Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 252 : Tempat Pelelangan Budak


__ADS_3

Aku dan Liz menyamar dengan menyembunyikan wajah kami menggunakan topeng penutup mata untuk memasuki tempat pelelangan budak.


Tempat ini sangat dijaga ketat oleh para penjaga berwajah sangar bahkan ketika aku mengatakan aku seorang pedagang ternama mereka masih sedikit mencurigaiku.


"Aah, tuan... aku ingin berbuat nakal sekarang, tolong kita pergi ke tempat lain."


Liz memerankan perannya yang tidak jauh dengan kepribadiannya sehari-hari.


"Maaf dia budakku, dia sedikit... kau tahu, gemar melakukan hal itu."


Aku memasukan lenganku ke dalam mulut Liz, dan dia melakukan hal tidak patut di sini.


"Sepertinya kau dapat dipercaya, kalian boleh masuk."


"Barusan cukup menyenangkan."


Aku mendesah pelan lalu menarik pelan Liz ke dinding agar tidak dilihat oleh peserta lainnya, aku mengeluarkan earphone untuk kuletakkan di telingaku.


"Kau bisa mendengarku dengan jelas Naula?"


"Roger, aku sudah mengawasi semuanya dengan seksama.. hanya menunggu sampai situasi tak terkendali aku siap menembak."


"Bagaimana Aksa?" tanya Liz.


"Semuanya sudah siap, menurut informasi hanya ada 10 budak yang akan dijual di lelang ini, mereka semua berkualitas baik yang sering diperebutkan oleh para bangsawan."


"Ini pasti sangat sulit, ngomong-ngomong apa kita bisa melakukan hal tadi lagi."


"Ogah."


Liz dan aku mulai masuk ke aula tengah yang dijadikan lokasi sesungguhnya dari acara ini, jika dibilang semua ini mirip seperti sebuah pesta.


Makanan dan minuman ditaruh bergaya prasmanan, setiap perabotan terkesan mahal yang sama sekali tidak mencerminkan sesuatu seperti bisnis ilegal.


Aku melihat beberapa pelayan yang menggunakan pakaian sexy di antara kurumunan banyak orang.

__ADS_1


Beberapa pelanggan juga melakukan tindakan tidak terpuji di sini. Suara Naula masuk ke telingaku.


"Pasukan Malifana telah bersiap di sekitar bangunan, siapapun yang berada di sana akan langsung di tangkap."


"Lanjutkan dan tetap bersiaga."


"Roger."


Liz mengaitkan lengannya lebih erat untuk memberikan tanda bahwa seseorang mendekat.


"Owh, kita kedatangan tamu baru... apa di sebelahmu juga seorang budak?"


"Benar sekali, dia budak terbaik yang kumiliki."


Aku melirik ke arah pria berambut pirang yang berjalan bersama wanita berambut sama. Kelihatannya mereka sedikit memiliki hubungan yang sama yang sedang kuperankan.


Aku tidak tertarik dengan namanya karena itu mari sebut si pria pirang dan wanita pirang juga.


Dia melanjutkan.


"Hari ini ada elf yang dilelang karena itu tempat ini begitu ramai dari sebelumnya."


"Tentu, aku butuh budak kelas atas untuk menghilangkan stress... mereka sangat memuaskan saat kau mencobanya untuk pertama kali."


Orang ini sampah.


Naula menjelaskan.


"Kami sudah memeriksa rumahnya, semua budak yang dipenjara telah dilepaskan dan juga ada beberapa yang mati karena terlalu lama disiksa, apa aku bisa menembaknya dari sini?"


"Tentu, lakukan nanti."


"Laksanakan."


"Apa kau mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak juga, namun ngomong-ngomong anda punya bodyguard yang menawan."


"Itu benar, dia sangat ahli beladiri dan juga mantan kesatria... apa kau tertarik?"


"Apa kau ingin menjualnya?"


"Aku sudah melakukan banyak hubungan dengannya, aku sudah bosan akan lebih baik jika dia bisa menghasilkan uang untuk menambahkan pemasukan demi pelelangan ini."


"Berapa yang kau tawarkan?"


"Lima ratus koin emas."


"Aku akan membelinya... karena masih ada waktu aku ingin mencobanya dulu."


"Silahkan saja kalau kau ingin membayarnya sekarang, tapi aku akan membuka segel budaknya.. apa kau bisa membuat segelnya sendiri?"


"Tentu, aku akan melakukannya saat menidurinya."


"Baiklah."


Aku mengeluarkan sekantong koin emas yang diberikan padanya. Saat wanita pirang itu sedikit membuka kancing bajunya, tepat di dadanya ada tanda lingkaran sihir yang perlahan menghilang seutuhnya.


Tak hanya sebagai sihir pengikat, tanda ini akan otomatis mengendalikan budak untuk melindungi tuannya.


Walau aku menembak pria ini sekarang tubuh budak ini akan bergerak sendiri untuk menghalanginya.


"Kalau begitu aku izin sebentar."


"Selamat bersenang-senang."


Kami bertiga masuk ke dalam ruangan kamar kosong.


Wanita asing yang baru kubeli tersenyum senang.


"Sungguh... ini lelucon yang manarik, apa kalian ingin menghancurkan organisasi ini, jika jawabannya benar aku ikut."

__ADS_1


"Sudah seharusnya, uang yang kugunakan anggap saja sebagai uang bayaran untukmu."


"Dingin sekali, tapi aku tidak membencimu"


__ADS_2