kami sedang mencari nafkah di sini?"
Aku jelas harus minta maaf dan meminta mereka bermain air sedikit jauh.
"Itu lebih baik, anak muda kau suka memancing bagaimana jika kau mencobanya."
"Kurasa tidak masalah."
Aku menciptakan pancingku sendiri tanpa kesusahan, aku sudah mengenakan topeng tapi mereka semua tidak ada menaruh kecurigaan padaku. Sebaliknya, mereka orang-orang yang ramah.
__ADS_1
Aku diberi umpan berupa ulat untuk memancing sebelum melemparkan kailnya sejauh mungkin lalu menunggu.
Jika mengalihkan pandanganku sedikit jauh aku bisa melihat sebuah desa damai di kaki bukit.
"Kalian semua mencari nafkah dengan memancing?"
"Ah iya, kami tidak memiliki sumber daya untuk dijual kecuali ikan di sini syukurlah bahwa ikannya tidak pernah habis."
"Begitukah, tapi bukannya kalian bisa menanam sayuran atau buah-buahan, itu jauh lebih baik."
Salah satu pria yang baru mendapatkan ikan besar mengayunkan tangannya.
"Mustahil, di sekitar desa kami banyak slime yang berkeliaran... jika kami menanamnya, itu hanya akan menarik mereka untuk memakannya."
Aku ingat sesuatu tentang slime, sebelumnya aku pernah ingin menjinakkannya akan tetapi itu hanya menjadi sia-sia saja.
Aku memunculkan smartphone dari sihir penyimpananku.
"Owh... apa itu yang disebut sihir? Kau penyihir anak muda?"
"Iya, cuma sihir biasa."
Aku menekan layar ponselku dan memeriksa peta sekitar.
Bisa kulihat titik-titik biru di ponselku yang merupakan slime.
"Bukannya mereka terlalu banyak, jumlahnya ada sekitar 1000 slime."
"Kau bisa mengetahuinya dengan hanya benda kecil itu, penyihir memang beda.. ngomong-ngomong pancinganmu ditarik sesuatu."
__ADS_1
"Uwah."
Aku menariknya dan seekor ikan seberat 20 kg berhasil tertangkap.