Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 247 : Pertempuran Di Ibukota Animalia Bagian Akhir


__ADS_3

Lupin tertawa sebelum menambahkan suaranya dengan perkataan arogan.


"Sebanyak apapun sampah berkumpul, kalian semua tidak akan mampu mengalahkanku, rasakanlah bagaimana keputusasaan itu."


Semua orang mengalihkan perhatian ke arahku, mau tak mau aku memang menjadi pemimpin di sini.


"Mari kita serang dengan apapun yang kita miliki terutama sihir."


Semua orang mengangguk mengiyakan dan lalu melesat secara bersamaan.


Liz dengan sihir esnya.


Naula dan Lola berbagi sihir angin yang sama


Alyssa dengan sihir api dan aku dengan semua yang kupunya.


"Trinity of the Flores."


Es mengurung seluruh tubuh Lupin dalam sekejap. Namun, itu hanya sesaat sebelum hancur berserakan.


Di saat kami menghindari seluruh tentakel yang menyerang, kami juga terus menggunakan sihir.


"Flame Burning."


"Ice Freezer."


Api dan Es menyerang dari arah berlawanan membuat sosok Lupin berada di tengahnya. Di saat Alyssa dan Liz mempertahankan sihirnya, sihir Malifana datang mendukung.


[Divine Protection] dan [Blessing] miliknya membuat kami berada di batas maksimal.


Aku mengulurkan tanganku saat semua orang berhasil dilemparkan menjauh, setia mulut dari tubuhnya mampu memakan jenis sihir apapun secara rakus.


"Lapar, lapar."


Jika kalian lapar maka ambil ini. Kugunakan "Hell of the Abyss," selama lima kali. Ketika masih belum cukup kutambahkan secara terus menerus.


"Sudah kukatakan sihir seperti itu tidak akan berguna terhadapku, itu hanya sia-sia."


Sihir yang dimakan hanya membuat Lupin semakin besar dan kuat.


Selanjutnya.


Tubuhku dihantam sebuah tentakel membuatku terbang menukik jatuh, di saat yang sama seluruh anggota partyku berakhir sama.


Ini bukan jenis tentakel yang melecehkan wanita, mereka jenis yang akan membunuhmu dan mengoyak tubuhmu dengan mulut mengerikan.


"Kikikikiki."


"Bunuh, bunuh, bunuh, bunuh, bunuh."


Seiring waktu suara itu sangat mengganggu.

__ADS_1


"Ini tidak berhasil Aksa, dia malah semakin kuat."


"Kita sudah mengerahkan seluruh sihir dan sekarang semuanya tergantung denganmu," atas pernyataanku wajah Malifana tampak kebingungan terlebih hanya kami berdua yang masih berdiri di saat semua orang masih bertarung di garis depan.


"Apa maksudmu?"


Berbagai sihir terkumpul ditubuh itu, hanya dengan satu sihir besar lagi maka itu akan selesai.


"Pegang tanganku."


Walau sempat ragu Malifana melakukan hal yang kuminta, saat itu jendela menu muncul di depanku.


"Monster yang kita hadapi dapat menyerap berbagai sihir, walau tidak terlihat namun sebenarnya tubuh itu telah mencapai batasnya, dengan sihir sucimu kau bisa mengakhiri semuanya."


"Kenapa aku yang harus melakukannya?"


"Ini demi kerajaan ini."


Saat Malifana mengikuti pandanganku dia melihat bahwa semua orang telah melihatnya, penduduk, penjaga bahkan setiap kepala yang tidak dikenalnya.


Aku melanjutkan.


"Selama ini mereka berpikir bahwa kerajaan ini telah jatuh dalam kegelapan, pajak yang tidak masuk akal, kejahatan yang dilakukan para penjaga, narapidana yang kabur, serta korupsi para bangsawan, ketika mereka melihat bahwa putri kerajaan menghancurkan kejahatan tersebut, maka mereka akan kembali mempercayaimu dan menaruh banyak harapan masa depan yang lebih baik padamu."


"Aksa ingin menjadikanku pahlawan."


"Itu adalah cara terbaik, maka dari itu tolong lakukan."


"Terima kasih banyak."


Aku menggunakan skill untuk mengirim seluruh mana yang tersisa pada Malifana sebelum memberikan pedang padanya.


"Gunakan ini, kau pasti bisa melakukannya."


"Baik."


Malifana berdiri saat aku melepaskan tangannya, dia menatap kedua orang tuanya sebelum mengangguk.


Ketika semua orang terlempar kembali, Malifana menerobos masuk dengan sebuah rapalan khusus miliknya.


"Namaku Malifana Ernolia, sebagai putri dari kerajaan ini aku akan melindungi semua orang dan menghancurkan seluruh kejahatan. Sihir suci.... Holy Light."


Semua orang memberikan perhatian lebih padanya, terlebih saat sihir besar ditembakan dari satu tangannya.


"Apa?"


Lupin terkejut ketika tubuh monsternya mulai berubah jadi batu dengan cepat, dari dalam sana cahaya mirip pedang bermunculan dan menghancurkannya bagaikan puing-puing reruntuhan.


Saat tubuh Lupin jatuh ke bawah sebuah pedang telah menancap di jantung miliknya lewat pedang di tangan Malifana.


"Mu-mustahil, aku kalah."

__ADS_1


Tubuh Lupin tumbang ke samping lalu berubah menjadi debu, di saat yang sama Malifana mengangkat pedangnya lalu berteriak yang disambut sorak-sorai kegembiraan.


"Kita menang."


Ini mengakhiri pertarungan panjang kami. Aku bisa melihat matahari telah berubah menjadi kejinggaan.


Tanpa peringatan Liz melompat ke arahku hingga dia berada di atasku.


"Syukurlah Aksa selamat, syukurlah."


"Aku tidak apa-apa."


Naula dan Alyssa juga mendekat bersama Lola yang berubah menjadi bentuk sebelumnya.


"Kerja bagus kalian semua, Naula kau terlihat terluka."


"Lola telah menyelamatkanku, kalau dia tidak ada aku mungkin.."


"Terima kasih Lola."


"Aku memang hebat jadi terus andalkan aku."


Aku tersenyum pahit kearahnya.


"Dan Alyssa juga sangat hebat."


"Fufu."


Dia hanya tersenyum lebar dengan bangga.


Liz menatapku dengan mata bersinar.


"Ini kesempatan, Aksa sedang lemah mari lakukan yang enak-enak."


"Tunggu Liz, kau tidak boleh melakukan itu di depan umum."


"Jika mau kau juga boleh ikut Naula."


"Dengan senang hati."


Aku memanggil Neko dan ia menghentikan keduanya.


Mereka masih saja bisa mengambil kesempatan saat seperti ini.


"Lepaskan aku kucing nakal."


"Aku akan memberikanmu makanan."


"Tuanku hanya tuan Aksa saja."


Aku bangun dan melihat Malifana yang berada bersama orang tuanya.

__ADS_1


Aku senang bahwa semuanya telah selesai.


__ADS_2